Archive for the ‘PUASA RAMADHAN’ Category

Screenshot_2017-06-26-16-08-10-1

PERTANYAAN:
Mana yang lebih utama puasa (enam hari) berturut-turut atau terpisah?

JAWABAN:

الأفضل صيام ستة أيام من شوال أن تكون متتابعة، وأن تكون بعد يوم الفطر مباشرة؛ بما في ذلك من المسارعة إلى الخير، ولا بأس أن يؤخر ابتداء صومها عن اليوم الثاني من شوال، ولا بأس أن يصومها الإنسان متفرقة إلى آخر الشهر؛ لعموم قوله صلى الله عليه وسلم: من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال فكأنما صام الدهر كله. ولم يشترط النبي صلى الله عليه وسلم أن تكون متتابعة، ولا أن تكون بعد رمضان مباشرة

🔴 Lebih utama puasa enam hari di bulan Syawal dilakukan secara berturut-turut dan dilakukan langsung setelah hari Idul Fitri. Karena yang demikian ini merupakan upaya untuk bersegera melakukan kebaikan.

🔴 Namun tidak mengapa ditunda permulaan puasanya dari hari kedua bulan Syawal. Tidak masalah pula seseorang melakukannya secara terpisah hingga akhir bulan. Ini berdasarkan keumuman sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: “Siapa saja yang puasa Ramadhan lalu mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah dia puasa sepanjang tahun.”

Dalam hadis ini Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak mempersyaratkan harus berturut-turut puasanya dan tidak pula harus langsung setelah Ramadhan.

Referensi:
👤 Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah
📚 Silsilah Fatawa Nur ‘alad Darb kaset nomor 239
🌍 Web | shahihfiqih.com/fatwa/cara-mengerjakan-puasa-6-hari-di-bulan-syawwal/

Dari Abu Ayyub Al Anshori, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)

Imam Nawawi rahimahullah berkata:
”Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut sehari setelah shalat ’Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan. Karena seperti itu pun disebut menjalankan puasa enam hari Syawal setelah Ramadhan.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)

FAQ:
(1) Mulai kapan waktu puasa syawal?
Jawab: mulai 2 syawal sampai 30 syawal.

(2) Apakah harus berurutan puasanya?
Jawab: tidak harus berturut-turut.

(3) Jika ada hutang puasa lebih utama membayar hutang puasa (qadha’) atau puasa syawal?
Jawab: lebih utama membayar hutang puasa (qadha’) dulu, apalagi di hadits kan bilangnya menyempurnakan puasa ramadhan dulu, baru dilanjutkan puasa 6 hari di bulan syawal.

(4) Apakah niat puasa syawal bisa digabung dengan membayar hutang puasa?
Jawab: tidak bisa, yang boleh niatnya digabung itu kalo sama2 puasa sunnah, misal puasa syawal,  digabung niat puasa senin kamis/puasa tengah bulan.

(5) Bagaimana lafadz bacaan niat puasa syawal?
Jawab: Niat itu amalan hati, tidak perlu dilafadzkan. Anda sahur diniatkan untuk puasa syawal maka sudah cukup.

Semoga Allah memudahkan kita menjalankan ibadah puasa enam hari di bulan Syawal sehingga bisa meraih keutamaan puasa setahun.

(@indonesiabertauhidofficial – UstadzBadrusalam)

PUASA SYAWAL

Posted: 1 July 2017 in PUASA RAMADHAN, Sunnah Rasul

Screenshot_2017-06-26-06-50-05-1

Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)

“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal. Puasa ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56 dan Syarh Riyadhus Sholihin, 3/465).

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat ini bagi umat Islam.
Lebih baik bagi seseorang yang masih memiliki qodho’ puasa Ramadhan untuk menunaikannya daripada melakukan puasa Syawal. Karena tentu saja perkara yang wajib haruslah lebih diutamakan daripada perkara yang sunnah.

Alasan lainnya adalah karena dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” Jadi apabila puasa Ramadhannya belum sempurna karena masih ada tanggungan puasa, maka tanggungan tersebut harus ditunaikan terlebih dahulu agar mendapatkan pahala semisal puasa setahun penuh.

Apabila seseorang menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu dan masih ada tanggungan puasa, maka puasanya dianggap puasa sunnah muthlaq (puasa sunnah biasa) dan tidak mendapatkan ganjaran puasa Syawal karena kita kembali ke perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” (Lihat Syarhul Mumthi’, 3/89, 100)

(Via: @rumayshocom)

Kaum muslimin yang berangkat menuju tempat shalat idul fitri disunahkan melakukan adab-adab berikut ini:

(1) Mandi sebelum berangkat
Dari Nafi’ berkata:
“Adalah Ibnu Umar RA mandi pada hari raya idul fitri sebelum keluar menuju tempat shalat.” (HR. Malik, Syafi’I, dan Abdur Razzaq dengan sanad shahih).
Apa yang dilakukan oleh Ibnu Umar RA adalah mencontoh Rasulullah SAW, sebagaimana dilakukan juga oleh Ali bin Abi Thalib dan para sahabat yang lain.

(2) Makan ringan sebelum berangkat shalat idul fitri
Dari Anas, “Rasulullah SAW tidak berangkat menuju shalat Idul fitri sebelum beliau makan beberapa biji kurma.” (HR. Bukhari no. 953)

Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fitri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.” (HR. Ahmad 5/352)

(3) Berhias dan memakai pakaian yang baik dan bersih
Dari Jabir bin Abdullah RA berkata:
“Rasulullah SAW memiliki satu jubah khusus yang beliau kenakan untuk shalat dua hari raya dan shalat Jum’at.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1669)

Dari Ibnu Umar RA berkata:
“Umar membeli sebuah jubah dari sutra yang dijual di pasar. Ia membawanya kepada Rasulullah SAW dan berkata:
“Wahai Rasulullah, belilah baju ini, agar bisa Anda kenakan saat hari ied dan menerima utusan…” (HR. Bukhari no. 886 dan Muslim no. 2068)

(4) Barangkat dan pulang melalui jalan yang berbeda jika memungkinkan dan tidak memberatkan
Dari Jabir RA, “Rasulullah SAW jika shalat pada hari ied selalu melewati jalan yang berlainan (saat berangkat dan pulang).” (HR. Bukhari no. 986)

(Via: @hijabalila)

ADAB DI HARI RAYA

Posted: 24 June 2017 in PUASA RAMADHAN

FB_IMG_1498307392421-1

(1) MANDI HARI RAYA
“Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat ke lapangan.” (HR. Malik & asy-Syafi’i, sanadnya shahih)

(2) BERHIAS, BERSIWAK, DAN MEMAKAI WEWANGIAN (BAGI LAKI-LAKI)
“Sesungguhnya hari ini adalah hari raya yang Allah jadikan untuk kaum muslimin. Barangsiapa yang hadir jum’atan, hendaknya dia mandi. Jika dia punya wewangian, hendaknya dia gunakan, dan kalian harus gosok gigi.” (HR. Ibn Majah, dihasankan Al-Albani)

(3) MENGENAKAN PAKAIAN TERBAIK
“Nabi Shallallahu’alahi Wassallam memiliki jubah yang beliau gunakan ketika hari raya dan hari Jum’at.” (HR. Ibn Khuzaimah)

(4) IDUL FITRI: MAKAN SEBELUM SHALAT ID
IDUL ADHA: TIDAK MAKAN SEBELUM SHALAT ID
“Nabi Shallallahu’alahi Wassallam biasanya tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga makan terlebih dahulu, dan tidak makan pada hari Idul Adha hingga beliau kembali dari shalat, lalu makan dengan daging sembelihannya.” (HR. Muslim)

(5) BERJALAN KAKI MENUJU TEMPAT SHOLAT ID
Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu anhu berkata: “Termasuk perbuatan sunnah, kamu keluar mendatangi sholat Id dengan berjalan kaki.” (HR.  At-Tirmidzi)

(6) BERBEDA JALAN MENUJU DAN PULANG SHALAT ID
“Nabi Shallallahu’alahi Wasallam biasanya ketika hari Id mengambil jalan yang berbeda antara pulang dan pergi.” (HR. Bukhari)

(7) BERTAKBIR DARI KELUAR RUMAH HINGGA MULAI SHALAT
“Rasulullah Shallallahu’alahi Wassallam biasa ketika keluar pada hari Idul Fitri, beliau bertakbir sampai di (lapangan) tempat sholat, sampai didirikan sholat, apabila sholat telah ditegakkan maka terputuslah takbir.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, shahih)

(8) SHALAT ID DI TEMPAT TERBUKA KECUALI ADA UDZUR
“Rasulullah Shallallahu’alahi Wassallam biasa keluar pada hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha menuju tanah lapang.”  (HR. Bukhari & Muslim)

(9) TIDAK ADA SHALAT SEBELUM DAN SESUDAH SHALAT ID
“Nabi Shallallahu’alahi Wassallam menuju lapangan ketika Idul Fitri, kemudian shalat dua rakaat. Tidak shalat sunah sebelum maupun sesudahnya. Dan beliau bersama Bilal.” (HR. Bukhari & al-Baihaqi)

(10) TIDAK ADA ADZAN DAN IQAMAH UNTUK SHALAT ID
Dari Jabir bin samurah radliallahu ‘anhu:
“Saya shalat hari raya bersama Nabi Shallallahu’alahi Wassallam beberapa kali, tidak ada adzan dan qamat.” (HR. Muslim)

(11) DIBOLEHKAN SALING MENGUCAP SELAMAT
Sunnah para ulama mengucapkan selamat dan do’a: “Taqaballahu minna wa minkum” -Semoga Allah menerima ibadah saya dan anda.-
Fatma para ulama besar bahwa ucapan do’a dan selamat bebas selama tidak menyalahi syariat, misalnya “Minal aidzin wa faidzin”.

(12) BATAS BERZAKAT FITRAH SEBELUM SHOLAT IDUL FITRI
“Barang siapa yang menunaikan zakat fitri sebelum shalat maka itu adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka statusnya hanya sedekah.” (HR. Abu Daud & Ibnu Majah, dihasankan Al-Albani)

(13) MENYEMBELIH KURBAN SETELAH SHOLAT IDUL ADHA
“Barangsiapa yang menyembelih sebelum sholat, berarti ia menyembelih hanya untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang menyembelih sesudah sholat, maka telah sempurnalah qurbannya dan sesuai dengan sunnahnya kaum muslimin.” (HR. Bukhari)

(Sumber: almanhaj.or.id, belajarhadits.com, rumaysho.com, konsultasisyariah.com)

PANDUAN ZAKAT FITRAH

Posted: 24 June 2017 in PUASA RAMADHAN

“WAKTU MEMBAYAR ZAKAT FITRAH”

Dilihat dari waktunya, pembayaran zakat fitrah ada 4 tingkatan:

(1) Dibolehkan membayar zakat fitrah sehari atau dua hari sebelum hari raya.
“Ibn Umar radliallahu ‘anhu, bahwa beliau membayar zakat fitrah kepada panitia penerima zakat fitrah. Mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fitrah sehari atau dua hari sebelum hari raya.” (HR. Bukhari secara muallaq, keterangan hadis no. 1511)

(2) Dianjurkan mengeluarkan zakat fitrah pada pagi hari raya sebelum shalat id.
“Bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan zakat fitrah untuk dibayarkan sebelum masyarakat berangkat shalat id.” (HR. Bukhari 1509)

(3) Tidak boleh menunda pembayaran zakat fitrah sampai setelah shalat. Barangsiapa yang mengakhirkan pembayaran zakat fitrah setelah shalat tanpa udzur maka dia harus bertaubat dan segera mengeluarkannya.
“Siapa yang menunaikan zakat fitrah sebelum shalat id, maka zakatnya diterima. Dan siapa yang memberikannya setelah shalat id, maka nilainya hanya sedekah biasa.” (HR. Abu Daud 1609, Ibn Majah 1827, dan dihasankan Al-Albani)

“ZAKAT FITRAH HANYA DENGAN BAHAN MAKANAN POKOK”

Zakat fitrah hanya boleh dibayarkan dalam bentuk bahan makanan yang umumnya digunakan masyarakat setempat, seperti beras, kurma, atau gandum.
“Kami mengeluarkan zakat fitrah pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan satu sha’ bahan makanan.” (HR. Bukhari 1510)

“Yang menjadi makanan pokok kami adalah gandum, anggur kering, keju, dan kurma.” (HR. Bukhari 1510)

Bolehkah membayar zakat fitrah dalam bentuk uang?
Tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang. Karena hal ini bertolak belakang dengan ajaran nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini adalah pendapat hampir seluruh ulama.

Imam Malik mengatakan:
“Tidak sah jika seseorang membayar zakat fitri dengan mata uang apa pun. Tidak demikian yang diperintahkan Nabi.” (Al-Mudawwanah Syahnun)

Imam Asy-Syafi’i mengatakan:
“Penunaian zakat fitri wajib dalam bentuk satu sha’ dari umumnya bahan makanan di negeri tersebut pada tahun tersebut.” (Ad-Din Al-Khash)

Imam Ibn Qudamah mengatakan:
“Jika ada orang yang mengeluarkan zakat dengan selain bahan makanan, berarti dia telah menyimpang dari dalil nas, sehingga tidak sah, seperti mengeluarkan zakat dalam bentuk uang. (Al mughni, 5/482)”

An Nawawi mengatakan:
“Tidak sah membayar zakat fitrah dengan uang menurut madzhab kami. Ini adalah pendapat Malik, Ahmad dan Ibnul Mundzir.” (Al Majmu’, 6/144)

“UKURAN ZAKAT FITRAH”

Ukurannya satu sha’ untuk semua jenis abahan makanan.
Ukuran satu sha’ itu sama dengan empat mud. Sedangkan satu mud adalah ukuran takaran yang sama dengan satu cakupan dua tangan. Ukuran satu sha’ kurang lebih setara dengan 3 kg. (Majmu’ fatawa komite fatwa Arab saudi, no. Fatwa: 12572)

“ZAKAT FITRAH HANYA UNTUK ORANG MISKIN”

Golongan yang berhak menerima zakat fitrah adalah fakir miskin saja, dan tidak boleh diberikan kepada selain fakir miskin.

Ibnul Qoyim mengatakan:
Diantara petunjuk nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengkhususkan fakir miskin untuk zakat ini (zakat fitrah). Beliau tidak membagikannya kepada semua golongan penerima zakat yang jumlahnya delapan. Beliau juga tidak memerintahkannya, dan tidak ada seorangpun sahabat yang melakukannya, tidak pula ulama setelahnya. (Zadul Ma’ad, 2/21)

“ZAKAT FITRAH DIBAYAR DI TEMPAT”

Hukum asalnya, zakat fitrah didistribusikan kepada fakir miskin yang berada di daerah orang yang membayar zakat. Namun, dibolehkan mengirim zakat fitrah ke daerah lain karena adanya kebutuhan atau maslahat lainnya.

Syaikh Abdul Aziz bin baz rahimahullah ditanya  tentang hukum memindahkan zakat fitrah.
Beliau menjawab: “Boleh memindahkannya, dan sah zakatnya, menurut pendapat ulama yang paling kuat.” Namun membayar zakat fitrah di daerah tempat tinggalmu itu lebih baik dan lebih menjaga kehati-hatian dalam beramal. (Majmu’ fatawa syaikh Ibn Baz, 14/215)

Allahu a’lam

(Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits – @konsultasisyariah.com)

Penjelasan Zakat dengan uang:
https://konsultasisyariah.com/7001-zakat-fitrah-dengan-uang.html