Archive for 3 June 2017

Al Habib Segaf bin Ali Alaydrus dalam kitabnya “Ithaful Ikhwan” menyebutkan 40 Sunnah di Bulan Ramadhan. Berikut intisarinya:

(1) Makan Sahur

Makanlah sahur walaupun sedikit Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

Makan sahur itu memakannya adalah berkah. Maka jangan kalian tinggalkan walaupun hanya dengan meminum seteguk air. Karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan para malaikat-Nya bershalawat bagi orang-orang yang sahur. (HR. Ahmad)

(2) Disunahkan untuk menjadikan kurma sebagai salah satu menu sahur.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

Sebaik-baiknya makanan sahur orang beriman adalah kurma. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban dan Shahihnya)

(3) Mengakhirkan Sahur

Disunahkan mengakhirkan makan sahur sampai mendekati Waktu Shubuh asalkan jangan terlalu akhir sehingga kita ragu apakah waktu sahur masih tersisa atau tidak.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabd:

لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْإِفْطَارَ وَأَخَّرُوا السُّحُورَ

Umatku akan selalu berada dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. (HR. Ahmad)

Adapun mengakhirkan sahur sampai ragu apakah waktu sahur masih ada, itu tidak dianjurkan. Waktu sahur di mulai sejak tengah malam (Yaitu pertengahan antara waktu Maghrib dan waktu Shubuh) sampai sebelum Fajar.

(4) Menentukan waktu imsak (jarak antara selesai sahur dan adzan shubuh)

Disunahkan untuk membuat jarak waktu pemisah antara  waktu sahur dan adzan Shubuh  (waktu imsak). Jangan sampai ia masih makan sahur ketika Adzan Shubuh berkumandang. Sahabat Anas Radhiallahu ‘Anhu menceritakan bahwa Sahabat Zaid bin Tasbit Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

“Kami sahur bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, setelah itu kami shalat.”

Aku (Sahabat Anas) bertanya: “Berapa jarak antara adzan dan sahurnya?” “Seukuran 50 ayat.” Jawabnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagian ulama mengirakan bahwa ukuran 50 ayat adalah 15-20 menit. Maka hendaknya berhenti makan sahur lima belas menit sebelum adzan shubuh.

(5) Berkumpul untuk sahur

Sunah bersahur bersama-sama.  Ini berdasarkan hadits Zaid bin Tsabit Radhiallahu ‘Anhu di atas:

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ

Kami sahur bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian kami shalat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain itu berkumpul dalam menyantap makanan itu adalah berkah. Di dalam hadits dikatatakan:

خير الطعام ما تكاثرت فيه الأيدي

Sebaik-baik makanan adalah apa yang banyak tangan (ikut makan) di dalamnya.

(6) Membersihkan sela-sela gigi

Sangat ditekankan agar ia membersihkan sela-sela gigi setelah makan sahur. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

تخللوا ، فإنه نظافة ، والنظافة تدعو إلى الإيمان ، والإيمان مع صاحبه في الجنة

Sela-selailah gigi karena itu adalah kebersihan dan kebersihan mengajak kepada iman dan iman bersama orang yang beriman ada di dalam surga. (HR. Thabrani)

Dikatakan bahwa kesunahan menyela-nyelai gigi lebih ditekankan bagi orang berpuasa dibandingkan bersiwak.

(7) Menyegerakan berbuka

Sunah menyegerakan berbuka ketika telah yakin masuk Waktu Maghrib. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:

أَحَبُّ عِبَادِي إِلَيَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا

Sesungguhnya hamba yang paling Aku cintai adalah yang paling segera berbuka. (HR. Ahmad dan Turmudzi)

Jika ia masih ragu masuknya waktu Maghrib, maka tidak sunah menyegerakan berbuka, bahan haram hukumnya ia berbuka dalam keadaan ragu tersebut.

(8) Berbuka dengan Ruthob (kurma basah)

Disunahkan berbuka dengan Ruthob, jika tidak ada maka dengan kurma kering (kurma yang biasa ada di pasaran), jika tidak ada maka dengan air. Sahabat Anas Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berbuka sebelum melaksanakan shalat dengan beberapa butir Ruthob (kurma basah), jika tidak ada maka beberapa butir tamr (kurma kering) dan jika tidak ada maka  dengan beberapa hirup air. (HR. Abu Dawud dan Turmudzi)

(9) Memperhatikan makanan berbukanya agar benar-benar berasal dari yang halal

Sebagian orang shaleh mengatakan: “Jika kamu puasa maka perhatikan makanan berbukamu, karena makanan haram adalah racun yang membinasakan agama.”

(10) Disunahkan berdoa ketika berbuka

Karena doa ketika berbuka adalah doa yang diijabahi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Tiga orang yang tidak akan ditolak doanya: Imam yang  adil, Orang yang berpuasa ketika berbuka dan doa orang yang dizalimi. (HR. Ahmad dan Turmudzi)

Dengan doa apa saja maka ia mendapatan kesunahan tapi yang utama hendaklah ia berdoa dengan doa yang datang dari nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Di antaranya:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Telah hilang dahaga telah basah urat-urat dan telah ditetapkan pahalanya insya Allah Taala. (HR. Abu Dawud dan Nasai)

Dan:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

Ya Allah untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizki dari-Mu aku berbuka. (HR. Abu Dawud)

Dan:

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ

Segala puji bagi Allah yang menolong aku sehingga aku dapat berpuasa dan memberiku rizki sehingga aku dapat berbuka. (HR. Ibnu Sunni)

Dan:

إِذَا أَفْطَرَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang mencakup segala sesuatu agar Engau mengampuni Aku. (HR. Ibnu majah)

(11) Memberi makanan berbuka bagi yang berpuasa

Sunah menyediakan makanan berbuka (takjil) untuk orang yang berpuasa. Sahabat Zaid bin Khalid Al Juhani Radhiallahu ‘Anhu meriwayatkan sabda Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Siapa yang memberikan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikit pun pahalanya. (HR. Turmudzi dan Nasai)

Usahakan dengan sungguh-sungguh agar niatnya dalam memberi makanan itu adalah untuk mengikuti sunnah Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM dan mendapatkan pahala bukan sekedar  adat yang berlangsung setiap tahun.

(12) Disunahkan bagi yang berbuka di rumah atau tempat orang lain, untuk mendoakan pemilik rumah

Doakan dengan doa yang datang dalam hadits Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM. Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM pernah berbuka di kediaman Sahabat Saad bin Ubadah RADHIALLAHU ‘ANHU, maka Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM berdo’a:

أَفْطَرَ عِنْدَكُمْ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمْ الْأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمْ الْمَلَائِكَةُ

Orang-orang yang berpuasa telah berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian, dan semoga malaikat bershalawat kepada kalian. (HR. Abu Dawud)

13. Menghidupkan malam Ramadhan dengan ibadah.

Disunahkan menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah, yaitu dengan shalat Tarawih dan Witiir. Ini adalah ibadah yang sangat agung pahalanya dan termasuk salah satu dari syiar (symbol) dari syiar-syiar Ramadhan. Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM selalu menganjurkan para sahabatnya untuk shalat di malam Ramadhan. Beliau SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang shalat (tarawih) di bulan Ramdhan karena dasar iman dan mengharapkan pahala maka dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni.(

HR. Bukhari dan Muslim)

14. Membaca Al-Quran.

Disunahkan untuk memperbanyak membaca Al-Quran di sepanjang Bulan Ramadhan yang mulia ini, sebab ini adalah Bulan Al-Quran. Hendaknya ia dapat mengkhatakamkan Al-Quran di dalam bulan ini beberapa kali sebagaimana yang dilakukan para salaf. Imam Manshur bin Zadan RADHIALLAHU ‘ANHU adalah salah satu Tabiin yang ahli ibadah mengkhatamkan Al-Quran dua kali lebih di waktu antara Maghrib dan Isya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dengan sanad shahih bahwa Imam Mujahid RADHIALLAHU ‘ANHU mengkhataman Al-Quran di Bulan Ramadhan di antara Maghrib dan Isya. Begitulah sebagaimana dituliskan dalam kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi.

15. Tadabbur Al-Quran dan Tartil dalam membacanya.

Hendaknya ia memperhatikan agar merenungi makna Al-Quran yang dibacanya dan membacanya dengan tartil. Sebab maksud dari membaca Al-Quran adalah untuk merenungi maknanya dan mengambil pelajaran dan nasihat yang terkandung di dalamnya. Allah SUBHANAHU WA TA’ALA berfirman :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.

(QS. Shaad : 29)

16. Mudarosah (Saling menyimak Al-Quran).

Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM menyodorkan bacaan Al-Qur’annya kepada Malaikat Jibril ‘ALAIHISSALLAM setiap malam di bulan Ramadhan. Imam Nawawi dalam kitab Majmuknya mengatakan, “Ulama Syafiiyah mengatakan bahwa hukumnya sunah untuk memperbanyak membaca Al-Quran di bulan Ramadhan dan mudarosah Al-Quran. Mudarosah adalah membacakan Al-Quran kepada orang lain, lalu orang itu membacakan Al-Quran untuknya.”

17. Istiqomah menghadiri majlis ilmu.

Hendaknya orang yang berpuasa melazimi untuk selalu hadir dalam majlis ilmu, dzikir dan fiqih. Pahalanya sangat besar dan agung.

18    Menjaga waktu untuk dzikir.

Hendaknya orang yang berpuasa sangat memperhatikan waktunya dan memakmurkanya dengan dzikir kepada Allah. Hendaknya ia menentukan waktu-waktu untuk beristigfar, bertasbih, bertahlil, berhamdalah, bershalawat kepada Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM dan lainnya. Termasuk dzikir-dzikir yang diajarkan Nabi adalah :

أَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, aku memohon ampunan kepada Allah. Kami memohon surga kepada-Mu dan meminta perlindungan kepada-Mu dari neraka.

19. Berdoa di malam dan siang hari.

Hendaknya orang yang berpuasa banyak berdoa di siang hari Ramadhan dan di malam harinya. Orang yang berpuasa termasuk salah satu dari orang yang tidak tertolak doanya. Dalam hadits dikatakan :

أتاكم رمضان شهر بركة ، فيه خير يغشيكم الله  فيه ، فتنزل الرحمة ، وتحط الخطايا ، ويستجاب فيه الدعاء ،

Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan penuh berkah yang Allah limpahkan kebaikan kepada kalian di dalamnya. Bulan dimana rahmat diturunkan, kesalahan-kesalahan dihapus dan doa di dalamnya dikabulkan.

(HR. Thabrani)

20. Melebihkan nafkah untuk keluarga.

Disunahkan bagi seorang muslim untuk melebihkan nafkah keluarganya di Bulan Ramadhan jika Allah membuatnya mampu. Imam Nawawi dalam Majmu mengatakan :

“Al Mawardi mengatakan : disunahan bagi lelaki untuk melebihkan nafkah bagi keluarganya di Bulan Ramadhan. Dan berbuat baik kepada kerabat serta tetangga-tetangganya terlebih di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.”

21. Mencari-cari dan memperhatikan orang yang membutuhkan.

Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM mensifati Bulan Ramadhan dengan Syahr Muwasah, bulan untuk saling membantu sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya. Mencari-cari dan memperhatikan fakir miskin dan memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan orang yang membutuhkan adalah ketaatan yang paling utama dan kebaikan yang paling indah.

22. Bagi lelaki disunahkan beritikaf di masjid.

Kesunahan itikaf baik di siang atau malam Ramadhan lebih ditekankan. Termasuk petunjuk Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM adalah bahwa beliau bertikaf dan menganjurkan untuk melaksanakannya.

Para ulama mengatakan kesunahan itikaf di sepuluh malam terakhir dari Ramadhan lebih ditekankan dan lebih utama untuk meneladani Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM dan mencari malam Lailatul Qodar.

23. Meninggalkan perdebatan, perselisihan dan saling caci.

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ

Puasa adalah benteng. Jika salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kasar, jangan pula berbuat bodoh. Jika ada seorang yang berselisih dengannya atau mencelanya katakanlah : “Aku tengah berpuasa” dua kali.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain dikatakan :

ليس الصيام من الأكل والشرب ، إنما الصيام من اللغو والرفث

Puasa itu bukanlah sekedar dari makan dan minum, melainkan dari ucapan sia-sia dan ucapan kotor.

(HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Para ulama berkata : Seyogyanya bagi seorang muslim untuk meninggalkan ucapan mubah yang tidak berfaidah dan tidak bermanfaat bagi agama dan dunianya, hendaknya ia menyibukan lisannya dengan dzikir dan istigfar.

24. Meninggalkan perbuatan yang tidak berguna.

Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatannya maka Allah tidak peduli ia meningalkan makanan dan minumannya.

(HR. Bukhari)

25. Meninggalkan berbekam dan cantuk.

Ini karena bekam dan canduk dapat membuat lemas orang yang berpuasa.  Termasuk hal itu adalah pengambilan darah (donor) dikatakan itu akan melemaskan orang yang berpuasa.

26. Segera mandi junub sebelum shubuh.

Disunahkan bagi yang akan berpuasa agar segera mandi junub sebelum masuk Waktu Shubuh. Ini adalah sunah bukan wajib.

27. Tidak berlebihan dalam makan dan minum.

Hendaknya orang yang berpuasa memperhatikan kesederhanaan dalam berbuka dan makan sahur jangan sampai terlalu kenyang. Sebab maksud dari puasa adalah agar kita dapat menahan syahwat terhadap makanan, minuman dan lainnya.

28. Berumrah di Bulan Ramadhan jika mampu.

Dalam Hadits disebutkan bahwa Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda :

فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي

Umrah di bulan ramadhan sebanding dengan Haji,

29. Disunahkan berusaha untuk mendapatkan malam Lailatul Qodar.

Dalam hadits dikatakan :

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah malam Lailatul Qodar di sepuluh malam terakhir dari Ramadhan.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Mencarinya dengan cara bersemangat memakmurkan sepuluh malam itu dengan ibadah. Jika ia melakukan itu setiap malamnya pasti ia mendapatkan malam Lailatul Qodar.

30. Disunahkan memperbanyak doa di bulan Ramadhan secara umum, dan di sepuluh hari terakhir secara khusus

Terlebih doa :

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf maka maafkanlah kami.

(HR. Turmudzi)

Ini adalah doa yang dianjurkan oleh Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM kepada Sayidah Aisyah Radhiallahu ‘Anha untuk diperbanyak di Malam Lailatul Qodar. Maka perbanyaklah doa ini terutama di sepuluh malam terakhir Ramadhan.

31. Mandi pada malam-malam Ramadhan.

Disunahkan mandi setiap malam di sepuluh malam terakhir Ramadhan, sebagian ulama menyunahan mandi setiap malam Ramadhan sejak awal sampai akhir. Ini untuk menambah semangat beribadah. Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM dan para sahabat telah melakukan hal ini.

32. Berhias dan memakai wewangian untuk ibadah.

Sunah membersihkan diri, berhias dan memakai wewangian untuk beribadah pada sepuluh malam terakhir Bulan Ramadhan, terlebih di malam-malam yang diharapkan adalah malam Lailatul Qodar. Telah datang atsar dari para salaf, sahabat dan tabiin bahwa mereka mandi, membersihkan diri, berhias dan kadang mewangikan masjid di malam-malam ini.

33. Puasa bagi yang bepergian.

Jika ia memulai bepergian sebelum Waktu Shubuh, maka ia boleh memilih untuk tetap berpuasa atau tidak berpuasa dan menggantikannya di hari lain. Disunnahkan bagi yang kuat untuk tetap berpuasa, ini berdasarkan firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA :

Allah SUBHANAHU WA TA’ALA berfirman :

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ

Dan berpuasa lebih baik bagimu.

(QS. Al-Baqarah : 184)

Jika ia termasuk orang yang lemah, dan puasa dapat memberatkannya maka lebih utama untuk tidak berpuasa.

34. Menahan (imsak) bagi yang hilang udzurnya di tengah hari puasa.

Apabila seorang tidak berpuasa karena suatu udzur, kemudian di tengah hari udzurnya hilang, maka sunnah baginya untuk berprilaku seperti orang yang berpuasa dengan tidak makan, tidak minum dan lainnya sampai Maghrib.

Seperti jika ada anak kecil tidak berpuasa kemudian ia menjadi baligh di tengah hari, atau wanita yang tidak puasa karena haid kemudian ia suci di tengah hari.

35. Meninggalkan kesenangan nafsu.

Disunahkan bagi yang berpuasa untuk meninggalkan kesenangan nafsu yang tidak membatalkan puasa seperti wewangian, pandangan kepada yang indah, mendengar suara yang indah dan lainnya. Allah SUBHANAHU WA TA’ALA mensifati orang yang berpuasa dalam Hadits Qudsi :

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

Ia meninggalkan makanannya, minumannya dan kesenangan syahwatnya karena Aku.

(HR. Bukhari)

36. Memperbanyak sedekah.

Sunnah memperbanyak sedekah baik dengan harta, makanan, pakaian atau lainnya. Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM pernah ditanya, “Sedekah apa yang paling utama?”

Beliau SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM menjawab :

صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ

Sedekah di bulan Ramadhaan.

(HR. Turmudzi)

Imam Nawaawi dalam kitab Majmu’ mengatakan, “Ulama Syafiiyah mengatakan, sunnah banyak memberi dan berderma di bulan Ramadhan dan lebih utama lagi di sepuluh hari terahir untuk meneladani Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM dan para salaf. Juga karena ini adalah bulan mulia, kebaikan di bulan ini lebih utama dari selainnya.  Selain itu, pada bulan ini banyak manusia sibuk dengan puasanya dan menambah ibadah dan meninggalkan pekerjaannya sehingga mereka butuh untuk dibantu dan ditolong.”

37. Mengajarkan anak-anak berpuasa.

Sunnah untuk memerintahkan anak-anak kecil baik lelaki maupun perempuan untuk berpuasa sehingga mereka akan terbiasa berpuasa jika sudah baligh.

Para sahabat SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM biasa mengajak anak-anak mereka berpuasa.

38. Disunnahkan untuk tidak mengatakan setelah sempurna puasa Ramadhan dan tarawihnya

“Aku telah puasa sebulan penuh” atau “Aku telah melaksanakan tarawih sebulan penuh”

Ini karena itu adalah bentuk memuji diri sendiri yang tercela. Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda :

لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ إِنِّي صُمْتُ رَمَضَانَ كُلَّهُ وَقُمْتُهُ كُلَّهُ

Jangan salah satu dari kalian mengatakan “aku telah berpuasa Ramadhan secara sempurna dan Shalat tarawih secara sempurna.”

(HR. Abu Dawud)

39. Puasa enam hari Syawal.

Disunahkan bagi orang yang telah Berpuasa Ramadhan untuk melanjutkan puasa enam hari di Bulan Syawwal setelah Ied. Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM menganjurkan puasa ini dan mengabarkan bahwa orang yang berpuasa enam hari di Bulan Syawal setelah Ramadhan seperti berpuasa setahun.

40. Meninggalkan Maksiat dan melakukan taat.

Orang yang berpuasa hendaknya melakukan ketaatan yang paling utama yaitu meninggalkan dosa dan maksiat. Hindari dosa yang kecil dan yang besar, yang zahir atau yang batin. Dikatakan bahwa ketaatan yang paling utama adalah meninggalkan maksiat.

Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM juga bersabda :

فَاتَّقُوا شَهْرَ رَمَضَانَ فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ تُضَاعَفُ فِيهِ وَكَذَلِكَ السَّيِّئَاتُ

Hati-hati di bulan Ramadhan sebab kebaikan-kebaikan di dalamnya dilipat-gandakan begitupula keburukannya.

(HR. Abu Qosim)

Semoga Bermanfaat ….

Semoga Allah memberikan petunjuk agar kita dapat melakukan perbuatan yang dicintai Allah dan membuat-Nya ridho.

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa…. Semoga Puasa Tahun ini Lebih Baik …..

Semoga Allah Memberkahi Kita Dan Memudahkan Urusan Kita Di Dunia Dan Di Akhirat.

YAA ALLAH ,…

Berikan Kami MANFAAT Dari Apa Yang ENGKAU Ajarkan Kepada Kami, Ajarkan Kami Apa Yang BERMANFAAT Bagi Kami, Serta Beri Kami REZEQI Berupa ILMU Yang Dapat Mendatangkan MANFAAT Bagi Diri Kami.

Ya Allah, Tolonglah Kami Agar Selalu Berdzikir / Mengingat-Mu, Bersyukur Pada-Mu, Dan Memperbagus ibadah Pada-Mu.

Wahai Allah Yang Mulia …

Ampunilah Dosa-Dosa Kami Dengan Kemuliaan AlMusthofa (Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) Lapangkanlah Kami Dari Kesulitan.

Ya Robb Kami, Berilah Kami Kebaikan di Dunia dan Kebaikan di Akhirat dan Peliharalah kami dari Siksa Neraka.

آمِيْـنَ آمِيْـنَ آمِيْـنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Advertisements