Archive for the ‘KELUARGA / RUMAH TANGGA’ Category

1498206431405

Bukan sekedar pasangan.
Bukan sekedar mengganti status.
Bukan sekedar teman hidup.
Tapi ia yang mampu mendidikmu, membimbingmu dan membantumu lebih taat kepada Allah.
Ia yang pantas dijadikan sebaik-baik teman hidup.

Rugi sekali jika kamu hidup bertahun-tahun lamanya dengan ia tetapi kebaikan yang kamu dapat darinya hanya sedikit.
Rugi sekali jika dari awal kita belum menyadari bahwa menikah merupakan ibadah terlama.
Jika kita mengetahuinya dari awal, pasti kita akan memanfaatkan pernikahan/rumahtangga untuk beribadah, untuk bekal kita nanti.

Alangkah baiknya sebelum menikah luruskan niatnya terlebih dahulu, yaitu untuk menyempurnakan setengah agama kita, melaksanakan perintah-Nya dan sunnah rosul, untuk beribadah, menjaga kesucian diri, ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi, mempunyai keturunan yang sholeh dan sholehah, dsb.

Maka dari itu carilah ia yang membantumu semakin taat dan membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik.
Carilah ia yang bukan hanya membahagiakanmu di dunia tetapi juga di akhirat.
Carilah ia yang mengajakmu hidup bersama yang bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.
Carilah ia yang mampu mengantar dan memasukkanmu ke surga.

Semoga kita dikaruniai pasangan yang sholeh/sholehah, paham agama, baik akhlaknya, baik nasabnya, dan menambah keberkahan dalam hidup. Aamiin Aamiin

#Impostingnow #Muse #20Juni2017 #25Ramadhan1438H #Riniiswriter

20170509_054140

20170523_074700-1

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah.”

Dalam riwayat Abu Daud, disebutkan:
“Sebaik-baik nikah adalah yang paling mudah.” (HR. Abu Daud, no. 2117; Al-Hakim, 2: 181-182. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim juga shahih sebagaimana dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’, 6: 344)

Hadits di atas menunjukkan bahwa mahar yang paling bagus dan menjadi mahar terbaik adalah mahar yang paling mudah untuk dipenuhi. Inilah yang dipersiapkan oleh calon suami, hendaklah pihak wanita mudah menerima hal ini. Kalau maharnya itu serba sulit dan memberatkan, itu menyelisihi yang dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk berkahnya seorang wanita, yang mudah khitbahnya (melamarnya), yang mudah maharnya, dan yang mudah memiliki keturunan.” (HR. Ahmad, 6: 77)

Mudahnya mahar memiliki manfaat yang begitu besar:
(1) Mengikuti sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
(2) Memudahkan para pemuda untuk menikah
(3) Mudahnya mahar akan menyebabkan cinta dan langgengnya kasih sayang

Boleh nggak sih maharnya hanya hafalan saja? Atau dipinang dengan bismillah saja? Tanpa mahar berupa harta?

Terlepas dari boleh-tidaknya mahar berupa pengajaran hafalan Qur’an, yang lebih baik adalah mahar berupa harta, karena lebih sesuai dengan firman Allah dalam surat An Nisa ayat 24. Selama si lelaki masih memiliki harta yang bisa dijadikan mahar walaupun sedikit.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya oleh seorang wanita, “Bolehkah saya meminta mahar berupa Al-Qur’an Al Karim? Tujuannya agar saya bisa tetap memilikinya di akhirat. Karena setiap bacaan hurufnya bernilai 10 kebaikan. Maksud saya, saya ingin mahar saya tersebut menjadi simpanan akhirat, bukan simpanan dunia. Dan juga saya ingin mahar saya ringan dan mudah.”

Syaikh menjawab, “Yang disyariatkan adalah mahar berupa harta. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Mencari isteri-isteri dengan hartamu‘ (QS. An Nisa: 24)

Dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika datang seorang wanita yang ingin menawarkan diri kepada beliau, beliau tidak menerimanya. Namun beliau ingin menikahkan wanita tersebut dengan salah seorang diantara para sahabatnya. Kemudian beliau bersabda kepada sahabat tersebut:
“Carilah mas kawin walaupun hanya cincin besi.”

Dan ingatkah kisah Ali bin Abu Tholib yang tidak mempunyai harta apapun sebagai mahar untuk meminang Fatimah Az-Zahra?
Rasulullah menyuruhnya untuk memberi harta apapun yang dimilikinya. Sedang waktu itu Ali hanya memiliki pedang, unta, dan bahu besi. Akhirnya Rasulullah memilih baju besi untuk menikahkan Fatimah dengan Ali sebagai mahar pernikahannya.

Maka yang disyariatkan adalah mahar berupa harta walaupun sedikit. Jika si suami miskin, dan ia tidak memiliki harta untuk dijadikan mahar, maka pendapat yang benar, boleh baginya untuk menikahi wanita dengan mahar berupa pengajaran ayat-ayat Al Qur’an. Atau pengajaran surat-surat dalam Al Qur’an.

Screenshot_2017-05-22-10-48-38-1

Baiknya agama saja tidak cukup untuk engkau pilih sebagai calon suami, jika ternyata akhlaknya kurang baik.

Banyak lelaki terlihat baik di luarnya, terlihat faqih dalam membahas ilmu agama, namun lihatlah akhlaknya, jika masih jelalatan jarinya ngobrol dengan akhwat yang bukan mahromnya, apalagi di dunia maya ini, maka tidak layak lelaki demikian dipilih menjadi suami.

Engkau perhatikan, jika seorang lelaki buruk akhlak dan adabnya dalam keluarganya, kepada teman dan tetangganya, maka berpikirlah ulang untuk menerimanya menjadi pendampingmu.

Hendaknya kalian memeriksa dengan baik AGAMA DAN AKHLAKNYA, sebagaimana Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullaah dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022)

Bukankah engkau sendiri sering melihat di sekitarmu, terdapat banyak lelaki yang (mungkin) engkau lihat banyak hafalan ilmunya, namun jelek akhlak dan adabnya?
Apa manfaat ilmu bagi yang tidak mau mengamalkannya?
Betapa banyak wanita menderita karena kurang baiknya akhlak dan adab suaminya?
Allaahul musta’an.

(By: Andi Abu Hudzaifah Najwa)

IMG_41445339248725

Kita seringkali menjadikan kecantikan, ketampanan, harta dan tahta sebagai tolak ukur dalam mencari pasangan idaman.

Sedang agama sama sekali tidak dipertimbangkan.

Sedang agama seringkali dinomor duakan.

Padahal, pasangan yang punya banyak harta itu belum tentu akan bawa kita ke surga.

Padahal, pasangan yang wajahnya rupawan belum tentu akan membawa kita pada kehidupan akhirat yang bernilai keabadian.

Sungguh, pasangan yang sholeh dan sholehah akan membawa kita pada surga-Nya yang selalu dirindukan.

Meski ia tak punya wajah yang rupawan, atau harta yang berkelimpahan.

Tapi InsyaAllah akhlaknya yang menyejukan akan membawa rumah tangga pada kesakinahan.

Dan cintanya kepada Allah-lah yang akan membawa kita pada syurga menjadi pasangan dunia akhirat.

Nah sahabat, begitulah fenomena yang sering terjadi.

Betapa banyak kita lihat fenomena yang terjadi saat ini, saat suami istri bercerai karena sulitnya ekonomi atau karena tiba-tiba bangkrut.

Atau adalagi suami istri yang bercerai karena merasa sudah bosen, sudah tidak tampan dan tidak lagi menawan.

Bila seseorang sudah mencintai karena Allah, bagaimanapun sulitnya kehidupan rumah tangga yang dihadapi, maka mereka tetap akan saling mencintai.

(Setia Furqon Kholid)

÷ ÷ ÷ ÷ ÷ ÷ ÷ ÷ ÷ ÷ ÷ ÷ ÷ ÷ ÷ ÷ ÷ ÷ ÷ ÷

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bagi lelaki yang ingin menikah:
“Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya itu merusak mereka. Janganlah menikahi mereka karena harta-harta mereka, bisa jadi harta-harta mereka itu membuat mereka sesat. Akan tetapi nikahilah mereka berdasarkan agamanya. Seorang budak wanita berkulit hitam yang telinganya sobek tetapi memiliki agama adalah lebih utama.” (HR. Muslim)

Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam:
“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)

 

TAAT PADA SUAMI

Posted: 15 May 2017 in KELUARGA / RUMAH TANGGA

Istri yang bijak adalah istri yang dapat mengerti dan memahami kewajiban yang harus dilakukannya.

Memahami bahwa mentaati suami merupakan salah satu kewajibannya.

Dan bahwa mentaati suami dalam perkara yang bukan maksiat merupakan penyebab ia masuk ke dalam jannah.

Meski terkadang hati kesal dengan sikap suami yang suka acuh dan tak mengerti apa yang kita inginkan.

Seringkali Ikhlas menjadi keharusan demi melanggengkan biduk rumah tangga.

Sabarnya seorang istri ingsyaAllah berbuah kemenangan berupa pahala yang Allah lipat gandakan.

Ridho Allah terletak juga pada ridho Suami. Maka segala apapun yang kita lakukan haruslah dengan seizin suami.

Ingat! Kita harus sadar jika kita bukan lagi seorang gadis. Kita telah menjadi seorang istri yang menjadi tanggungjawab suami dan memiliki hak-hak yang harus dilaksanakan.

Maka sebab itu taatlah pada Suami dalam hal kebaikan. Bersabarlah dengan berbagai keadaan. IngsyaAllah sebab itu Allah mudahkan kita masuk ke Jannah-Nya.

—————○○○●●●♡♡♡●●●○○○————–

Menjadi suami adalah tugas mulia, jika manusia boleh bersujud pada manusia maka istri akan diperintahkan sujud pada suaminya.

Menjadi suami, tugasnya bukan hanya sekedar mencari nafkah, memberikan perhatian pada istri dan mendidiknya juga salah satu tugas utama.

Menjadi ayah, tugasnya bukan sekedar mencari nafkah, memberikan curahan kasih sayang dan teladan baik pada anak juga salah satu tugas utama.

Menjadi suami bukan tugas mudah, perilakunya bisa menggiring keluarga ke syurga atau ke neraka.