screenshot_2018-05-12-16-15-37-1-1598507418.png

Menjelang tibanya ramadhan, ada satu tradisi yang menjadi kebiasaan dari umat muslim di Indonesia, yaitu tradisi maaf-memaafkan.

Dalam islam, urgensi untuk saling memaafkan tentunya sangat tinggi dan mulia. Namun yang perlu menjadi catatan adalah, jika kita mempunyai kesalahan atau kedzaliman terhadap rekan kita segera meminta maaf tanpa harus menunggu waktu tertentu.

من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه

“Orang yang pernah menzhalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari dimana tidak ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezhalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi.” (HR. Bukhari no. 2449)

Bermaaf-maafan menjelang ramadhan tentunya adalah hal yang baik untuk memanfaatkan momen, namun jangan jadikan anggapan bahwa setiap momen ramadhan kita yakini sebagai syariat untuk bermaaf-maafan.

(Via: @indonesiatauhid)

Advertisements

ADAB DALAM BERDO’A

Posted: 9 May 2018 in Do'a-do'a

screenshot_2018-04-27-06-47-46-1-2029297690.png

Sesungguhnya Allah selalu mengabulkan do’a. Sebagaimana firman-Nya:

“Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Aku akan perkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)

Rasulullah juga bersabda:

“Do’a itu adalah ibadah, karena Rabb kalian telah berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan’.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, dan Ibnu Majjah)

Hadits lain, Nabi Muhammad bersabda:

“Sesungguhnya Rabb kalian adalah Dzat yang Maha Pemalu lagi Maha Dermawan, Dia malu kepada hamba-hamba-Nya, tatkala hamba-Nya mengangkat kedua tangannya berdo’a kepada-Nya, lalu Dia mengembalikan kedua tangannya itu dalam keadaan kosong.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hajar)

Dalil-dalil diatas menunjukkan keutamaan do’a dan betapa Allah sangat penyayang karena mengabulkan setiap do’a hamba-Nya. Jika seorang muslim berdo’a dan tak juga mendapat jawaban, maka koreksi dahulu bagaimana adabnya dalam memanjatkan do’a. Jika meminta permohonan pada atasan saja memerlukan sopan santun, tentu kepada Allah haruslah jauh lebih dari itu.

Berikut 24 adab berdo’a dan sebab terkabulnya do’a berdasarkan kitab Adz Dzikr wa Ad Du’aa min Al Kitab wa As Sunnah karya Syekh Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani.

(1) Ikhlas karena Allah.

Do’a adalah ibadah, dan ibadah haruslah diniatkan hanya karena Allah Ta’ala.

(2) Memulai do’a dengan memuji Allah, kemudian diiringi dengan shalawat kepada nabi. Demikian pula saat menutupnya. Do’a ditutup dengan memuji-Nya dan bershalawat atas nabi.

(3) Bersungguh-sungguh di dalam berdo’a dan yakin bahwa Allah pasti mengabulkan setiap do’a.

(4) Merengek ketika berdo’a dan tidak memiliki keinginan untuk dipercepat agar doanya segera dikabulkan.

(5) Hati berkonsentrasi penuh saat berdoa.

(6) Berdoa ketika dalam keadaan lapang dan sempit. Bukan hanya berdoa di kala susah saja.

(7) Tidak berdoa kecuali hanya kepada Allah.

(8) Tidak berdoa kejelekan untuk keluarga, harta, anak, dan jiwa.

(9) Merendahkan suara ketika berdoa.

(10) Introspeksi diri terhadap dosa-dosa dan meminta ampun dari perbuatan dosa tersebut. Serta mengakui nikmat yang diberikan Allah dan bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat tersebut.

(11) Tidak memberatkan diri dalam merangkai kata (bersajak) pada doa.

(12) Merendahkan diri, khusyu dan berharap cemas kepada Allah.

(13) Menolak kedzaliman disertai taubat nashuha.

(14) Mengulang doa tiga kali.

(15) Menghadap kiblat saat berdoa.

(16) Mengangkat kedua tangan saat berdoa.

(17) Tanpa memberatkan, hendaknya berwudhu sebelum memanjatkan doa.

(18) Tidak berlebihan dalam berdoa.

(19) Mendahulukan dirinya sendiri sebelum berdoa untuk orang lain.

(20) Bertawasul atau berdoa dengan perantara, dengan menggunakan Asmaul Husna dan sifat-sifat Allah yang Maha Tinggi, atau dengan amal shaleh yang dilakukannya. Atau dapat pula bertawasul dengan doa orang shaleh yang masih hidup dan ia berjumpa dengannya (didoakan orang shaleh yang dikenal dan masih hidup).

(21) Hanya menyantap makanan dan minuman, serta memakai pakaian yang halal.

(22) Tidak berdoa atau meminta sesuatu yang mengandung dosa dan memutus tali silaturahim.

(23) Melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, memerintahkan yang haq dan melarang hal munkar.

(24) Menjauhi segala perbuatan maksiat.

Itulah adab-adab yang hendaknya dilakukan muslimin saat berdoa, dan yakinlah bahwa Allah akan selalu mengabulkan doa. Satu hal lain yang perlu diketahui ialah, Allah mengabulkan doa dengan tiga cara. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah yang mulia.

Beliau shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa, yang di dalamnya tidak terdapat dosa, tidak pula terdapat memutus tali silaturahim, kecuali pasti Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara; doanya dipercepat terkabul di dunia, atau Allah menyimpan doa itu untuknya di akhirat, atau Allah akan memalingkan kejelekan darinya.”

Para shahabat lalu berkata, “Kalau begitu kita akan memperbanyaknya.” Rasulullah lalu bersabda, “Allah akan memperbanyaknya.” (HR. At Tirmidzi dan Ahmad).

(Sumber: http://www.muslimahdaily.com)

○~○~○~○~○~○~○~○~○~○~○~○~○~○~○~○~○~○~○~○~○~○

“Apabila salah seorang dari kalian berdoa maka hendaklah memulai dengan memuji Allah dan memuja-Nya, lalu hendaknya membaca salawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian setelah itu dia boleh berdoa tentang apa pun yang diinginkannya.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi; riwayat dari Fadhalah bin Ubaid; dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani)

Sesungguhnya doa itu terhenti antara langit dan bumi, tiada naik barang sedikit pun darinya, sehingga engkau bershalawat kepada nabimu.” (HR. Tirmidzi)

Dari Fadhalah bin Ubaid ra, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang berdoa sewaktu shalat, di mana ia tidak mengagungkan nama Allah Ta’ala dan tidak membaca shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda, “Orang ini tergesa-gesa.” Beliau lantas memanggilnya dan bersabda kepadanya atau juga kepada yang lain, “Apabila salah seorang di antara kalian berdoa, maka hendaklah ia memulainya dengan memuji dan menyanjung Tuhannya Yang Maha Suci, kemudian membaca shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesudah itu barulah ia berdoa sekehendaknya.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan”.)

Abu Hurairah ra mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan pujian kepada Allah, ia akan terputus.” (HR al-Baihaqi)

Anas bin Malik ra meriwayatkan, “Tiada satu doa pun melainkan ada hijab antara doa itu dengan langit sebelum pelakunya bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila ia telah bershalawat kepada beliau, hijab itu akan robek dan doa pun akan masuk. Apabila yang berdoa itu tidak melakukannya, doanya akan kembali (ditolak).”

Sayyidina Ali ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada satu doa pun melainkan ada hijab antara doa itu dengan Allah Ta’ala sebelum pelakunya bershalawat kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila ia telah bershalawat kepadanya, hijab itu akan robek dan doanya akan dikabulkan.”

Read more https://konsultasisyariah.com/4677-bagaimana-cara-memuji-allah-dan-bersalawat-sebelum-berdoa.html

Berikut kesalahan-kesalahan di bulan Ramadhan:

(1) Lalai memanfaatkan do’a di waktu mustajabnya do’a, yaitu qabla maghrib

(2) Terlalu asyik ifthar hingga lupa menjawab adzan

(3) Mengakhirkan ifthar sampai adzan berakhir

(4) Terlalu sibuk membagikan ifthar sampai-sampai tertinggal rakaat pertama shalat maghrib berjamaah

(5) Shalat maghrib di rumah (bagi laki-laki) tersebab sibuk berbuka

(6) Meninggalkan shalat sunnah ba’diyah atau sunnah tahiyyatul masjid, terbayang hidangan berbuka

(7) Berlebihan, mubadzir dalam makan dan minum

(8) Membuang-buang waktu antara maghrib dan isya. Padahal bisa diisi tilawah atau dzikir

(9) Tidak menyempurnakan shalat tarawih, terburu-buru pulang

(10) Meninggalkan sahur, padahal salah satu sunnah

(11) Lupa berdo’a dan perbanyak istighfar di waktu sahur. Sayang sekali, padahal rahasia ijabah do’a diwaktunya

(12) Lalai menghidupkan malam-malam mulianya

(13) Lalai menghidupkan malam lailatul Qadr

(14) Lalai dan malas dalam perbaikan dan perkembangan ilmu agama

(15) Lalai mengkhatamkan Qur’an dan tadabburnya, mestilah ia. Hakikat Ramadhan adalah bulan Qur’an

(16) Lalai mengajarkan dan membantu anak dan keluarga dalam menjalankan puasa

(17) Terlalu sibuk dengan film-film dan media sosial

(18) Lupa muhasabah kualitas dan aktifitas diri setiap malamnya

(19) Shalat di bulan Ramadhan saja

Semoga tahun ini benar kita menjadi Muttaqiin. Tak sekadar puasa, namun berperangai taqwa, berbuah surga. Aamiin

(Via: @nabilahhayatina)

Dalam sebuah hadits disebutkan:
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal:
[1] Allah akan segera mengabulkan do’anya,
[2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan
[3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.”
Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa’id; derajat hasan)

Ingatlah bahwa Allah Ta’ala memang Maha Mengijabahi setiap do’a.

Allah Ta’ala berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al Mu’min: 60)

Boleh jadi Allah mengabulkan do’a tersebut sebagaimana yang diminta. Boleh jadi Allah ganti dengan yang lebih baik. Boleh jadi pula Allah ganti dengan yang lain karena yang kita minta barangkali tidak baik untuk kita.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (QS. Al Baqarah: 216)

Jika setiap orang memahami hal ini, maka tentu ia akan terus banyak berdo’a dan banyak memohon pada Allah. Karena setiap do’a yang dipanjatkan pasti bermanfaat.

Segala sesuatu yang Allah karuniakan, itulah yang terbaik.

🌐Rumaysho.com

Anda dalam kesusahan karena beban hidup yang cukup berat? Ekonomi Anda sedang ada pada posisi terendah? Singkat kata, hidup Anda sedang dalam kefakiran? Sebagai Muslim dan Mukmin yang memiliki sandaran hidup kepada Allah dan pegangan hidup pada ajaran Rasulullah tak perlu risau dan galau. Sejak jauh-jauh hari Rasulullah telah memberikan resep mujarab untuk mengatasi kesulitan hidup yang demikian.

Satu ketika seorang sahabat datang menghadap Rasulullah SAW. Kepadanya, sahabat itu mengeluhkan perihal kefakiran dan kesulitan hidup yang dihadapinya. Kiranya dengan mengadukan permasalahannya kepada Rasulullah ia berharap akan mendapat jalan keluar agar ekonomi keluarganya dapat lebih baik di kemudian hari.

Mendengar aduan seperti itu Rasulullah lalu menyarankan kepada sahabatnya untuk melakukan satu amalan. “Ketika engkau masuk ke dalam rumah ucapkanlah salam bila di dalamnya ada orang. Bila tak ada maka ucapkanlah salam untuk dirimu sendiri. Setelah itu bacalah surat Al-Ikhlas satu kali.”

Mendapat amalan demikian sahabat ini melakukannya dengan penuh semangat. Setiap kali ia memasuki rumahnya ia beruluk salam lalu membaca surat Al-Ikhlas satu kali. Demikian ia lakukan terus menerus. Pada akhirnya Allah melimpahkan banyak harta kepadanya. Sahabat itu kini terbebas dari kefakiran. Keluarganya kini hidup dalam gelimang harta. Begitu banyaknya harta yang dianugerahkan oleh Allah. Tidak hanya keluarganya, tetangga di sekitar rumahnya juga ikut menikmati kelebihannya.

Kisah di atas banyak ditulis oleh para ulama dalam berbagai kitabnya, di antaranya oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tafsir Marâh Labîd atau lebih dikenal dengan nama Tasîr Al-Munîr. Dalam penafsiran Surat Al-Ikhlas Syekh Nawawi menuturkan kisah tersebut sebagai berikut:

عن سهل بن سعد جاء رجل إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم وشكا إليه الفقر فقال: «إذا دخلت بيتك فسلم إن كان فيه أحد وإن لم يكن فيه أحد فسلم على نفسك واقرأ قل هو الله أحد مرة واحدة. ففعل الرجل فأدر الله عليه رزقا حتى أفاض على جيرانه

Artinya, “Dari Sahl bin Sa’d, seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan mengadu kepadanya perihal kefakiran. Rasul bersabda, ‘Bila engkau memasuki rumahmu, ucapkanlah salam bila di dalamnya ada seseorang. Bila tidak ada seorang di dalamnya, maka bersalamlah untuk dirimu dan bacalah surat qul huwallâhu ahad sekali.’ Lelaki itu mengamalkannya. Allah melimpahkan kepadanya rezeki hingga meluber kepada para tetangganya.”

Ucapan salam kepada penghuni rumah sudah maklum. Setiap Muslim pasti bisa mengucapkannya. Lalu bagaimana mengucapkan salam kepada diri sendiri saat penghuni rumah sedang tidak ada?

Apa yang disampaikan oleh Syekh Nawawi dalam penafsiran ayat ke-61 Surat An-Nur menjadi jawabannya. Dalam kitab tersebut ia menuturkan ajaran dari Ibnu Abbas dan Qatadah sebagai berikut:

وقال ابن عباس: إن لم يكن في البيت أحد فليقل: السلام علينا من قبل ربنا

Artinya, “Ibnu Abbas berkata, ‘Bila tak ada siapapun di dalam rumah, maka ucapkanlah ‘assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ’ (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami).”

وقال قتادة: إذا دخلت بيتك فسلم على أهلك فهم أحق بالسلام ممن سلمت عليهم، وإذا دخلت بيتا لا أحد فيه فقل: السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين

Artinya, “Qatadah berkata, ‘Bila engkau memasuki rumahmu, maka ucapkanlah salam kepada keluargamu. Mereka lebih berhak mendapatkan salam daripada orang lain yang engkau salami. Bila engkau memasuki sebuah rumah yang tak ada seorang pun di dalamnya, ucapkanlah, ‘assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhis shâlihîn,’ (keselamatan bagiku dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh).”

Dari keterangan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kita bisa mengucapkan salam bagi diri sendiri salah satunya dengan kalimat “Assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ” (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami) atau “Assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhis shâlihîn” (keselamatan bagi kami dan bagi hamba-hamba yang saleh).

Kami berharap semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk menjalankan amalan ini dengan istiqamah. Semoga Allah membukakan pintu rahmat-Nya untuk kita semua. Wallahu a‘lam. (Yazid Muttaqin)

http://www.nu.or.id/post/read/89017/resep-rasulullah-cara-mudah-menjadi-kaya

MANFAATKAN MASA MUDA

Posted: 11 April 2018 in Knowledge, Motivasi

20180313_022527

“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi)

Al Munawi mengatakan:
“Lima hal ini (waktu muda, masa sehat masa luang, masa kaya dan waktu ketika hidup) barulah seseorang betul-betul mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang.” (At Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/356)

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara :

[1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,

[2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,

[3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,

[4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,

[5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.”

(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)

Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu juga memberi petuah kepada kita:
“Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.” (HR. Bukhari)

“Ada dua ni’mat yang dilalaikan oleh manusia, manusia tertipu dengan nikmat tersebut: Yaitu nikmat sehat dan waktu kosong.”(HR. al-Hakim yang telah dishahihkan Syaikh al-Albani dalam kitab Al-Jami’)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah”. (HR. Ahmad)

“Anggota badan ini selalu aku jaga dari berbuat maksiat ketika aku muda. Maka, Allah menjaga anggota badanku ketika waktu tuaku.” (Ibnu Rajab)

“Pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dengan dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan.” (lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/263))

An Nakho’i mengatakan:
“Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka akan dicatat untuknya pahala sebagaimana amal yang dulu dilakukan pada saat muda. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

Ibnu Qutaibah mengatakan:
“Makna firman Allah (yang artinya), “Kecuali orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang-orang yang beriman di waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka, walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal sebagaimana waktu mudanya, mereka tidak akan berhenti untuk beramal kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya.” (Lihat Zaadul Maysir, 9/172-174)

Begitu juga kita dapat melihat pada surat Ar Ruum ayat 54.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)

Ibnu Katsir mengatakan:
“(Dalam ayat ini), Allah Ta’ala menceritakan mengenai fase kehidupan, tahap demi tahap. Awalnya adalah dari tanah, lalu berpindah ke fase nutfah, beralih ke fase ‘alaqoh (segumpal darah), lalu ke fase mudh-goh (segumpal daging), lalu berubah menjadi tulang yang dibalut daging. Setelah itu ditiupkanlah ruh, kemudian dia keluar dari perut ibunya dalam keadaan lemah, kecil dan tidak begitu kuat. Kemudian si mungil tadi berkembang perlahan-lahan hingga menjadi seorang bocah kecil. Lalu berkembang lagi menjadi seorang pemuda, remaja. Inilah fase kekuatan setelah sebelumnya berada dalam keadaan lemah. Lalu setelah itu, dia menginjak fase dewasa (usia 30-50 tahun). Setelah itu dia akan melewati fase usia senja, dalam keadaan penuh uban. Inilah fase lemah setelah sebelumnya berada pada fase kuat. Pada fase inilah berkurangnya semangat dan kekuatan. Juga pada fase ini berkurang sifat lahiriyah maupun batin. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban”.” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim pada surat Ar Ruum ayat 54)

Imam asy Syafi’i rahimahullah sampai mengatakan:

مَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً          تَجَرَّعَ ذُلُّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ

وَ مَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ         فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ

Barangsiapa yang tidak pernah mencicipi pahitnya belajar, maka dia akan meneguk hinanya kebodohan di sepanjang hidupnya.

Barangsiapa yang tidak menuntut ilmu di masa muda, maka bertakbirlah empat kali, karena sungguh dirinya telah wafat.

Dikatakan dalam sebuah syair:

ألا ليت الشباب يعود يوماً *** فأخبره بما فعل المشيب

Sekali-kali tidak, andai kata masa muda itu berulang barang satu hari saja.

Akan aku beritahukan penyesalan orang-orang (tua) yang telah beruban-uban.

Screenshot_2018-03-02-14-31-30-1

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?” Rasulullah ﷺ menjawab:
“Ibumu.” Laki-laki itu bertanya kembali, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Lagi-lagi beliau menjawab, “Ibumu.” Orang itu pun bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Maka beliau menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari & Muslim)

Suatu ketika Ibnu Umar r.a bertanya kepada seseorang:
“Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk ke dalam surga?” Orang itu menjawab, “Ya.” Ibnu Umar berkata, “Berbaktilah kepada ibumu. Demi Allah, jika engkau melembutkan kata-kata untuknya, memberinya makan, niscaya engkau akan masuk surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Bukhari)

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau ingin maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah ia.” (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah)

Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya tentang amal-amal saleh yang paling tinggi dan mulia:
“Shalat tepat pada waktunya, berbuat baik kepada kedua orang tua, dan jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dalam hadits lain beliau juga bersabda:
“Celaka, celaka, celaka!” Ada yg bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya telah berusia lanjut, tetapi tidak membuatnya masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim)

Seseorang datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya:
“Wahai Rasulullah, apakah masih tersisa sesuatu sebagai baktiku kepada kedua orang tuaku setelah keduanya wafat? ”Beliau bersabda, “Ya, engkau mendo’akan keduanya, memohonkan ampunan untuk keduanya, menunaikan janji keduanya, memuliakan teman keduanya, dan silaturahmi yang tidak tersambung kecuali dengan keduanya.” (HR. Al-Hakim)

Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seorang hamba yang sholeh di surga. Lantas ia bertanya, ‘Wahai Rabb, mengapa aku mendapatkan ini?’ Allah menjawab, ‘Karena permohonan ampunan anakmu untukmu.’” (HR. Ahmad)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631)

Dari Humaid, ia menyatakan, ketika ibunya Iyas bin Mu’awiyah itu meninggal dunia, Iyas menangis. Ada yang bertanya padanya, “Kenapa engkau menangis?” Ia menjawab, “Dahulu aku memiliki dua pintu yang terbuka menuju surga. Namun sekarang salah satunya telah tertutup.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 56. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398)

Atsar dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
”Tidaklah seorang Muslim yang memiliki kedua orang tua yang Muslim yang dia pada setiap hari berbuat baik kepada keduanya, kecuali Allah akan membukakan baginya 2 pintu (surga). Kalau orang tua itu tinggal seorang diri, maka 1 pintu yang Allah bukakan. Kalau dia membuat marah/murka salah satu dari keduanya, maka Allah tidak akan ridha hingga orang tuanya ridha.” Seseorang berkata, “Seandainya kedua orang tuanya dzalim?” Ibnu ‘Abbas menjawab, “Walaupun orang tuanya dzalim!”

(23) Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (24) Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Q.S Al-‘Isrā’: 23-24)