Archive for the ‘Sunnah Rasul’ Category

 

This slideshow requires JavaScript.

 

(1) Di bulan ramadhan seringkali muncul pertanyaan, “Apa boleh melaksanakan sholat taraweh di masjid secara berjamaah dan sholat witir sendiri dirumah? Mengingat saya ingin sholat tahajud, dan mengakhirkan witir dipenghujung malam?

Jawabannya tentu saja boleh. Hanya saja sebaiknya seorang muslim sholat bersama imam hingga selesai. Karena nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ⠀⠀⠀⠀

“Orang yang melaksanakan sholat malam bersama imam sampai selesai maka dicatat untuknya pahala sholat semalam suntuk.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)⠀

Pahala yang besar bukan?

Dimana pahala tersebut belum tentu diraih oleh orang yang melakukan sholat tahajud di malam hari, itupun kalau terbangun, bila tidak maka sayang sekali, kesempatan meraih pahala besar itu tersia-siakan begitu saja. Karena itu, jangan sampai kita menyia-nyiakan pahala tersebut. Ikutilah hingga imam selesai.

(2) Tapi apakah boleh melakukan sholat witir setelah tahajjud bila telah melakukan sholat witir bersama imam saat teraweh?

Mengingat nabi shallallahu alaihi wasallam menganjurkan untuk menutup sholat malam dengan sholat witir?⠀⠀

Jawabannya tidak boleh, hal ini berdasarkan sabda nabi shallallahu alaihi wasallam,

لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ ⠀⠀

“Tidak ada dua witir dalam satu malam.”⠀⠀

Apakah perlu menggenapkan witir setelah taraweh bersama imam agar bisa sholat witir dipenghujung malam?⠀⠀

Jawabannya tidak perlu. Ibnu Hazm mengatakan,

والوتر آخر الليل أفضل. ومن أوتر أوله فحسن، والصلاة بعد الوتر جائزة، ولا يعيد وترا آخر؛ ولا يشفع بركعة ⠀

“Witir yang dilakukan di akhir malam lebih afdhal, namun barangsiapa yang melakukan witir di awal malam, maka hal itu baik. Dan sholat sunah setelah witir hukumnya boleh, tidak perlu mengulangi sholat witir dan tidak perlu menggenapkannya dengan satu rakaat lagi”. (al-Muhalla, 2/91)⠀⠀

Wallahu a’lam.

(Via: @act_elgharantaly)

Advertisements

Screenshot_2018-01-28-01-46-39-1

“Sesungguhnya yang paling utama di antara hari kalian adalah hari Jum’at. Pada hari ini Adam diciptakan dan dimatikan. Pada hari ini pula terjadi peniupan sangkakala dan kematian massal. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari ini karena shalawat kalian itu akan diperlihatkan kepadaku.”

Mereka bertanya:
“Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami akan diperlihatkan kepadamu sedang jasadmu telah lapuk (remuk)”.

Maka beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan (binatang) tanah memakan jasad para Nabi ‘alaihimus salam.” (Riwayat An- Nasa’i dan Ibnu Majah)

HUKUM PUASA TARWIYAH

Posted: 30 August 2017 in Iedul Adha, Sunnah Rasul

Screenshot_2017-08-30-08-03-53-1

Dalil yang menjadi pegangan anjuran puasa tarwiyah, 8 Dzulhijjah:

صوم يوم التروية كفارة سنة وصوم يوم عرفة كفارة سنتين (أبو الشيخ ، وابن النجار عن ابن عباس)

“Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu. Sedangkan puasa hari Arafah (9 Dzulhijjah) akan mengampuni dosa dua tahun.” (Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan Ibnu An Najjar dari Ibnu ‘Abbas)

Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih. (Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Maqdisi), Asy Syaukani mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih dan dalam riwayatnya ada perowi yang pendusta. (Latho-itul Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali), serta Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah). (Majmu’atul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)

Jika hadits di atas adalah dho’if (lemah), maka berarti tidak boleh diamalkan dengan sendirinya.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Tidak boleh bersandar pada hadits-hadits dho’if (lemah) yang bukanlah hadits shahih dan bukan pula hadits hasan. Akan tetapi, Imam Ahmad bin Hambal dan ulama lainnya membolehkan meriwayatkan hadits dho’if dalam fadhilah amal selama tidak diketahui hadits tersebut shahih atau hadits tersebut bukan diriwayatkan oleh perowi pendusta.
Namun boleh mengamalkan isinya jika diketahui ada dalil syar’i yang mendukungnya. Jika haditsnya bukan diriwayatkan oleh perowi yang pendusta, boleh jadi pahala yang disebutkan dalam hadits tersebut benar. Akan tetapi, para ulama katakan bahwa tidak boleh menyatakan wajib atau sunnah pada suatu amalan dengan dasar hadits dho’if. Jika ada yang mengatakan bolehnya, maka dia telah menyelisihi ijma’ (kata sepakat para ulama).” (Al Majmu’ Al Fatawa, 1: 250-251)

“Masih Bisa Berpuasa Tanggal 8 Dzulhijjah Jika…”

Masih bisa berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah namun bukan berdasarkan hadits yang disebutkan di atas, namun karena mengingat keutamaan beramal di awal Dzulhijjah dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan yang dikerjakan saat itu. Ditambah ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat untuk berpuasa pada tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah.

(Via: @rumayshocom)

PUASA HARI ARAFAH

Posted: 28 August 2017 in Iedul Adha, Sunnah Rasul

Screenshot_2017-08-28-18-55-12-1

Hari Arafah -9 Dzulhijjah- adalah hari yang mulia saat dimana datang pengampunan dosa dan pembebasan diri dari siksa neraka.

Pada hari tersebut disyari’atkan amalan yang mulia yaitu puasa. Puasa ini disunnahkan bagi yang tidak berhaji.
Mengenai pengampunan dosa dari puasa Arafah, para ulama berselisih pendapat. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dosa kecil.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan:
“Jika bukan dosa kecil yang diampuni, moga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, moga ditinggikan derajat.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)

Sedangkan jika melihat dari penjelasan Ibnu Taimiyah rahimahullah, bukan hanya dosa kecil yang diampuni, dosa besar bisa terampuni karena hadits diatas sifatnya umum. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 7: 498-500)

Setelah kita mengetahui hal ini, tinggal yang penting praktiknya. Juga jika risalah sederhana ini bisa disampaikan pada keluarga dan saudara kita yang lain, itu lebih baik. Biar kita dapat pahala, juga dapat pahala karena telah mengajak orang lain berbuat baik.

“Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah (harta amat berharga di masa silam, pen).” (Muttafaqun ‘alaih)

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).

(Via: rumayshocom)

Screenshot_2017-08-23-16-45-57-1

Ada tuntunan puasa1 Dzulhijah atau puasa di awal dzulhijjah. Berarti mulai Rabu bisa puasa. Apalagi tanggal 9 Dzulhijjah lebih besar lagi keutamaannya yaitu puasa Arafah.

Sebagaimana diceritakan dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, awal bulan di hari Senin dan Kamis.” (HR. Abu Daud no. 2437 dan An-Nasa’i no. 2374. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Di antara sahabat yang mempraktikkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut untuk berpuasa. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. (Latho’if Al-Ma’arif, hlm. 459)

CARA MELAKUKAN PUASANYA BAGAIMANA?
(1) Boleh lakukan dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah, lebih utama lagi puasa Arafah (9 Dzulhijjah)

(2) Boleh lakukan dengan memilih hari yang diinginkan, yang penting jangan tinggalkan puasa Arafah.

(3) Niat puasanya bagaimana?
Niat cukup dalam hati, karena maksud niat adalah keinginan untuk melakukan amalan.

Semoga dimudahkan beramal shalih di awal Dzulhijjah. Karena amalan shalih di awal Dzulhijjah dapat mengalahkan jihad.
(Sumber: https://rumaysho.com/11910-cara-melakukan-puasa-awal-dzulhijjah.html)

(Muhammad Abduh Tuasikal)

Puasa Awal Dzulhijjah

Posted: 23 August 2017 in Iedul Adha, Sunnah Rasul

 

Diantara keutamaan yang Allah berikan pada kita adalah Allah menjadikan awal Dzulhijjah sebagai waktu utama untuk beramal sholih terutama melakukan amalan puasa. Lebih-lebih lagi puasa yang utama adalah puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.

Pada awal Dzulhijjah disunnahkan untuk berpuasa selain pada hari Nahr (Idul Adha). Karena hari tersebut adalah hari raya, maka kita diharamkan untuk berpuasa. Sedangkan tanggal 9 Dzulhijjah dan hari-hari sebelumnya (1-9 Dzulhijjah) disyari’atkan untuk berpuasa.
Para salaf biasa melakukan puasa tersebut bahkan lebih semangat dari melakukan puasa enam hari di bulan Syawal.

Hal ini dikuatkan pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan penekanan ibadah pada 10 hari awal Dzulhijjah tersebut daripada hari-hari lainnya. Hal ini sebagai dalil umum yang menunjukkan keutamaanya. Jika sepuluh hari pertama Dzulhijjah dikatakan hari yang utama, maka itu menunjukkan keutamaan beramal pada hari-hari tersebut.

Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).”
Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”
(HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Jika puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah dikatakan utama, maka itu menunjukkan bahwa puasa pada hari-hari tersebut lebih utama dari puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulannya, bahkan lebih afdhol dari puasa yang diperbanyak oleh seseorang di bulan Muharram atau di bulan Sya’ban.

Puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah bisa dikatakan utama karena makna tekstual yang dipahami dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(Via: @rumayshocom)

Screenshot_2017-06-26-16-08-10-1

PERTANYAAN:
Mana yang lebih utama puasa (enam hari) berturut-turut atau terpisah?

JAWABAN:

الأفضل صيام ستة أيام من شوال أن تكون متتابعة، وأن تكون بعد يوم الفطر مباشرة؛ بما في ذلك من المسارعة إلى الخير، ولا بأس أن يؤخر ابتداء صومها عن اليوم الثاني من شوال، ولا بأس أن يصومها الإنسان متفرقة إلى آخر الشهر؛ لعموم قوله صلى الله عليه وسلم: من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال فكأنما صام الدهر كله. ولم يشترط النبي صلى الله عليه وسلم أن تكون متتابعة، ولا أن تكون بعد رمضان مباشرة

🔴 Lebih utama puasa enam hari di bulan Syawal dilakukan secara berturut-turut dan dilakukan langsung setelah hari Idul Fitri. Karena yang demikian ini merupakan upaya untuk bersegera melakukan kebaikan.

🔴 Namun tidak mengapa ditunda permulaan puasanya dari hari kedua bulan Syawal. Tidak masalah pula seseorang melakukannya secara terpisah hingga akhir bulan. Ini berdasarkan keumuman sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: “Siapa saja yang puasa Ramadhan lalu mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah dia puasa sepanjang tahun.”

Dalam hadis ini Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak mempersyaratkan harus berturut-turut puasanya dan tidak pula harus langsung setelah Ramadhan.

Referensi:
👤 Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah
📚 Silsilah Fatawa Nur ‘alad Darb kaset nomor 239
🌍 Web | shahihfiqih.com/fatwa/cara-mengerjakan-puasa-6-hari-di-bulan-syawwal/