Archive for the ‘KELUARGA / RUMAH TANGGA’ Category

Para singlelillah perlu merenung dan memikirkan masak-masak seperti apa kondisi orang setelah menikah.

Coba bayangkan beberapa hal yang terjadi setelah menikah berikut ini, dan tanyakan kepada diri sendiri apakah anda sudah siap untuk menghadapinya, yaitu diantaranya:

(1) Apakah Anda Siap Melepas Kebebasan? Setelah menikah, anda tidak lagi memiliki kebebasan itu.

(2) Apakah Anda Siap Berbagi dalam Semua Hal? Dulu anda naik motor atau mobil sendiri, bisa keluar malam sendiri, kini anda tidak bisa bebas lagi.

(3) Apakah Anda Siap Menaiki “Roller Coaster” Kehidupan? Akan ada banyak sekali suka dan duka yang akan dijumpai dalam kehidupan pernikahan.

(4) Apakah Anda Siap Terkejut Karena Menemukan Hal Baru dari Pasangan? Anda akan terus dikejutkan dengan banyak hal baru dari pasangan yang belum pernah anda ketahui sebelumnya.

(5) Apakah Anda Siap Melihat Sisi Paling Jelek dari Pasangan? Setelah menikah, anda bertemu setiap saat. Tidak ada waktu untuk bersiap diri, karena anda selalu berada bersama pasangan setiap saat.

(6) Apakah Anda Siap Bertemu Setiap Saat? Yakin, anda tidak bosan? Jika siap, berarti anda sudah siap menikah.

(7) Apakah Anda Siap Menyelesaikan Masalah Secara Bersama? Setelah menikah, anda harus menyelesaikan masalah bersama pasangan. Karena anda berdua menjadi bagian yang utuh dan tak terpisahkan.

(8) Apakah Anda Siap Menemukan Tujuan Paling Hakiki dari Pernikahan? Setelah menikah, anda akan menemukan makna dan tujuan pernikahan secara lebih nyata.

(9) Apakah Anda Siap Menghadapi Kerepotan Mengurus Anak?Keintiman anda sebagai suami istri menjadi “terganggu” oleh kerepotan mengurus bayi.

(10) Apakah Anda Siap Terikat oleh Hak dan Kewajiban? Anda terikat dengan hak dan kewajiban bersama pasangan. Setelah muncul anak, bertambah lagi beban dan kewajiban itu.

Bagaimana? Apakah kamu sudah benar-benar siap?

(Via: @cintapositif.id)

Advertisements

Ustaz Arifin menyampaikan sejumlah materi tentang pilar rumah tangga sakinah. Secara bahasa, sakinah sendiri memiliki arti ketenangan, ketentraman dalam hati, kedamaian dalam berkeluarga.

“Pilar rumah tangga sakinah adalah dibangun atas dasar ketakwaan kepada Allah SWT. Semakin kita cinta Allah, semakin kita takut berbuat maksiat, maka rumah tangga itu penuh dengan berkah,” ungkap Ustaz Arifin Ilham.

Beragam materi lain disampaikan Ustaz Arifin termasuk bahwa keluarga sakinah adalah benteng yang luar biasa kuat. Dengan menjaga hubungan dengan Allah, maka Allah akan menjaga rumah tangga seseorang.
“Rumah tangga yang dihuni dengan rahmat Allah, tanda rahmat Allah setiap anggota keluarga suami istri-istri ini semua mendekat kepada Allah,” ungkapnya.

10 Pilar Keluarga Sakinah:

(1) Memagari benteng rumah tangga dengan sungguh-sungguh berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Assunnah

(2) Tujuan utamanya ridho Allah dan kebahagiaan akhirat

(3) Saling cinta benar-benar karena Allah sehingga memandang kekurangan pasangan pun adalah keistimewaannya, semakin lama pernikahan semakin sayang, manja dan mesra

(4) Ide dan aktifitasnya bekerja untuk saling melayani, melindungi dan menyenangkan keluarganya

(5) Makan dari rizki yang halal, dan halal pintu sakinah

(6) Kekuatannya saling mendo’akan di penghujung malam

(7) Minimal sepekan sekali “Tarbiyyah Ahliyah” pembinaan keluarga dengan duduk bersama mengaji dan mengkaji Al-Qur’an dan Assunnah

(8) Segera minta maaf tatkala melakukan kesalahan

(9) Mensyukuri ni’mat Allah dengan senang berbagi sedekah

(10) Tawakkal yang penuh bahwa hanya Allah segala-galanya

(Muhammad Arifin Ilham)

Screenshot_2017-10-03-06-08-16-1

Menikah merupakan suatu momen yang sangat dinanti bagi setiap orang, terlebih bagi penggiat ‘nikah muda’. Karena dengan menikah kita bebas kemana aja dan bebas ngapain aja sama pasangan dengan status halal. Intinya menikah itu ‘enak’.

Namun menikah bisa juga menjadi ‘tidak enak’ karena kita belum siap dengan kejutan-kejutan pasca menikah. Jangan pernah berfikir suatu hubungan bakal selalu berjalan mulus, jangan pernah berfikir nikah itu bakal enak terus. Engga, nikah itu justru banyak struggle yang akan dijalani, masalah-masalah kecil sampai masalah besar pasti akan ada.

Tidak salah memang anjuran menikah itu pada saat usia sudah matang karena masing-masing sudah ‘dewasa’ namun bukan berarti usia juga menentukan kedewasaan. Ada yang usia 30 tahun pola pikir masih labil, ada juga yang usia 20 tahun pola pikir sudah dewasa dan sabar. Jika kamu siap untuk nikah muda why not?

Intinya pernikahan itu tidak ada lagi yang namanya ‘mempertahankan ego’ karena menikah itu butuh ‘kedewasaan’. Nikah itu tidak dianjurkan bagi yang masih ‘labil’ karena, sedikit-sedikit ngambek atau sedikit-sedikit update status galau yang justru akan memperkeruh masalah.

Jangan sampai baru 2 bulan menikah piring pecah sudah dimana-mana, jangan sampai baru 2 bulan nikah udah pisah kamar. Istri tidur di kamar, suami tidur di ruang tamu. Jangan sampai gara-gara masalah sepele udah saling unfollow, sudah hapus foto-foto kebersamaannya. Jangan sampai yang awalnya ‘ingin ‘menikah’ malah jadi ‘ingin pisah’ gara-gara sama-sama labil dan mempertahankan ego masing-masing.

Oleh karena itu, sebelum menikah tanya dulu pada diri sendiri sudah siap mental belum?
Bisa kontrol emosi atau engga?
Pola pikir masih labil, sedikit-sedikit ngambek atau justru pola pikir sudah dewasa?
Jangan sampai menjadi rapuh dan cengeng saat kamu sudah nemuin yang namanya kejutan-kejutan pasca menikah. Saling mengerti, saling pengertian, sabar, kurangi ego untuk meminimalisir pertengkaran sehingga menjadi pasangan yang sakinah mawaddah wa rahmah.

(Via: @ziaulhaq.id)

Sebuah Kisah Nyata Dari Imam Syafi’i

Suatu ketika Imam Syafi’i pernah kedatangan seorang laki-laki. Laki-laki itu mengadu kepada Imam Syafi’i perihal istrinya yang sudah tak cantik lagi dipandang olehnya.

Laki-laki: “Wanita yang saya nikahi itu pertama kali cantik banget, tapi kenapa dalam waktu sekejap kecantikan wanita itu hilang ya?”
Mendengar hal itu kemudian Imam Syafi’i dengan tersenyum lalu berkata: “Kamu ingin istrimu kembali lagi cantik?”
Laki-laki: “Iya!”
Imam Syafi’i: “Gampang, tundukkan pandanganmu selama sebulan!”

Setelah mendengar hal itu laki-laki tersebut segera mematuhi apa yang dikatakan Imam Syafi’i. Si laki-laki tersebut kemudian menundukan pandangannya dari melihat perkara-perkara yang tidak untuk dilihat. Sebulan kemudian laki-laki tersebut bertemu kembali dengan Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i pun bertanya: “Bagaimana sekarang, istrimu sudah kelihatan cantik apa tidak?”
Laki2: “MasyaAllah wahai imam, sungguh tak ada wanita cantik selain istriku.”
Imam syafi’i berkomentar atas kejadian ini: “Sebenarnya istrimu tidak berubah, namun ketika kamu menjadi laki-laki yang sering melabuhkan atau mendaratkan pandanganmu kepada wanita-wanita tidak halal untukmu, ketika semakin sering kamu melihat perempuan-perempuan itu, maka Allah cabut kenikmatan pandanganmu ketika melihat yang halal, makanya ketika Allah cabut dan timpakan kepadamu kenikmatan melihat yang haram, itulah kenapa kamu melihat istrimu menjadi biasa.”
“Akan tetapi ketika kamu meninggalkan pandangan yang haram, lalu akhirnya kamu kemudian hanya menikmati pada pandangan yang halal (istrimu), disitulah kamu akan mendapati kenikmatan istrimu kembali.”

Dari kisah ini kita mendapat sebuah hikmah, “MAKSIAT MENGGEROGOTI NIKMAT DAN INDAHNYA RASA IBADAH.”

(Via: @sahabatsurga – @sumber.ilmu)

1506082058361-1

Seorang wanita berkata: “Dahulu, aku rajin berpuasa dan shalat malam. Aku pun mendapatkan kelezatan ketika membaca Al-Qur’an. Tapi, sekarang aku kehilangan manisnya ketaatan yang biasa aku lakukan.”

Wanita itu pun bertanya kepada seorang Syaikh. Ia pun berkata: “Wahai Syaikh, sebelum aku menikah, aku adalah seorang yang rajin melaksanakan puasa dan shalat malam, aku pun mendapatkan kelezatan ketika membaca Al-Qur’an. Sekarang aku kehilangan manisnya hal-hal tersebut.”

Syaikh itu pun menjawab: “Baiklah, sekarang aku ingin bertanya: Bagaimana perhatianmu terhadap suamimu?”

Wanita tadi menjawab: “Wahai Syaikh, aku bertanya kepadamu tentang membaca Al-Qur’an, puasa, shalat, dan manisnya ketaatan, sedangkan engkau bertanya perihal suamiku?”

Syaikh menjawab: “Baiklah wahai ukhti. Masalahnya adalah, kenapa sebagian wanita tidak mendapatkan manisnya iman, kelezatan melaksanakan ketaatan, dan pengaruh dari ibadah yang dia lakukan?
Dengarkanlah sebabnya!”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺠِﺪُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺣَﻠَﺎﻭَﺓَ ﺍﻟْﺈِﻳْﻤَﺎﻥِ ﺣَﺘَّﻰ ﺗُﺆَﺩِّﻱ ﺣَﻖَّ ﺯَﻭْﺟِﻬَﺎ

“Tidaklah seorang wanita mendapatkan manisnya iman sampai ia melaksanakan hak-hak suaminya.” (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 1939)

(Via: @s.auliyaa – @dakwahmuslimahid)