Archive for the ‘Knowledge’ Category

JUAL BELI KUCING

Posted: 20 May 2017 in Knowledge

Termasuk jual beli yang terlarang adalah jual beli kucing. Namun hal ini perlu dirinci, manakah sebenarnya kucing yang tidak diperbolehkan dijual belikan dan mana yang dibolehkan.

Dari Abu Az Zubair, beliau berkata bahwa beliau pernah menanyakan pada Jabir mengenai hasil penjualan anjing dan kucing. Lalu Jabir mengatakan,
زَجَرَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ ذَلِكَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras hal ini.” (HR. Muslim no. 1569)

Imam Nawawi berpendapat, Jika kucing itu bermanfaat, maka tidak masalah diperjual belikan. Manfaat di sini tentu saja bukan hanya sebagai hewan hiasan, namun benar-benar manfaat bagi pemiliknya.

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun larangan jual beli kucing dimaknakan untuk kucing yang tidak ada manfaat, atau dimaknakan pula larangannya adalah larangan tanzih (dihukumi makruh). Karena kucing sudah biasa diberi sebagai hadiah, dipinjamkan atau dalam rangka menolong orang lain diberi secara cuma-cuma. Inilah umumnya. Namun jika kucing tersebut bermanfaat, jual belinya jadi sah dan hasil jual belinya pun halal.

Inilah pendapat dalam madzhab Syafi’i dan madzhab ulama lainnya. Sedangkan Ibnul Mundzir, juga pendapat dari Abu Hurairah, Thowus, Mujahid dan Jabir bin Zaid menyatakan bahwa tidak boleh jual beli kucing. Alasan mereka adalah hadits di atas yang melarangnya. Sedangkan jumhur ulama (baca: mayoritas) berpendapat sebagaimana yang telah kami sebutkan dan inilah pendapat yang jadi rujukan.” (Syarh Shahih Muslim, 10: 213)

AMALAN PELEBURAN DOSA

Posted: 20 May 2017 in Knowledge, WUDHU

Screenshot_2017-04-06-03-49-01-1

Tidak kita pungkiri berapa banyaknya dosa kita jalani. Baik dosa yang disengaja maupun yang tidak disengaja.
Cobalah kita renungi dengan jujur berapa dosa dari bangun hingga kita tidur.
Dari dosa pikiran, mata, dan telinga.
Begitu pula mulut, hati, tangan, kaki, dan yang lainnya.
Bisa jadi dosa karena bermaksiat kepada-Nya. Bisa jadi dosa tidak atau kurang mensyukuri nikmat-Nya.
Oleh karenanya kita harus banyak meminta agar kita mendapatkan banyak ampunan dari-Nya.

(1) Jangan lupa untuk berwudu sebelum tidur, semoga dosa-dosa kita menjadi lebur.
Nabi kita shollallohu alaihi wasallam telah bersabda:
َ”Sucikanlah jasad-jasad ini, semoga Allah mensucikan kalian, karena tidaklah seorang hamba tidur malam dalam keadaan suci, melainkan bermalam pula seorang MALAIKAT di sisi pakaiannya, ia tidaklah membolak-balikkan badannya sesaat di malam hari, melainkan malaikat itu mengatakan:
“Ya Allah, AMPUNILAH hamba-Mu (ini), karena ia tidur malam dalam keadaan SUCI.” (HR. Thobaroni, dan dihasankan oleh Al-Haitsami dan Syeikh Albani)
Oleh: Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA

(2) Mengucapkan do’a ini sebelum tidur.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Apabila engkau mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhu’lah seperti berwudhu’ untuk shalat, kemudian rebahlah di atas badan kanan,
lalu ucapkan: ‘Allaahumma innii aslamtu nafsii ilaika, wa wajjahtu wajhii ilaika, wa fawwadhtu amrii ilaika, wa alja’tu zhahrii ilaika, raghbatan wa rahbatan ilaika, laa malja-a wa laa manja minka illaa ilaika, aamantu bikitaabikalladzi anzalta wa binabiyyikalladzi arsalta.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku menyerahkan diri ini kepada-Mu, menghadapkan wajah ini kepada-Mu, menyerahkan segala urusanku hanya kepada-Mu, dan aku menyandarkan punggungku ini kepada-Mu, dengan penuh harap (akan rahmat-Mu) dan rasa cemas (akan siksa-Mu), tidak ada tempat berlindung dan keselamatan dari (siksa)-Mu kecuali hanya kepada-Mu, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus)”.

Apabila engkau mati, niscaya engkau mati dalam keadaan fitrah, dan jadikan do’a ini sebagai penutup perkataanmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

(Via: @fiqihwanita_)

PUASA DI BULAN RAJAB

Posted: 20 May 2017 in Knowledge

Screenshot_2017-03-30-09-05-08-1-1

Apakah boleh berpuasa di bulan Rajab karena bulan tersebut termasuk bulan haram?

Jawabannya, boleh. Karena ada hadits yang memerintahkan berpuasa di bulan haram namun dengan catatan tidak mengkhususkan pada hari atau tanggal tertentu pada bulan Rajab.

Bulan Rajab termasuk di antara bulan haram. Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Sufyan Ats Tsauri mengatakan:
“Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 214)

Ibnu ’Abbas mengatakan:
“Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 207)

Namun sekali lagi mesti dikatakan boleh berpuasa pada bulan Rajab, namun tidak ada hari khusus yang diistimewakan. Karena yang menyariatkan hari tertentu tidaklah berdalil, atau pensyariatannya berdasarkan hadits dhaif. Begitu pula hadits yang membicarakan puasa Rajab pun dhaif, yang shahih hanyalah karena bulan Rajab adalah bulan haram. Ada anjuran dari sebagian salaf untuk berpuasa di bulan haram seperti perkataan Sufyan Ats Tsauri dan Ibnu ‘Abbas yang dibawakan di atas.

(Via: @rumayshocom)

TIDUR DI AWAL MALAM

Posted: 15 May 2017 in Knowledge

Salah satu adab tidur dalam Islam yakni sebisa mungkin membiasakan tidur di awal malam (tidak sering begadang) jika tidak ada kepentingan yang bermanfaat.

Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari no. 568)

Ibnu Baththol menjelaskan:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah)

Ini satu hadits yang membicarakan keutamaan berjalan ke masjid di kegelapan, terutama saat shalat Shubuh dan Isya.

Hadits no. 1058 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Bab Keutamaan Berjalan ke Mesjid.

عن بُريدَة – رضي الله عنه – ، عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( بَشِّرُوا المَشَّائِينَ في الظُّلَمِ إلى المَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ القِيَامَةِ)) رواه أبُو دَاوُدَ وَالتِّرمِذِيُّ .

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan menuju masjid-masjid, bahwa ia akan mendapatkan cahaya sempurna pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 561; Tirmidzi, no. 223. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

KESIMPULAN MUTIARA HADITS:
(1) Orang beriman mendapatkan kabar gembira tentang keadaannya yang bercahaya pada hari kiamat.

(2) Setiap hamba berada dalam kegelapan kecuali orang yang beriman.

(3) Hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang berjalan di kegelapan dan ini ditemukan dalam shalat Isya’ dan shalat shubuh yang dilakukan berjamaah di masjid. Mereka yang menjaga shalat tersebut, itulah yang akan mendapatkan cahaya pada hari kiamat.

(4) Ada beberapa hikmah shalat berjamaah Isya dan Shubuh di masjid:
(a) Akan mudah turun berkah dan rahmat
(b) Dengan berjamaah bisa menambah ilmu dan mengerti cara beramal shalat yang benar dengan memperhatikan lainnya
(c) Keikhlasan dan kekhusyu’an sebagian jamaah akan berpengaruh pada jamaah lainnya, sehingga membuat ibadah seluruh jamaah jadi diterima.

(Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 2: 239-240; Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 314-319)

ORANG YANG BERDO’A DENGAN MAKNA SURAT AL IKHLASH, IA AKAN DIAMPUNI DOSA-DOSANYA DENGAN IZIN ALLAH

(1) Hadits Mihjan bin al Adru’ Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam masjid, tiba-tiba (ada) seseorang yang telah selesai dari shalatnya, dan ia sedang bertasyahhud, lalu ia berkata:
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta (kepada-Mu) bahwa sesungguhnya Engkau (adalah) Yang Maha Esa, Yang bergantung (kepada-Mu) segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya, ampunilah dosa-dosaku, (karena) sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh ia telah diampuni (dosa-dosanya),” beliau mengatakannya sebanyak tiga kali. (HR Abu Dawud 985; an Nasaa-i 1301; Ahmad 18995)

(2) Hadits Buraidah bin al Hushaib al Aslami Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang berkata:
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu, bahwa diriku bersaksi sesungguhnya Engkau (adalah) Allah yang tidak ada ilah yang haq disembah kecuali Engkau Yang Maha Esa, Yang bergantung (kepada-Mu) segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya,” kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh dirimu telah meminta kepada Allah dengan nama-Nya, yang jika Ia dimintai dengannya (pasti akan) memberi, dan jika Ia diseru dengannya, (pasti akan) mengabulkannya.” (HR. Abu Dawud 1493; at Tirmidzi 3475; Ibnu Majah 3857; Ahmad, 5/349 23002)

Screenshot_2017-03-22-23-29-28-1

Para ulama menyebutkan bahwa siapa yang membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, maka Allah akan memberikan kecukupan baginya untuk urusan dunia dan akhiratnya, juga ia akan dijauhkan dari kejelekan. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa dengan membaca ayat tersebut imannya akan diperbaharui karena di dalam ayat tersebut ada sikap pasrah kepada Allah Ta’ala. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa ayat tersebut bisa sebagai pengganti dari berbagai dzikir karena di dalamnya sudah terdapat do’a untuk meminta kebaikan dunia dan akhirat. (Lihat bahasan Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha dalam Nuzhah Al-Muttaqin, hal. 400-401)

Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa makna hadits bisa jadi dengan membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah akan mencukupkan dari shalat malam. Atau orang yang membacanya dinilai menggantungkan hatinya pada Al-Qur’an. Atau bisa pula maknanya terlindungi dari gangguan setan dengan membaca ayat tersebut. Atau bisa jadi dengan membaca dua ayat tersebut akan mendapatkan pahala yang besar karena di dalamnya ada pelajaran tentang keimanan, kepasrahan diri, penghambaan pada Allah dan berisi pula do’a kebaikan dunia dan akhirat. (Ikmal Al-Mu’allim, 3: 176, dinukil dari Kunuz Riyadhis Sholihin, 13: 83).

Imam Nawawi sendiri menyatakan bahwa maksud dari memberi kecukupan padanya menurut sebagian ulama adalah ia sudah dicukupkan dari shalat malam. Maksudnya, itu sudah pengganti shalat malam. Ada juga ulama yang menyampaikan makna bahwa ia dijauhkan dari gangguan setan atau dijauhkan dari segala macam penyakit. Semua makna tersebut kata Imam Nawawi bisa memaknai maksud hadits. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 83-84)

Wallahu a’lam.

(Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc,  حفظه الله تعالى)