Archive for the ‘PUASA RAMADHAN’ Category

PANDUAN ZAKAT FITRAH

Posted: 24 June 2017 in PUASA RAMADHAN

“WAKTU MEMBAYAR ZAKAT FITRAH”

Dilihat dari waktunya, pembayaran zakat fitrah ada 4 tingkatan:

(1) Dibolehkan membayar zakat fitrah sehari atau dua hari sebelum hari raya.
“Ibn Umar radliallahu ‘anhu, bahwa beliau membayar zakat fitrah kepada panitia penerima zakat fitrah. Mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fitrah sehari atau dua hari sebelum hari raya.” (HR. Bukhari secara muallaq, keterangan hadis no. 1511)

(2) Dianjurkan mengeluarkan zakat fitrah pada pagi hari raya sebelum shalat id.
“Bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan zakat fitrah untuk dibayarkan sebelum masyarakat berangkat shalat id.” (HR. Bukhari 1509)

(3) Tidak boleh menunda pembayaran zakat fitrah sampai setelah shalat. Barangsiapa yang mengakhirkan pembayaran zakat fitrah setelah shalat tanpa udzur maka dia harus bertaubat dan segera mengeluarkannya.
“Siapa yang menunaikan zakat fitrah sebelum shalat id, maka zakatnya diterima. Dan siapa yang memberikannya setelah shalat id, maka nilainya hanya sedekah biasa.” (HR. Abu Daud 1609, Ibn Majah 1827, dan dihasankan Al-Albani)

“ZAKAT FITRAH HANYA DENGAN BAHAN MAKANAN POKOK”

Zakat fitrah hanya boleh dibayarkan dalam bentuk bahan makanan yang umumnya digunakan masyarakat setempat, seperti beras, kurma, atau gandum.
“Kami mengeluarkan zakat fitrah pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan satu sha’ bahan makanan.” (HR. Bukhari 1510)

“Yang menjadi makanan pokok kami adalah gandum, anggur kering, keju, dan kurma.” (HR. Bukhari 1510)

Bolehkah membayar zakat fitrah dalam bentuk uang?
Tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang. Karena hal ini bertolak belakang dengan ajaran nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini adalah pendapat hampir seluruh ulama.

Imam Malik mengatakan:
“Tidak sah jika seseorang membayar zakat fitri dengan mata uang apa pun. Tidak demikian yang diperintahkan Nabi.” (Al-Mudawwanah Syahnun)

Imam Asy-Syafi’i mengatakan:
“Penunaian zakat fitri wajib dalam bentuk satu sha’ dari umumnya bahan makanan di negeri tersebut pada tahun tersebut.” (Ad-Din Al-Khash)

Imam Ibn Qudamah mengatakan:
“Jika ada orang yang mengeluarkan zakat dengan selain bahan makanan, berarti dia telah menyimpang dari dalil nas, sehingga tidak sah, seperti mengeluarkan zakat dalam bentuk uang. (Al mughni, 5/482)”

An Nawawi mengatakan:
“Tidak sah membayar zakat fitrah dengan uang menurut madzhab kami. Ini adalah pendapat Malik, Ahmad dan Ibnul Mundzir.” (Al Majmu’, 6/144)

“UKURAN ZAKAT FITRAH”

Ukurannya satu sha’ untuk semua jenis abahan makanan.
Ukuran satu sha’ itu sama dengan empat mud. Sedangkan satu mud adalah ukuran takaran yang sama dengan satu cakupan dua tangan. Ukuran satu sha’ kurang lebih setara dengan 3 kg. (Majmu’ fatawa komite fatwa Arab saudi, no. Fatwa: 12572)

“ZAKAT FITRAH HANYA UNTUK ORANG MISKIN”

Golongan yang berhak menerima zakat fitrah adalah fakir miskin saja, dan tidak boleh diberikan kepada selain fakir miskin.

Ibnul Qoyim mengatakan:
Diantara petunjuk nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengkhususkan fakir miskin untuk zakat ini (zakat fitrah). Beliau tidak membagikannya kepada semua golongan penerima zakat yang jumlahnya delapan. Beliau juga tidak memerintahkannya, dan tidak ada seorangpun sahabat yang melakukannya, tidak pula ulama setelahnya. (Zadul Ma’ad, 2/21)

“ZAKAT FITRAH DIBAYAR DI TEMPAT”

Hukum asalnya, zakat fitrah didistribusikan kepada fakir miskin yang berada di daerah orang yang membayar zakat. Namun, dibolehkan mengirim zakat fitrah ke daerah lain karena adanya kebutuhan atau maslahat lainnya.

Syaikh Abdul Aziz bin baz rahimahullah ditanya  tentang hukum memindahkan zakat fitrah.
Beliau menjawab: “Boleh memindahkannya, dan sah zakatnya, menurut pendapat ulama yang paling kuat.” Namun membayar zakat fitrah di daerah tempat tinggalmu itu lebih baik dan lebih menjaga kehati-hatian dalam beramal. (Majmu’ fatawa syaikh Ibn Baz, 14/215)

Allahu a’lam

(Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits – @konsultasisyariah.com)

Penjelasan Zakat dengan uang:
https://konsultasisyariah.com/7001-zakat-fitrah-dengan-uang.html

Advertisements

GOLONGAN PENERIMA ZAKAT

Posted: 24 June 2017 in PUASA RAMADHAN

Screenshot_2017-06-24-11-35-51-1

Ada 8 golongan yang menerima Zakat berdasarkan Q.S At-Taubah: 60, yaitu diantaranya:

(1) ORANG FAKIR
ialah orang yang tidak memiliki harta benda dan pekerjaan yang mampu mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

(2) ORANG MISKIN
ialah orang yang memiliki pekerjaan, tetapi penghasilanya tidak dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

(3) AMIL
ialah orang yang bertugas melaksanakan pengumpulan dan pembagian zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Panitia ini disyaratkan harus memiliki sifat jujur dan menguasai hukum zakat.

(4) MUALLAF
ialah orang yang baru beberapa saat masuk agama Islam atau orang yang sedang diharapkan masuk Islam. Golongan ini dilihat dari imannya belum kokoh benar, dan justru karena itu masih memerlukan berbagai penyantunan yang menggembirakan.

(5) BUDAK atau HAMBA SAHAYA
Yang dimaksud disini adalah para budak muslim yang telah membuat perjanjian dengan tuannya untuk dimerdekakan dan tidak memiliki uang untuk membayar tebusan atas dirinya, meskipun mereka telah bekerja keras dan membanting tulang mati-matian.

(6) ORANG YANG BERHUTANG
ialah orang yang berhutang demi mencukupi kebutuhan hidup yang primer atau maksud lainnya yang sifatnya halal. Lilitan hutang akhirnya menyebabkan orang tersebut tidak mampu lagi mengembalikannya.

(7) FI SABILILLAH
ialah berbagai bentuk usaha dan perjuangan untuk menyebarluaskan agama Islam serta mempertahankannya. Dalam pengertian ini dapat dimasukkan segala amalan yang memang dimaksudkan untuk da’wah Islam, semacam pendirian sekolah atau madrasah Islam, rumah sakit Islam, mushalla, pembiayaan organisasi perjuangan zakat dan lain sebagainya.

(8) IBNU SABIL
ialah orang yang bepergian (musafir) untuk melaksanakan suatu hal yang baik (tidak termasuk maksiat). Dia diperkirakan tidak akan mencapai maksud dan tujuannya jika tidak dibantu. Sesuatu yang termasuk perbuatan baik ini antara lain, ibadah haji, berperang dijalan Allah, dan ziarah yang dianjurkan.

(Sumber: @rumahzakat)

AT-THOHURU – AL-BARAKATU

Posted: 24 June 2017 in PUASA RAMADHAN

” AT-THOHURU ”

FB_IMG_1498260848578.jpg

At-Thohuru adalah salah satu makna zakat yang artinya membersihkan atau mensucikan. Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu menunaikan zakat karena Allah dan bukan karena ingin dipuji manusia, Allah akan membersihkan dan mensucikan baik hartanya maupun jiwanya.

Allah SWT berfirman dalam surat At-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Selain itu dari harta yang dimiliki terdapat hak orang lain yang harus dikeluarkan. Dengan mengeluarkan zakat, harta menjadi bersih dan pemanfaatannya akan memberikan berkah yang lebih baik. Mengeluarkan yang sedikit untuk mensucikan seluruh harta dan jiwa.

” AL-BARAKATU ”

Salah satu makna Zakat adalah Al-Barakatu, yang artinya berkah.

Imam Al-Ghazali mengatakan, berkah (barokah) berarti ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan). Sementara, Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa berkah memiliki dua arti:
1. Tumbuh, yaitu berkembang atau bertambah.
2. Kebaikan yang berkesinambungan.

Maka dengan menunaikan zakat, ingsyaAllah akan membuat harta kita menjadi berkah. Bukan saja akan bertambah dan berkembang, tapi harta kita juga akan memberikan kebaikan yang terus menerus dalam kehidupan kita.

Link zakat: http://sharinghappiness.org/sedekah/showall/14

(Via: @rumahzakat)

=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=

(1) Pengertian Zakat Fitrah
Zakat Fitrah adalah zakat yang harus dikeluarkan oleh setiap orang Islam pada saat menjelang hari raya Idul Fitri.

(2) Hukum Zakat Fitrah
Zakat Fitrah adalah hukumnya wajib. Berdasarkan Sabda Rasulullah s.a.w. sebagai berikut:

فَرَضَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ الفِطْرِ -مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ

Artinya: Rasulullah telah mewajibkan mengeluarkan Zakat Fitrah (pada bulan Ramadhan kepada setiap manusia). (HR. Bukhari-Muslim)

(3) Orang-orang Yang Wajib Zakat Fitrah
Zakat Fitrah adalah wajib bagi setiap orang Islam, untuk dirinya sendiri dan untuk orang-orang yang berada dalam tanggungannya, yaitu dari:
1. Laki-laki
2. Perempuan
3. Anak-anak
4. Janin
5. Orang dewasa
6. Budak
7. Orangtua
8. Dan setiap orang yang merdeka (bukan budak)

(4) Macam-macam Zakat Fitrah
Zakat Fitrah pada intinya adalah menggunakan makanan atau kebutuhan pokok dari suatu wilayah terkait. Berikut ini adalah hal-hal yang diperbolehkan digunakan untuk Zakat Fitrah:
1. Gandum
2. Kurma
3. Susu
4. Anggur kering
5. Beras
6. Dll.

(5) Ukuran Zakat Fitrah
Menurut pendapat mayoritas ulama, bahwa Zakat Fitrah di keluarkan dengan kadar ukuran 1 sha’, yaitu sekitar 2,5 sampai 3,0 kilogram.

(6) Membagikan Zakat Fitrah
Zakat Fitrah itu harus dibagikan kepada kelompok berikut ini:
1. Fakir
2. Miskin
3. Petugas zakat
4. Muallaf
5. Budak
6. Orang yang terlilit hutang
7. Orang yang sedang dalam jalan Allah
8. Dan orang yang sedang dalam perjalanan jauh yang bukan maksiat.

(7) Waktu menunaikan Zakat Fitrah
Zakat Fitrah ditunaikan pada:
1. Sebelun ditunaikannya shalat Ied
2. Dan boleh dikeluarkan pada awal bulan Ramadhan

Jika Zakat Fitrah dikeluarkan setelah shalat Ied, maka dihitung sebagai shadaqah biasa, dan belum menggugurkan kewajiban zakat fitrah.

Dahulu pada masa Rosulullah, pernah satu kali sahabat Usman ‘KELUPAAN’ membayar zakat fitrah hingga usai shalat Ied.
Begitu beliau ingat, segera beliau pulang dan mengambil seekor unta yang paling bagus miliknya, dan dijualnya.
Kemudian uang hasil penjualan unta tersebut beliau pakai untuk memerdekakan seorang budak.

Setelah itu beliau menghadap Rasulullah dan berkata:
“Ya Rosulullah, Bahwasannya saya telah lupa membayar zakat fitrah, namun saya telah menjual seekor unta yang paling bagus milik saya dan saya gunakan untuk memerdekakan seorang budak… Apakah itu setara nilainya dengan zakat fitrah yang lupa saya bayarkan?”

Dan dihadapan para sahabat, Rasulullah menjawab:
“Sangat merugi bagi siapapun yang tidak membayar zakat fitrah karena pahala zakat fitrah itu sangatlah tak terhingga.”
“Jangankan memerdekakan SEORANG budak, memerdekakan SERATUS orang budak pun takkan dapat menyamai pahala zakat fitrah.”

Semoga ALLAH SWT senantiasa melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-NYA kepada kita semua. Aamiin Ya Rabbal Alaamiin

BERKAH RAMADHAN

Posted: 23 June 2017 in PUASA RAMADHAN

Screenshot_2017-06-06-09-26-32-1-1.png

Salah satu berkah Ramadhan yaitu banyaknya pengampunan dosa.

Dalam beberapa amalan di bulan Ramadhan, kita dapat temukan di dalamnya ada pengampunan dosa. Di antara amalan tersebut adalah ibadah puasa yang kita jalankan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)

Pengampunan dosa di sini bisa diperoleh jika seseorang menjaga diri dari batasan-batasan Allah dan hal-hal yang semestinya dijaga. (Lathoif Al Ma’arif, 364)

Begitu pula pada amalan shalat tarawih, di dalamnya juga terdapat pengampunan dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)

Barangsiapa yang menghidupkan malam lailatul qadar dengan amalan shalat, juga akan mendapatkan pengampunan dosa sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901).

Adapun pengampunan dosa dalam hadits-hadits di atas, dimaksudkan untuk dosa-dosa kecil sebagaimana pendapat mayoritas ulama. (Lathoif Al Ma’arif, 365)

Karena sampai banyaknya pengampunan dosa di bulan suci ini, Qotadah pun mengatakan:
“Siapa saja yang tidak mendapatkan pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain ia pun akan sulit mendapatkan ampunan.” (Lathoif Al Ma’arif, 370-371)

(Via: @rumayshocom)

Surat Perpisahan Ramadhan

Posted: 23 June 2017 in PUASA RAMADHAN

Saudaraku, aku akan pulang…
Sudah dua puluh malam lebih ramadhan bertamu, namun seringkali aku ditinggal sendirian.

Saudaraku, aku akan pulang…
Walau aku sering dikatakan istimewa, namun perlakuanmu kepadaku tak luar biasa.
Oleh-olehku nyaris tak kau sentuh, Al-qur’an hanya dibaca sekilas, kalah dengan update status smartphone dan tontonan.

Saudaraku, aku akan pulang…
Di bulan mulia ini sholatmu tak lebih khusyu, kalah bersaing dengan ingatan akan lebaran.
Tak banyak kau minta ampunan, karena sibuk menumpuk harta demi THR dan belanja lebaran.

Saudaraku, aku akan pulang…
Malam dan siangmu tak banyak dipakai berbuat kebajikan, kalah dengan bisnis yang sedang panen saat Ramadhan.
Tak pula banyak kau bersedekah, karena khawatir tak cukup buat mudik dan liburan.

Saudaraku, aku akan pulang…
Namun, aku seperti tamu yang tak diharapkan.
Hingga sepertinya tak akan menyesal kau kutinggalkan.
Padahal aku datang dengan kemuliaan, seharusnya tak pulang dengan kesia-siaan.

Saudaraku, aku akan pulang…
Percayalah…
Aku pulang belum tentu akan kembali datang sehingga seharusnya kau menyesal telah menelantarkan.

Saudaraku, aku akan pulang…
Kini masih ada beberapa hari kita bersama, tepatnya sepuluh malam terakhir yang banyak didambakan.
Pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir ini akan ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
Yaitu malam lailatul qadar.

Saudaraku, carilah kemuliannya di malam-malam itu.
Perbanyak taubat dan ampunan.
Aku tidak akan memberitahumu kapan tiba waktunya.
Hal itu untuk menguji keimananmu pada Allah SWT semata.

Ramadhan Akan Berlalu

Posted: 23 June 2017 in PUASA RAMADHAN

Screenshot_2017-06-21-18-13-23-1

Saudaraku, masih ingatkah hadits berikut ini: “Celaka seseorang yang memasuki bulan Ramadhan kemudian Ramadhan itu berlalu namun dosanya tidak diampuni oleh Allah.” (HR. Tirmidzi)

Jika hilal terlihat, maka Ramadhan akan berlalu tepat dengan tenggelamnya mentari esok hari.

Masihkah kita tenggelam dalam eforia kemenangan yang belum nyata?
Segarkan lagi ingatan kita, berapa dosa yang kita lakukan di bulan suci ini?
Benar, kita berpuasa namun apakah kita mempuasakan tubuh kita dari dosa?
Benar, kita telah tarawih namun berapakah tarawih yang kita lakukan dengan khusyu’?
Benar, kita telah mengkhatamkan Al-Quran, tapi berapa ayatkah yang berhasil kita resapi dan tuangkan dalam kehidupan sehari-hari?
Masih layakkah kita merayakan hari kemenangan di esok lusa?

Saudaraku, jangan berkecil hati…
Hidupkanlah malam terakhir ini dan yakinlah dengan sabda sang Nabi:
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung akhirnya.” (HR. Bukhari)

Perbanyaklah beristighfar dan panjatkanlah: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan menyukai ampunan, maka ampunilah aku.”

Iringilah malam ini dengan doa:
“Robbana..Taqobbal minna..” Artinya: “Ya Allah, terimalah amal ibadah kami.”
Dan optimislah dengan firman-Nya:
“Mintalah kepada-Ku, niscaya Aku akan kabulkan.” (QS. Ghafir: 60)

Kita memiliki Rabb Yang Maha Pengampun dan Penyanyang, namun Yang Maha Pengampun ini meminta kita berjuang sampai akhir.

Lakukan apapun agar dosa diampuni!
Juara sejati tidak akan berhenti berlari sampai ia menyentuhkan kakinya di garis finis.

Saudaraku, jadikanlah akhir Ramadhan sebagai momentum ketaqwaan sampai akhir hayat nanti!

(Ustadz M Nuzul Dzikri – @kajianislamchannel)