Archive for the ‘Tentang CINTA’ Category

Screenshot_2017-08-18-15-35-18-1

Menikah merupakan salah satu ibadah yang menjadi kewajiban bagi umat Islam. Menikah bukan hanya mempersatukan fisik dua insan yang berbeda, tetapi mempersatukan tujuan, pemikiran, keluarga dan hal-hal lainnya. Untuk itu diperlukan proses ta’aruf atau perkenalan.

Terkadang dua insan yang sedang ta’aruf tidak saling mengenal sebelumnya, hanya berbekal informasi profil calon pasangan melalui CV atau mediator. Saat tatap muka atau berkomunikasi langsung ada beberapa hal yang harus diperhatikan dipertanyakan kepada masing-masing calon pasangan.

(1) Bagaimana Ibadahnya?

Pertanyaan mengenai ibadah adalah poin penting yang harus diperhatikan saat proses taaruf. Kamu bisa menanyakan seputar shalat wajibnya, bagi calon wanita kamu bisa tanyakan kepada calon pria apakah dia shalat 5 waktu di masjid? Kemudian shalat sunnah yang rutin dilakukan, membaca Al-Qur’an dan pemahamannya dan ibadah lainnya.

Peranyaan ini menjadi sangat penting karena kekuatan ibadah akan membentuk iman yang baik dan menjadi pondasi yang kokoh saat kita menjalani roda kehidupan dimasa depan.

(2) Pemahaman Tentang Keluarga dan Tujuan Menikah

Setiap orang yang akan menikah pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai, penting bagi kita untuk menyamakan tujuan menikah dengan calon pasangan. Karena jika tujuannya sama jika dalam perjalanan ditemukan hambatan, mereka akan berpikir lagi ke tujuan awal dan terus melangkah bersama kedepan.

Hal yang perlu kamu tanyakan juga seputar pemahaman dia tentang arti keluarga, dalam pandangan Islam dan secara umum. Seberapa besar keluarga bermakna bagi dirinya akan mencerminkan bagaimana dia memperlakukan keluarga kecilnya.

(3) Latar Belakang Keluarga Serta Hubungan Yang Terjalin

Orangtua sering bilang, jika mencari jodoh jangan lupa perhatikan bibit bobot dan bebetnya. Artinya ketika kita mencari calon pasangan hidup, latar belakang keluarga menjadi hal yang harus diperhatikan. Karena ketika kita tahu pekerjaan ayah dan ibunya, berasal darimana, pola komunikasi dan hal lainnya, kita akan lebih bisa memahami apa yang tercermin dari calon pasangan.

Bagaimana hubungannya dengan ayah dan ibunya, adik atau kakaknya serta hubungan dia dengan keluarga besar. Kemudian peran keluarganya dalam pengambilan keputusan, ini juga menjadi poin penting, apakah keluarga sepenuhnya berperan atau hanya sebagai pendamping.

(4) Bagaimana Cara Menyelesaikan Masalah dan Regulasi Emosi

Dalam perjalanan rumah tangga nantinya pasti tak luput dari masalah. Penting bagi kamu untuk menanyakan cara dia menyelesaikan suatu permasalahan dan emosi yang berperan didalamnya. Kamu bisa menanyakan apa yang akan dilakukan jika dia menemukan sebuah masalah, bagaimana cara dia menangani stress dan apa yang memicu amarahnya.

(5) Pemahaman Hak dan Kewajiban Suami Istri

Ketika akan menikah seharusnya kita sudah tahu apa yang menjadi kewajiban suami istri dan hak-hak yang bisa didapatkan dari suami atau istri. Komunikasi akan menjadi awal yang baik bagi pasangan untuk mendiskusikan tentang perannya. Hendaknya kewajiban dan hak dijalankan dengan baik dan semestinya, agar tercipta hubungan yang baik dan nyaman.

Proses terakhir yang perlu dijalankan adalah Shalat Istikharah, jika semua usaha sebagai manusia sudah kita tempuh, maka jalan terakhir adalah berpasrah kepad Allah SWT. Meminta untuk diberikan petunjuk terbaik dan dihindarkan dari segala macam kesulitan dari proses Taaruf yang sedang kita jalani.
Semoga Allah SWT selalu meridhoi apapun yang kita lakukan. Aamiin Aamiin

(Sumber: http://www.muslimahdaily.com)

Advertisements

IMG_20170806_103203-1

Bagi kita yang masih single, jangan bersedih dan putus asa.
Percayalah bahwa segala sesuatu itu sudah ada pasangannya dan ada waktunya.
Tapi kenapa sampai sekarang belum menikah?

Maisarah berkata, Thawus berkata kepadaku: “Engkau benar-benar menikah atau aku mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan ‘Umar kepada Abu Zawa-id: ‘Tidak ada yang menghalangimu untuk menikah kecuali kelemahan atau banyak dosa. (Abdurrazzaq (no. 10384, VI/170), Siyar A’laamin Nubalaa’ (V/47-48)

Ada dua hal yang menghalangi kita dalam menikah yaitu kelemahan kita atau banyaknya dosa kita. Perbanyak baca istigfar dan minta ampun kepada Allah. Bisa jadi karena dosa-dosa kita, Allah menunda atau memperlambat datangnya karunia-Nya dan rezeki-Nya kepada kita. Tetaplah berhusnudzon kepada Allah, yakinlah bahwa segala urusan makhluk yang ada di bumi sudah diatur-Nya.
Mudah-mudahan dengan kita banyak memohon ampunan, Allah mengampuni segala kesalahan dan dosa kita.

Ubahlah kelemahan kita dalam menikah menjadi kekuatan kita. Teruslah belajar ilmu agama dan ilmu lainnya, perluas hubungan kita dengan orang-orang (bersilaturrahmi), lebih dewasakan dan bijakkan diri kita, dan jadilah orang yang baik akhlaknya.

Luruskan niat kita menikah yaitu utamanya untuk melaksanakan perintah Allah dan sunnah rosul, menyempurnakan setengah agama kita, untuk beribadah, menjaga kesucian diri, memiliki keturunan yang sholeh dan sholehah.

Bagi laki-laki, siapkan dirinya untuk menjadi seorang pemimpin/imam keluarga, menjadi ayah, memberi nafkah, mendidik dan membimbing istri dan anak-anaknya, menjadi sahabat bagi istrinya dalam urusan agama, dunia, dan akhiratnya.
Bagi perempuan, siapkan dirinya untuk menjadi seorang istri, menjadi ibu sekaligus jantungnya keluarga, mendidik dan membimbing anak-anaknya, taat dan menjadi sahabat suami dalam urusan agama, dunia dan akhiratnya.

Dalam menanti kedatangannya (yang berati itu adalah waktu luang), perbaiki dan persiapkan diri kita karena menikah itu bukan sekedar menikah tetapi akan dimintai pertanggungjawaban pula kelak.

Kita nanti akan menjadi orangtua, didik dan bimbinglah anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah.
Anak-anak yang sholeh dan sholehah akan menjadi investasi kita di dunia dan di akhirat kelak. Ciptakan generasi penerus yang lebih baik.

Semangat yaa bagi kita (termasuk saya). Hehe
Intinya manfaatkan masa muda kita.
Manfaatkan waktu luang kita dengan baik dan benar.

#06Agustus2017 #13Dhulqo’dah1438H #Muse #Writing #Riniiswriter

FB_IMG_1501316555224-1

Mari menata ulang ruang perasaan. Di usia kita ini, sudah bukan waktunya galau-galauan karena patah hati, ingat masa lalu, atau cinta yang terpendam.

Lihatlah Ibu dan Bapak kita yang sudah menua. Adakah diantara kita yang sudah membahagiakan mereka?

Lihatlah masyarakat sekitar, manfaat apa yang sudah kita berikan pada mereka?

Atau justru, lihatlah diri kita sendiri, sudah khusu’ kah shalatnya?

Sudah istiqomahkah baca Qur’annya?

Sudah layakkah disebut dewasa?

Kita sibuk dengan urusan perasaan-perasaan, tanpa sadar jatah muda kita sudah hampir habis.

Kita sibuk meratapi masa lalu, hingga lupa bahwa ada hari ini yang harus dimanfaatkan.

Kita sibuk menangisi luka, hingga lupa bahwa ada jutaan dosa yang lebih layak ditangisi.

Maafkan, sekira tulisan ini kutelunjukkan pada wajahku sendiri.

📝 Aby.A izuddin

(Via: @negeriakhirat)

20170710_105130-1

Kelihatan banget mana yang serius dan mana yang ga ada niat sama sekali.
Kelihatan banget mana yang cuma ngebaperin anak orang dan mana yang sungguh-sungguh niatnya untuk sama-sama menyempurnakan setengah agama.

Kenapa dia menjauh atau kenapa dia ga bersatu denganmu???
Jawabannya: Coba ingat-ingat lagi kamu “BERDO’A” apa selama ini sama Allah.
Kamu pasti berdo’a sama Allah minta yang sholeh, paham agama, baik akhlaknya, baik nasabnya, dsb. Berdo’a itu bukan???

Sebenarnya kamu udah tau sendiri jawabannya kalau dia itu memang bukan “ORANG YANG TEPAT” untukmu dan mungkin dianya “BELUM SESUAI” dengan do’a yang selama ini kamu minta sama Allah.

Lah terus kenapa kamu galau dan ga suka kalau dia sama orang lain?
Wajar sih cemburu atau kecewa karena sebelumnya kamu menganggap dia udah dekat sama kamu, eeeh ternyata ga lama kemudian kamu dapat informasi bahwa dia sekarang udah dengan yang lain.

Terus kamu mau apa sekarang???
Mau nangis ya? Ngelamun ya? Galau ya?
Hehe boleh-boleh aja, tapi jangan lama-lama, sebentar aja ya ga pake keterusan galau disertai nangis. Harus ikhlas, senyum dan ceria lagi.

Kesimpulannya adalah berarti dia bukan yang “TERBAIK” buat kamu, karena nanti akan ada seseorang yang lain yang “TERBAIK” untukmu. Kamu tinggal tunggu aja pada waktunya dimana nanti kamu akan merasakan kebahagiaan melibihi lamunan kamu jika hidup bersama dia yang sekarang udah punya dan milik orang lain.
Karena skenario yang ditetapkan Allah itu sangat indah.

Iya kali dia yang kamu harapkan itu memang baik, tapi perlu diingat bahwa seseorang yang “BAIK BUKAN BERARTI YANG TERBAIK UNTUKMU”.
Akan tetapi ia yang “TERBAIK SUDAH PASTI BAIK UNTUKMU”. 🙂

Dan ingat pula bahwa segala sesuatu itu sudah ditetapkan pasangannya termasuk kamu sama si dia yang on the way ke dalam hidupmu. Jadi tunggu aja. 🙂

Udah, lupakan dia yang cuma ngebaperin kamu, sekarang tinggal tunggu dia yang baru yang Allah sudah tetapkan untukmu. Selama menunggu waktunya tiba, manfaatkan waktu untuk memperbaiki diri, memantaskan diri, meningkatkan kualitas diri, cari dan pelajari ilmu yang banyak, siapin mental, hati-hati jaga hati, dan yang terakhir adalah lakukan semua ini karena Allah, bukan karena jodoh. 🙂

#Muse #10Juli2017 #15Syawal1438H #Sharing #CurhatRini #Riniiswriter

20170523_074700-1

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah.”

Dalam riwayat Abu Daud, disebutkan:
“Sebaik-baik nikah adalah yang paling mudah.” (HR. Abu Daud, no. 2117; Al-Hakim, 2: 181-182. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim juga shahih sebagaimana dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’, 6: 344)

Hadits di atas menunjukkan bahwa mahar yang paling bagus dan menjadi mahar terbaik adalah mahar yang paling mudah untuk dipenuhi. Inilah yang dipersiapkan oleh calon suami, hendaklah pihak wanita mudah menerima hal ini. Kalau maharnya itu serba sulit dan memberatkan, itu menyelisihi yang dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk berkahnya seorang wanita, yang mudah khitbahnya (melamarnya), yang mudah maharnya, dan yang mudah memiliki keturunan.” (HR. Ahmad, 6: 77)

Mudahnya mahar memiliki manfaat yang begitu besar:
(1) Mengikuti sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
(2) Memudahkan para pemuda untuk menikah
(3) Mudahnya mahar akan menyebabkan cinta dan langgengnya kasih sayang

Boleh nggak sih maharnya hanya hafalan saja? Atau dipinang dengan bismillah saja? Tanpa mahar berupa harta?

Terlepas dari boleh-tidaknya mahar berupa pengajaran hafalan Qur’an, yang lebih baik adalah mahar berupa harta, karena lebih sesuai dengan firman Allah dalam surat An Nisa ayat 24. Selama si lelaki masih memiliki harta yang bisa dijadikan mahar walaupun sedikit.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya oleh seorang wanita, “Bolehkah saya meminta mahar berupa Al-Qur’an Al Karim? Tujuannya agar saya bisa tetap memilikinya di akhirat. Karena setiap bacaan hurufnya bernilai 10 kebaikan. Maksud saya, saya ingin mahar saya tersebut menjadi simpanan akhirat, bukan simpanan dunia. Dan juga saya ingin mahar saya ringan dan mudah.”

Syaikh menjawab, “Yang disyariatkan adalah mahar berupa harta. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Mencari isteri-isteri dengan hartamu‘ (QS. An Nisa: 24)

Dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika datang seorang wanita yang ingin menawarkan diri kepada beliau, beliau tidak menerimanya. Namun beliau ingin menikahkan wanita tersebut dengan salah seorang diantara para sahabatnya. Kemudian beliau bersabda kepada sahabat tersebut:
“Carilah mas kawin walaupun hanya cincin besi.”

Dan ingatkah kisah Ali bin Abu Tholib yang tidak mempunyai harta apapun sebagai mahar untuk meminang Fatimah Az-Zahra?
Rasulullah menyuruhnya untuk memberi harta apapun yang dimilikinya. Sedang waktu itu Ali hanya memiliki pedang, unta, dan bahu besi. Akhirnya Rasulullah memilih baju besi untuk menikahkan Fatimah dengan Ali sebagai mahar pernikahannya.

Maka yang disyariatkan adalah mahar berupa harta walaupun sedikit. Jika si suami miskin, dan ia tidak memiliki harta untuk dijadikan mahar, maka pendapat yang benar, boleh baginya untuk menikahi wanita dengan mahar berupa pengajaran ayat-ayat Al Qur’an. Atau pengajaran surat-surat dalam Al Qur’an.

MEREDAM RASA

Posted: 22 May 2017 in Tentang CINTA

IMG_20150106_111604-1

Karena aku mencintaimu, maka aku meredam rasa kagumku.

Aku berusaha kita tak perlu bertegur sapa, tidak pula butuh berkata mesra.

Cukup aku menyebut namamu, dalam istikharah dan do’a.

Aku berusaha menjaga hatiku dan hatimu, agar senantiasa suci terjaga.

Agar selalu Dia yang tercinta di dalam hati kita.

Aku merelakanmu, kukembalikan rasa cinta ini kepada-Nya.

Biar dijaga-Nya rasa ini, untuk dia yang kelak menjadi jodohku.

Sambil aku terus berusaha memperbaiki diri.
Bukankah Allah yang menjanjikan yang baik,  untuk dia yang terus memperbaiki dirinya?

Dari Anas radhiyallahu’anhu bahwa dulu ada seorang lelaki yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hari kiamat. Dia berkata: “Kapankah hari kiamat tiba?”. Nabi bersabda, “Apa yang sudah kamu persiapkan untuk menyambutnya?”. Dia menjawab, “Tidak ada melainkan hanya saja saya mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Nabi bersabda, “Kamu kelak akan bersama dengan orang yang kamu cintai.” (HR. Bukhari)

(Halaman 62 Buku #AkuTersentuhCinta karya Arif Rahman Lubis)

Screenshot_2017-05-22-10-48-38-1

Baiknya agama saja tidak cukup untuk engkau pilih sebagai calon suami, jika ternyata akhlaknya kurang baik.

Banyak lelaki terlihat baik di luarnya, terlihat faqih dalam membahas ilmu agama, namun lihatlah akhlaknya, jika masih jelalatan jarinya ngobrol dengan akhwat yang bukan mahromnya, apalagi di dunia maya ini, maka tidak layak lelaki demikian dipilih menjadi suami.

Engkau perhatikan, jika seorang lelaki buruk akhlak dan adabnya dalam keluarganya, kepada teman dan tetangganya, maka berpikirlah ulang untuk menerimanya menjadi pendampingmu.

Hendaknya kalian memeriksa dengan baik AGAMA DAN AKHLAKNYA, sebagaimana Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullaah dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022)

Bukankah engkau sendiri sering melihat di sekitarmu, terdapat banyak lelaki yang (mungkin) engkau lihat banyak hafalan ilmunya, namun jelek akhlak dan adabnya?
Apa manfaat ilmu bagi yang tidak mau mengamalkannya?
Betapa banyak wanita menderita karena kurang baiknya akhlak dan adab suaminya?
Allaahul musta’an.

(By: Andi Abu Hudzaifah Najwa)