1506082058361-1

Seorang wanita berkata: “Dahulu, aku rajin berpuasa dan shalat malam. Aku pun mendapatkan kelezatan ketika membaca Al-Qur’an. Tapi, sekarang aku kehilangan manisnya ketaatan yang biasa aku lakukan.”

Wanita itu pun bertanya kepada seorang Syaikh. Ia pun berkata: “Wahai Syaikh, sebelum aku menikah, aku adalah seorang yang rajin melaksanakan puasa dan shalat malam, aku pun mendapatkan kelezatan ketika membaca Al-Qur’an. Sekarang aku kehilangan manisnya hal-hal tersebut.”

Syaikh itu pun menjawab: “Baiklah, sekarang aku ingin bertanya: Bagaimana perhatianmu terhadap suamimu?”

Wanita tadi menjawab: “Wahai Syaikh, aku bertanya kepadamu tentang membaca Al-Qur’an, puasa, shalat, dan manisnya ketaatan, sedangkan engkau bertanya perihal suamiku?”

Syaikh menjawab: “Baiklah wahai ukhti. Masalahnya adalah, kenapa sebagian wanita tidak mendapatkan manisnya iman, kelezatan melaksanakan ketaatan, dan pengaruh dari ibadah yang dia lakukan?
Dengarkanlah sebabnya!”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺠِﺪُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺣَﻠَﺎﻭَﺓَ ﺍﻟْﺈِﻳْﻤَﺎﻥِ ﺣَﺘَّﻰ ﺗُﺆَﺩِّﻱ ﺣَﻖَّ ﺯَﻭْﺟِﻬَﺎ

“Tidaklah seorang wanita mendapatkan manisnya iman sampai ia melaksanakan hak-hak suaminya.” (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 1939)

(Via: @s.auliyaa – @dakwahmuslimahid)

Advertisements

Apakah di Surga Bisa Punya Anak Lagi?

Posted: 22 September 2017 in SURGA

Screenshot_2017-09-21-10-14-28-1-1

Terdapat hadits yang dishahihkan oleh sebagian ulama memgenai “Jika seseorang ingin anak di surga, maka lahir dan tumbuh dalam sesaat”.

Terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai hal ini:
1. Yang mengatakan bisa punya anak ‘membawa dalil bahwa di surga kita bisa minta apa saja’
2. Yang tidak setuju ‘berpendapat bahwa pendalilnya yang tidak shahih’

Pendapat terkuat dan pertengahan:
Memang di surga kita bisa minta apa saja sesuai keinginan (tentu keinginan yang baik), tetapi PENDUDUK SURGA TIDAK PUNYA KEINGINAN PUNYA ANAK.
______________________________________________

Terdapat hadits yang dzahir menunjukkan bahwa jika kita menginginkan anak di surga, maka kita bisa mendapatkannya. Hadits tersebut adalah: “Seorang mukmin jika menginginkan anak di surga, maka kehamilannya, kelahirannya dan pertumbuhannya dalam sesaat sebagaimana yang ia inginkan.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah di shahihkan oleh Al-Albani dalam shahihul jaami’ no. 6649)

Syaikh Muhammad Abdurrahman Al-Mubarakfury rahimahullah menjelaskan hadits:
“Lafadz “hamil” maksudnya mengandung anak, lafadz “kelahiran dan pertumbuhannya” maksudnya sempurna umurnya yaitu 30 tahun, lafadz “sebagaimana yang ia inginkan” maksudnya sesuai keinginannya, anak laki-laki atau perempuan dan semisalnya.”

“Terdapat khilaf ulama”

Dalam hal ini terdapat khilaf ulama, sebagian ulama mengatakan bahwa penghuni surga akan mendapatkan anak jika ia inginkan karena penghuni surga mendapatkan apapun yang mereka inginkan.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (Q.S Az-Zukhruf: 71)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (Q.S Qof: 35)

(Oleh: dr Raehanul Bahraen – @indonesiabertauhidofficial)

Gallery  —  Posted: 12 September 2017 in SURGA

Gallery  —  Posted: 12 September 2017 in SURGA

Gallery  —  Posted: 3 September 2017 in Sifat-sifat Buruk

HARI-HARI MAKAN DAN MINUM

Posted: 2 September 2017 in Iedul Adha

Screenshot_2017-09-01-20-40-40-1-1

Saudara-saudaraku, kita sekarang berada pada hari-hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah. red), hari-hari yang kita dilarang berpuasa, dan dianjurkan untuk makan dan minum serta banyak berdzikir dan mengingat Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa Idul Adha dan hari tasyriq adalah hari kaum muslimin untuk menikmati makanan.
Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Hari-hari tasyriq adalah hari menikmati makanan dan minuman.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda:
“Hari Mina (hari tasyriq) adalah hari menikmati makanan dan minuman.” (HR. Muslim)

Yang dimaksud hari Mina adalah ayyam ma’dudaat, Allah Ta’ala berfirman:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَات

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al-Baqarah:203)

Dan hari-hari makan dan minum bukan berarti kita makan dan minum tanpa batas, atau berlebih-lebihan, karena sifat berlebih-lebihan itu tidakah baik dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Namun ikutilah rambu-rambu Al-Qur’an tentang makan dan minum, Allah Ta’ala berfirman:

وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-A`raaf:31)

(Sumber: bbg-alilmu.com – @alhikmahjkt)

Allah Ta’ala berfirman, “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.
Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a: “Robbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” (QS. Al Baqarah: 200-201)

Dari ayat ini kebanyakan ulama salaf menganjurkan membaca do’a “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” di hari-hari tasyriq.

Do’a sapu jagad ini terkumpul di dalamnya seluruh kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam paling sering membaca do’a sapu jagad ini.

Anas bin Malik mengatakan:

كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Allahumma Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Wahai Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” (HR. Bukhari no. 2389 dan Muslim no. 2690)

Di dalam do’a telah terkumpul kebaikan di dunia dan akhirat.
Al Hasan Al Bashri  mengatakan:
“Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Kebaikan di akhirat adalah surga.”

Sufyan Ats Tsauri mengatakan:
“Kebaikan di dunia adalah ilmu dan rizki yang thoyib. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah surga.”

(Via: @rumayshocom)