Archive for the ‘MENDIDIK ANAK’ Category

20170509_054140

“Pengertian Tarbiyah”

Tarbiyah sedikitnya memiliki tiga asal kata yaitu:
(1) Robaa-yarbuu yang berarti bertambah dan berkembang, (Ar-Rum: 39).
(2) Robiya-yarba yang berarti tumbuh dan terbina. (3) Robba-yarubbu yang berarti mengishlah, mengurus dan memberi perhatian.

Dalam kitab Mufradat, Ar-Raghib Al-Ashfahani mengatakan:
“Makna asal dari kata “Robb” adalah menumbuhkan/mencetak sesuatu secara bertahap sampai batas kesempurnaan.”

Ustadz Abdurrahman Al-Bani dalam tulisannya: “Madkhal Ilat-Tarbiyah” menegaskan bahwa kata “Tarbiyah” itu memiliki empat unsur makna yaitu:
(1) Menjaga dan memelihara fitrah anak.
(2) Mengembangkan potensi dan menyiapkannya.
(3) Mengarahkan fitrah dan petensi tersebut secara baik dan sempurna.
(4) Bertahap dalam menjalankannya sebagaimana yang diisyaratkan oleh Imam Baidhawi di atas.

Dari dasar-dasar pengertian tarbiyah di atas dapat disimpulkan bahwa:

(1) Tarbiyah adalah sebuah amaliyah yang memiliki sasaran dan tujuan.

(2) Murabbi (pendidik) yang sebenarnya adalah Allah SWT yang telah menciptakan fitrah manusia dan menganugerahkan berbagai potensi kepada manusia. Dialah yang telah menggariskan konsep dan tuntunan untuk mengembangkannya sebagaimana Ia telah mensyari’atkan sebuah aturan untuk mengatur pelaksanaannya.

(3) Tarbiyah menuntut kita untuk membuat perencanaan yang bersifat bertahap dan teratur sesuai dengan marhalah-marhalahnya.

(4) Tugas Murabbi harus mengikuti dan tunduk kepada aturan Allah dan tuntutan dien-Nya.

“Hubungan Antara Islam dan Tarbiyah”

Islam adalah syari’ah Allah untuk seluruh manusia agar dijadikan pedoman dalam beribadah kepada-Nya termasuk di dalamnya membina dan mendidik generasi Islam agar menjadi hamba-hamba-Nya yang berserah diri dan patuh kepada syari’ah-Nya. Pembinaan dan pendidikan seperti inilah yang dimaksud dengan tarbiyah islamiyah.

Syari’at Islam tidak mungkin dapat diwujudkan kecuali dengan cara melakukan pembinaan jiwa, pembinaan generasi dan masyarakat di atas landasan iman kepada Allah, muroqobah dan berserah diri serta tunduk dan patuh hanya kepada-Nya.

Dengan demikian tarbiyah islamiyah merupakan kewajiban atas setiap orangtua dan pendidik dan amanat yang harus dipikul dari generasi ke generasi, dan celakalah bagi siapa saja yang menghianatinya atau menyimpang dan keluar dari tujuannya.

Tujuan tarbiyah islamiyah adalah membina dan mendidik manusia agar bertahkim kepada syari’ah Allah dalam segala prilakunya dengan penuh kepasrahan dan tidak ada rasa sempit dan keberatan sedikitpun di dalam dadanya. (lihat: An-Nisa: 65)

Kemudian surat Al-‘Ashr, sebagaimana dikatakan oleh DR. Abdurrahman An-Nahlawi, juga mengisyaratkan bahwa agar manusia selamat dari kerugian dan siksa Allah, harus dilakukan tiga hal:
(1) Tarbiyatul fardi (membina individu) di atas landasan iman kepada Allah, istislam kepada syari’ah-Nya dan iman kepada yang ghaib.

(2) Tarbiyatun-nafs (membina jiwa) agar beramal shalih dan dan membiasakan hidup sehari-hari sesuai dengan manhaj Islam.

(3) Tarbiyatul mujtama’ (membina masyarakat) agar senantiasa saling berwasiat untuk mengamalkan kebenaran dan sabar dalam menghadapi cobaan dalam beribadah kepada Allah SWT.

“Asas dan Dasar Tarbiyah Islamiyah”

Tarbiyah Islamiyah adalah sesuatu yang mesti dilakukan, tidak boleh tidak. Tujuannya, sebagaimana telah dijelaskan, adalah merealisasikan Islam dalam wujud nyata sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah swt. Ini berarti tarbiyah islamiyah harus berasaskan kepada asas yang semestinya yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

(1) AL-QUR’AN

Tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur’an telah meninggalkan pengaruh yang kuat dalam diri Rasulullah saw dan para sahabatnya -ridhwanullah ‘alaihim-. Hal itu telah ditegaskan oleh Ummul Mukminin Aisyah ra:
“Akhlak Rasulullah saw adalah Al-Qur’an.”

Bahkan sebelumnya Allah SWT telah menegaskan:
“Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil.” (Q.S Al-Furqan: 32)

Dalam ayat di atas terdapat dua isayart tarbawiyah: Pertama, peneguhan hati dan penanaman keimanan. Dan kedua, ta’limul Qur’an. Dan karena itu pula Allah swt turunkan wasiat tarbawiyah-Nya kepada Rasul-Nya saw dalam surat Al-Qiyamah: 17-19.

Begitu juga halnya para sahabat. Mereka terdidik dengan Al-Qur’an sehingga tumbuh menjadi generasi yang tangguh. Salah seorang dari mereka mengatakan:
“Kami di masa Rasulullah saw tidak pernah melewati satu surat dari Al-Qur’an sehingga kami mengamalkannya, kami mempelajari ilmu sekaligus mengamalkannya.”

(2) AS-SUNNAH

Sunnah artinya adalah cara dan konsep. Pengertian ilmiahnya adalah kumpulan perkataan, perbuatan, dan taqrir Rasulullah saw, termasuk di dalamnya segala apa yang dicintai dan dibencinya. Ringkasnya adalah

As-Sunnah berfungsi untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Quran yang bersifat global dan mejelaskan apa yang belum disebutkan di dalam Al-Quran secara tegas.

Dalam kaitannya dengan tarbiyah, As-Sunnah telah memberikan penjelasan dan perincian konsep tarbiyah di dalam Al-Qur’an yang masih mujmal, langsung dengan sabda-sabda dan tindakan-tindakan Rasulullah saw sendiri. Kemudian para sahabat menyimpulkan beberapa uslub (metode) tarbiyah langsung dari kehidupan Rasulullah saw dan menerapkannya dalam mendidik putra-putranya.

PENUTUP:

(1) Menjadikan konsep tarbiyah islamiyah dengan pengertiannya yang universal sebagai acuan dan contoh dalam membina dan mendidik putra-putranya.

(2) Tidak mengadopsi atau meniru konsep-konsep kafir atau metode yang dilarang oleh nash syar’i.

(3) Mengembangkan pola pendidikan secara modern dengan tetap mengikat diri dengan ikatan-ikatan syar’i.

(4) Tidak silau dengan lahirnya metode-metode atau konsep-konsep pendidikan dari barat atau kaum sekular. Sebaliknya, harus yakin bahwa Islam adalah metode dan konsep yang paling sempurna, tidak bisa ditandingi oleh konsep siapapun.

(5) Merujuk kepada literarur Islam yang membahas tentang tarbiyah dan ta’lim, seperti kitab Tarbiyatul Aulad karya DR. Abdullah Nashih ‘Ulwan.
(Sumber: http://ferrypalestine.blogspot.co.id/2013/05/apa-itu-tarbiyah.html?m=1)

AGAR ANAK KECANDUAN SHALAT

Posted: 12 February 2017 in MENDIDIK ANAK

Screenshot_2016-06-21-04-54-52-1.png

MEMILIKI buah hati yang shaleh dan shaleha, tentu menjadi idaman bagi seiap orang tua. Apalagi ketika si buah hati rajin dan menjaga shalatnya, hal tersebut pastinya jadi kebahagiaan tersendiri bagi para ayah dan bunda.

Namun hanya berkeinginan semata, tanpa berupaya menuju ke sana—ibaratkan pungguk merindukan bulan—ia akhirnya menjadi sesuatu yang sukar diwujudkan. Lalu bagaiman agar anak kita rajin shalat? Lebih dari itu, ia malah kecanduan shalat.

Berikut langkah-langkah agar anak kita kecanduan shalat, seperti dikutip dari Moslem Family:

1. Jadilah Teladan

Anak adalah peniru yang sangat hebat. Sejak usia dini, buah hati kita sangat memerhatikan gerak-gerik kedua orang tuanya. Itu cara kerja otak mereka, mengamati dan kemudian meniru.

Tak jarang ketika orang tuanya tengah menunaikan shalat, buah hati kita meniru gerakan yang sama—semisal menungging ketika orang tuanya sujud. Itu adalah salah satu pertanda ia mengamati dan meniru dengan sangat baik.

Menjadi teladan bagi anak, dengan tepat waktu menunaikan shalat, akan menjadi gerbang pembuka bagi si buah hati agar kecanduan shalat.

2. Mengajak anak untuk shalat.

Kapankah waktu terbaik untuk mulai mengajak anak shalat? Abdullah bin Habib menyampaikan sabda Rasulullah Saw,

“Apabila seorang anak dapat membedakan mana kanan dan kiri, maka perintahkanlah dia untuk mengerjakan shalat.” (HR Ath-Thabari)

Kondisi ini—mampu membedakan kanan dan kiri—itu menjadi pertanda otak anak kita telah berkembang. Di masa ini, mulailah mengajak buah hati kita untuk shalat.

3. Ajarkan shalat di usia 7 tahun

Usia 7 tahun menjadi syarat minimum anak untuk memasuki bangku sekolah, itu sesuai saran psikolog yang menganjurkan agar anak mulai diajarkan soal tanggung jawab—termasuk urusan shalat.
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah berikut, “Perintahkanlah anak kecil untuk shalat apabila sudah berusia tujuh tahun…” (HR Abu Dawud dan al-Hakim)

Pada usia ini, sebaiknya kedua orang tua mulai mengajarkan rukun-rukun shalat, kewajiban-kewajiban shalat, dan pembatal-pembatal shalat.

4. Mengajak anak ikut shalat berjamah di masjid

Setelah diajarkan mengenai shalat, hal berikutnya adalah membiasakan buah hati untuk shalat berjemaah. Ini dilakukan agar membangun suasana yang pas bagi buah hati.

Seperti diketahui, pekerjaaan yang dilakukan sendiri akan terasa berat, sementara jika dilakukan bersama-sama itu akan terasa ringan—termasuk shalat. Dengan berjemaah, kita membangun persepsi bahwa shalat itu menyenangkan. Apalagi ketika bertemu dengan teman sebaya di masjid.

Ajaklah ia ketika shalat maghrib, isya, maupun subuh, dan atau shalat jum’at. Ini dilakukan agar ada pendampingan pula dari ayahnya.

5. Berilah hukuman di usia 10 tahun jika anak lalai dalam shalat

Tahapan ini dimulai pada usia 10 tahun, beberapa tahun sebelum anak baligh. Sesuai kelanjutan dari hadits riwayat Abu Dawud dan al Hakim dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash sebelumnya,

Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat pada usia 7 tahun dan pukullah mereka untuk shalat pada usia 10 tahun serta pisahkanlah tempat tidur mereka.

Oleh karena itu, pertanda seorang ayah cinta pada anaknya adalah memastikan kalau anaknya menjalankan kewajiban shalat saat anaknya baligh. Tahapan menghukum jika anak lalai dalam shalat tentunya diperlukan agar anak benar-benar memahami hal ini baik secara sadar maupun di alam bawah sadarnya. Wallahu a’lam

(Via: http://www.islampos.com)

screenshot_2017-01-04-11-36-57-1

TENTANG MENDIDIK ANAK

Posted: 29 December 2016 in MENDIDIK ANAK

img_20161229_085658

Kebanyakan orangtua tak sabar melihat tingkah laku anak yang dianggap ‘nakal’, tanpa menanyakan dulu alasan.

Kelincahan anak di masa kecil akan menambah kecerdasannya ketika dewasa. (HR. Tirmidzi)

Menghargai mainan anak dan tidak melarang anak bermain. Menurut Al-Ghazali, melarang anak bermain akan memadamkan kecerdasannya.

Mendidik anak adalah upaya yang luar biasa, karena orangtua mesti baguskan dirinya termasuk menahan hawa nafsunya.

Jika ada anak membully, orangtua mesti introspeksi, bisa jadi itu buah dari tangan dan lidah orangtua.

Anak berisik membuat pusing kepala, orangtua meluncurkan ancamannya, padahal cukup minta tolong anak kecilkan suara.

Orangtua santun pada anak, anak pun santun pada adik atau teman, itu juga rantai pendidikan.

Menurut penelitian, anak yang kekurangan perhatian menunjukkan keterlambatan pertumbuhan emosi dan sosial seperti agresif, hiperaktivitas, bahkan autisme.

Pelukan kasih sayang saat bayi, kanak-kanak menjadikan pribadi anak yang tidak gampang stress (Penelitian Journal of Epidemiology and Community Health).

Studi Univ of Itali, anak yang sering mendapat pelukan dari orangtuanya lebih terhindar dari depresi, dan timbul percaya diri untuk selesaikan masalah.

Motivasi orangtua bagi anak bagaikan suplemen yang menyemangatkan diri, disinilah terbangun optimis diri.

Menjadikan anak optimis, bangun rasa percaya diri anak dengan mendengarkan saat ia berbicara dan orangtua segera memenuhi panggilan anaknya.

Bercerita kisah-kisah tangguh dimana tokoh mampu mengatasi perasaan negatif,  memberi gambaran untuk anak begitulah sikap yang harus dimiliki.

Menjadikan anak optimis, sejak dalam kandungan kenalkan anak kata-kata positif, ibu pun bersikap optimis.

Membangun anak optimis adalah tanggungjawab orangtua, agar kelak anak menjadi tangguh menjalankan hidupnya.

Jika anak-anak percaya pada orangtua, tidak hanya perkataan orangtua didengarnya, tapi orangtua juga akan menjadi tempat curhatnya.

Anak-anak tak menaruh percaya pada orangtua, mungkin saja orangtua sering permisif dengan aturan yang telah dibuatnya.

Anak-anak tak menaruh percaya pada orangtua, mungkin saja perilaku orangtua tak mencerminkan nasehatnya.

Anak-anak tak menaruh percaya pada orangtuanya, mestinya introspeksi perlu dilakukan orangtua.

Anak-anak tak menaruh percaya pada orangtuanya, perkataan atau nasehat orangtua tak didengarnya, sakitnya tuh disini disana dan disitu.

Orangtua sangat mudah menitipkan anak ke para pengasuh anak, padahal di usia emas anak, masa penting membentuk pondasi anak.

Masa kanak-kanak adalah usia emas anak, tak akan pernah terulang saat terlewat. Orangtua hebat berusaha gunakan kesempatan ini dengan tepat.

Jika pondasi anak-anak kuat, merekalah yang membuat orangtua menjadi mulia kelak.

Hanya sekali saja, kesempatan orangtua ikut andil di usia emas anak. Kuat lemahnya pondasi anak, orangtua akan diminta pertanggungjawaban kelak.

Emotional ibu akan tertular pada anak saat mengandung dan melakukan pengasuhan.

Pendidikan ibu pada anak telah berlangsung sejak anak dalam kandungan bahkan sumber lain mengatakan sejak suami istri berhubungan.

Dibalik anak berakhlak, ada ibu berakhlak dibelakangnya.

Dibalik anak sukses, ada ibu hebat yang mensupport dan mendo’akannya.

Anakmu, saat investasi itu dipupuk untuk tujuan dunia dan akhirat, kelak kau akan mulia dan berbahagia selamanya.

Anakmu, saat investasi itu hanya dipupuk untuk tujuan dunia saja, bisa jadi ia membuatmu bahagia, tapi hanya sementara.

Anakmu, saat investasi itu tak dipupuk, ia akan membuatmu rugi serugi-ruginya, bahkan kerugian yang tak pernah ditemui di dunia.

Anakmu salah satu investasi terbaikmu.
Anakmu bukan hanya investasi untuk duniamu tapi juga untuk akhiratmu.

Semoga anak-anak kita dengan akhlaknya memberi gambaran betapa bagus keluarganya dan betapa indah agamanya.

Semoga anak-anak kita menjadi jalan kebahagiaan manusia, sehingga selalu dinanti-nantikan kehadirannya.

Dari hal terkecil agar anak mandiri, percayai anak mengambil minum sendiri, orangtua tetap mengawasi. Jika cara anak belum betul, orangtua yang meluruskan.

Anak yang beradab, tentunya ia tahu aturan, tak perlu dengan omelan, anak beradab tentu tahu waktunya pulang.

Anak yang beradab, tentunya ia punya rasa hormat, tak perlu dituntut dengan orangtua harus hormat. Anak beradab tentulah hormat.

Anak masih kecil itulah waktu yang tepat untuk anak mengenal adab, tapi ironis banyak orangtua sibuk agar anak kecil prestasi di sekolah mantap.

Anak yang beradab, tentunya ia punya tanggungjawab, tak perlu dipaksa belajar. Anak beradab tentu tahu tanggungjawab.

Dengan anak siapa saja, berikan senyuman dan dukungan untuk mereka. Semoga anak-anak kita pun diperlakukan sama.

Melihat anak orang banyak bergerak, terburu-buru kita melabelnya nakal, menarik anak kita untuk menjauhinya. Bagaimana kalau posisi itu terbalik yah…??

Mendidik anak bukan seperti makan sambal, dimakan langsung terasa pedas. Mendidik butuh proses.

Mendidik anak sesuai harapan bukan seperti membuat mie instan, dibuat beberapa saat lalu bisa merasakan kenikmatan. Mendidik butuh kesabaran.

Mendidik anak menemukan kesulitan, tak ada jawaban yang lebih baik kecuali ‘sabar’. Terus mendidik dengan ilmu dan iman lalu sabar.

Mendidik anak pun butuh latihan. Latihannya berkecimpung dengan kesabaran, harus sering-sering buang kemarahan. Jika marah, lebih baik diam atau do’akan.

Mendisiplinkan anak, latihannya adalah mendisiplinkan diri. Orangtua bangun pagi, anak mengikuti. Di awal agak sulit, tapi harus terus dilatih.

Sosok ayah bagi anak perempuan, menjadi tolak ukur untuk kelak memilih pasangan hidupnya.

Anak perempuan yang tidak mendapat perhatian dari ayah, ia akan mencari perhatian dan kasih sayang laki-laki di luaran sana.

Dari seorang ayah anak belajar bagaimana semestinya bergaul dengan laki-laki.

Saat anak perempuan merasa ia tercantik di mata ayahnya, meski ia pendek atau berkulit gelap, saat itu terbangun rasa percaya dirinya.

Sikap ayah pada anak perempuan dan ibunya akan membangun persepsi seorang anak perempuan tentang laki-laki.

Anak yang sering mendapat pelukan ayah cenderung menjadi anak mandiri, tidak penakut, dan lebih kuat dalam berinteraksi dalam kehidupan sosialnya.

Anak yang sering mendapat pelukan ibu akan menjadi pribadi yang mudah memberikan kasih sayang atau rasa simpati kepada orang lain.

Pelukan seorang ibu akan mentransfer sifat penuh kasih atau empati pada anak.

Pelukan untuk anak berkhasiat luar biasa, tentunya untuk anak bayi dan balita. Ini dicontohkan pula oleh Rasulullah.

Memeluk pasangan sah dengan penuh kasih sayang, maka bertambahlah angka harapan hidupnya. Wajar kalau penampilan pasangan jadi lebih awet muda.

Pelukan diyakini dapat menambah angka harapan hidup pasangan. Nggak main-main, satu pelukan bisa meningkatkan angka harapan hidup satu hari.

Saat berpelukan, tubuh melepaskan hormon oxytocin yang terkait dengan rasa damai dan melekat. Tak heran kalau ini kemudian menyuburkan sikap setia.

Pendidikan di rumah dan sekolah harus mencakup akal, fisik, jiwa dan agama agar terasa manfaatnya dikehidupan nyata.

Pastikan pendidikan anak-anak mencakup pendidikan akal, fisik, jiwa dan agama, baik di rumah ataupun di sekolah.

Mewariskan harta pada anak-anak bisa jadi menghancurkan, mewariskan ilmu dan akhlak membawa keselamatan.

Sebaik-baik warisan yang diberikan orangtua kepada anaknya adalah pendidikan dan akhlak yang baik.

KELINCAHAN ANAK KECIL

Posted: 29 December 2016 in MENDIDIK ANAK

img_20161229_085845

Kelincahan anak di masa kecil akan menambah kecerdasannya ketika dewasa. (HR. Tirmidzi)

PELUKAN AYAH DAN IBU 

Posted: 19 December 2016 in MENDIDIK ANAK