Archive for the ‘Sifat-sifat Buruk’ Category

Screenshot_2017-06-23-16-24-43-1

Sebagian orang yang belajar agama hanya untuk menambah wawasan, enggan diamalkan. Padahal seharusnya ilmu dipelajari supaya meningkatkan amalan. Karena amalan itu adalah buah dari ilmu.

Lihatlah kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

من تعلم علما لم يعمل به لم يزده إلا كبرا

“Siapa yang belajar ilmu (agama) lantas ia tidak mengamalkannya, maka hanya kesombongan pada dirinya yang terus bertambah.” (Disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Al Kabair, hal. 75)

Belajar bukan untuk berdebat. Niat belajar yang benar adalah untuk memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata,

لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ

“Janganlah belajar ilmu agama untuk berbangga diri di hadapan para ulama atau untuk mendebat orang-orang bodoh, dan jangan mengelilingi majelis untuk maksud seperti itu. Karena barangsiapa yang melakukan demikian, maka neraka lebih pantas baginya, neraka lebih pantas baginya.” (HR. Ibnu Majah no. 254. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

(Via: @rumayshocom)

Screenshot_2017-05-21-20-36-06-1-1

Sungguh malang nasib para koruptor itu. Kekayaan hasil korupsi yang mereka kumpulkan ternyata tidak membawa manfaat apapun bagi mereka. Harta tidak berkah itu justru menjadi sumber malapetaka. Di dunia mereka mendapat kehinaan dan ancaman hukuman yang berat. Di akhirat kelak telah menunggu siksa yang keras bagi mereka.

Coba lihat akibat buruk perbuatannya, semua manusia mengutuknya dan mendo’akan keburukan atas dirinya. Harta yang diperolehnya juga tidak membawa berkah.

Sebagian orang mengira para koruptor itu bahagia. Mereka mengira para koruptor itu bisa mendapatkan apa saja. Ini adalah penilaian yang keliru. Hidup mereka diliputi rasa takut dan khawatir kejahatan mereka terbongkar. Itulah hakikat dosa, yaitu sesuatu yang mengganjal dalam hatimu dan engkau khawatir orang lain mengetahuinya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Dosa adalah segala yang mengganjal dalam dadamu dan engkau tidak suka orang lain mengetahuinya.” (Shahîhul Jâmi’ no. 2880)

Begitulah kalau sudah memakan hasil korupsi, bukan kepuasan yang dirasakan jiwanya namun justru sebaliknya, ia akan semakin rakus dan tamak layaknya orang kesurupan.

Para koruptor ini jika tidak bertaubat sampai matinya maka mereka akan menyandang predikat buruk di dunia, di alam barzakh dan di akhirat. Ketika para malaikat yang membawa ruhnya melewati rombongan para malaikat di langit dan ditanya, “Ruh siapakah yang buruk ini?” Para malaikat yang membawa ruh ini menjawab, “Ini adalah ruh fulan bin fulan.” Dengan menyebut nama paling buruk yang pernah disandangnya di dunia. (HR. Imam Ahmad)

Tidakkah para koruptor itu merasa kasihan dan iba melihat anak-anaknya bakal menyandang sebutan buruk sepeninggal dirinya? Akan melekat pada anaknya sebutan ‘anak koruptor’!

Para koruptor itu jika mengangkat tangannya tinggi-tinggi berdo’a kepada Allah bahkan sampai meraung dan menangis, namun do’anya tidak dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla. Bagaimana do’anya bisa dikabulkan, sementara makanan, minuman dan pakaian yang dikenakannya diperoleh dengan cara yang diharamkan yaitu dengan cara korupsi. Bagaimana mungkin do’anya dikabulkan?

Tidak boleh mengganggu tetangga

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seseorang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ياَ رَسُوْلَ اللهِ ! إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِيْ جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟

Wahai Rasulullah, si fulanah sering melaksanakan shalat di tengah malam dan berpuasa sunnah di siang hari. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

“Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan dia adalah penduduk neraka.”

Para sahabat lalu berkata,

وَفُلاَنَةُ تُصَلِّي الْمَكْتُوْبَةَ، وَتُصْدِقُ بِأَثْوَارٍ ، وَلاَ تُؤْذِي أَحَداً؟

“Terdapat wanita lain. Dia (hanya) melakukan shalat fardhu dan bersedekah dengan gandum, namun ia tidak mengganggu tetangganya.”

Beliau bersabda,
هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Dia adalah dari penduduk surga.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (190) [89/121]

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Seorang yang senantiasa mengganggu tetangganya niscaya tidak akan masuk surga.” (Shahih) Lihat As Silsilah Ash Shahihah (549): [Muslim: 1-Kitabul Iman, hal. 73]

(Via: @rumayshocom)

IMG_20170409_140032

Tengok di lingkungan sekitar kita entah itu teman dan saudara yang jarang sholat apalagi dzikir dan tanpa amalan-amalan tertentu, bisa kaya dan makmur hidupnya, malah yang sering sholat dan dzikir hidupnya biasa-biasa saja.

Jika kamu melihat fenomena semacam itu maka ketahuilah bahwa itu semua adalah Istidraj. Bisa jadi ada yang mendapatkan limpahan rezeki namun ia adalah orang yang gemar maksiat. Ia tempuh jalan kesyirikan -lewat ritual pesugihan- misalnya, dan benar ia cepat kaya.

Ketahuilah bahwa mendapatkan limpahan kekayaan seperti itu bukanlah suatu tanda kemuliaan, namun itu adalah istidraj.

Istidraj artinya suatu jebakan berupa kelapangan rezeki padahal yang diberi dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَاذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain)

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُواأَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44)

(Kabarmakkah.com)

KERAS HATI

Posted: 10 May 2017 in Sifat-sifat Buruk

Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allah, yaitu mereka yang hatinya tidak lunak ketika diingatkan akan Allah, tidak khusyu’, tidak paham, tidak sadar dan selalu membangkang.

TANDA-TANDA HATI YANG KERAS ATAU MULAI MENGERAS

Hati yang keras atau mulai mengeras memiliki tanda-tanda sebagai berikut:

(1) Bermalas-malasan dalam mengerjakan kebaikan dan ketaatan, serta meremehkan suatu kemaksiatan.
(2) Tidak terpengaruh hatinya dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan.
(3) Tidak terpengaruh hatinya dengan berbagai ujian, musibah dan cobaan yang diberikan oleh Allah Azza wa Jalla.
(4) Tidak merasa takut akan janji dan ancaman Allah Azza wa Jalla.
(5) Bertambahnya kecintaan terhadap dunia dan mendahulukannya di atas akhirat.
(6) Tidak tenang hatinya dan selalu merasa gundah.
(7) Bertambahnya dan meningkatnya kemaksiatan yang dilakukannya.
(8) Tidak mengenal atau tidak membedakan perbuatan ma’ruf dan munkar.

SEBAB-SEBAB KERASNYA HATI

Hati menjadi keras tentu ada penyebabnya. Penyebab-penyebab kerasnya hati di antaranya adalah sebagai berikut:
(1) Kesyirikan, kekufuran dan kemunafikan.
(2) Melanggar perjanjian yang dibuat kepada Allah Azza wa Jalla.
(3) Tertawa Berlebihan.
(4) Banyak Berbicara Dan Banyak Makan.
(5) Banyak Melakukan Dosa.
(6) Lalai Dari Ketaatan.
(7) Nyanyian Dan Alat Musik.
(8) Suara Wanita Yang Menggoda.
(9) Melakukan Hal-Hal Yang Merusak Hati.

Untuk penjelasan tiap poin bisa dibaca di https://almanhaj.or.id/3625-hinanya-hati-yang-keras.html

YANG PERTAMA KALI DIAZAB

Posted: 14 February 2017 in Sifat-sifat Buruk

screenshot_2017-01-12-14-23-27-1

Tahukah kamu siapa orang yang pertama kali akan diadzab oleh Allah dalam api neraka?

Banyak orang ketika mereka ditanya dengan pertanyaan diatas, mereka akan berusaha menjawab dengan berbagai kemaksiatan yang keji seperti membunuh korbannya, mutilasi, korupsi, dll.

Namun jawaban-jawaban itu terbantahkan dengan sabda Nabi SAW berikut:
“Tiga orang yang pertama kali akan diadzab pada hari kiamat adalah:

(1) Orang yang mati di medan jihad kemudian dia didatangkan dihadapan Allah, dan Allah menyebutkan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya dan diapun mengakuinya lalu Allah bertanya:
“Untuk apa kamu gunakan nikmat-nikmat-Ku tersebut?”
Diapun menjawab: “Aku berjihad dijalan-Mu sampai aku mati.”
Allah berkata: “Dusta, kamu melakukan itu agar dikatakan pemberani, pahlawan dan gelar itu telah kamu dapatkan.”
Lalu Allah perintahkan malaikat-Nya untuk menyeretnya sampai dia dilemparkan ke dalam api neraka.

(2) Orang yang menuntut ilmu dan yang mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an kemudian dia didatangkan dihadapan Allah, dan Allah menyebutkan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya dan diapun mengakuinya lalu Allah bertanya:
“Untuk apa kamu gunakan nikmat-nikmat-Ku tersebut?”
Diapun menjawab: “Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an dijalan-Mu.”
Allah berkata: “Dusta, kamu melakukan itu agar dikatakan ulama dan kamu membaca Al-Qur’an agar dikatakan qari’, dan gelar itu telah kamu dapatkan.”
Lalu Allah printahka malaikat-Nya untuk menyeretnya sampai dia dilemparkan ke dalam api neraka.

(3) Orang yang Allah berikan keluasan harta, kemudian dia didatangkan dihadapan Allah, dan Allah menyebutkan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya dan diapun mengakuinya lalu Allah bertanya:
“Untuk apa kamu gunakan nikmat-nikmat-Ku tersebut?”
Diapun menjawab: “Tidaklah aku meninggalkan sebuah jalan/pintu kebaikan yang Engkau sukai untuk berinfaq didalamnya kecuali aku infaqkan hartaku didalamnya.”
Allah berkata: “Dusta, kamu melakukan itu agar dikatakan dermawan dan gelar itu telah kamu dapatkan.”
Lalu Allah perintahkan malaikat-Nya untuk menyeretnya sampai dia dilemparkan ke dalam api neraka.
(Muslim)

Hadits ini membuka mata kita bahwa ketidak-ikhlasan sangat berpeluang menjangkiti kita walaupun kita banyak melakukan ibadah yang sesuai dengan sunnah.

Semakin kita bersemangat untuk mengerjakan ibadah yang sesuai dengan sunnah, kita pun harus semakin ketat dalam menjaga keikhlasan hati. Jangan sampai kita tertipu dengan banyaknya amalan sunnah yang kita kerjakan dan lalai dalam menjaga kemurnian niat.