TENTANG MENDIDIK ANAK

Posted: 29 December 2016 in MENDIDIK ANAK

img_20161229_085658

Kebanyakan orangtua tak sabar melihat tingkah laku anak yang dianggap ‘nakal’, tanpa menanyakan dulu alasan.

Kelincahan anak di masa kecil akan menambah kecerdasannya ketika dewasa. (HR. Tirmidzi)

Menghargai mainan anak dan tidak melarang anak bermain. Menurut Al-Ghazali, melarang anak bermain akan memadamkan kecerdasannya.

Mendidik anak adalah upaya yang luar biasa, karena orangtua mesti baguskan dirinya termasuk menahan hawa nafsunya.

Jika ada anak membully, orangtua mesti introspeksi, bisa jadi itu buah dari tangan dan lidah orangtua.

Anak berisik membuat pusing kepala, orangtua meluncurkan ancamannya, padahal cukup minta tolong anak kecilkan suara.

Orangtua santun pada anak, anak pun santun pada adik atau teman, itu juga rantai pendidikan.

Menurut penelitian, anak yang kekurangan perhatian menunjukkan keterlambatan pertumbuhan emosi dan sosial seperti agresif, hiperaktivitas, bahkan autisme.

Pelukan kasih sayang saat bayi, kanak-kanak menjadikan pribadi anak yang tidak gampang stress (Penelitian Journal of Epidemiology and Community Health).

Studi Univ of Itali, anak yang sering mendapat pelukan dari orangtuanya lebih terhindar dari depresi, dan timbul percaya diri untuk selesaikan masalah.

Motivasi orangtua bagi anak bagaikan suplemen yang menyemangatkan diri, disinilah terbangun optimis diri.

Menjadikan anak optimis, bangun rasa percaya diri anak dengan mendengarkan saat ia berbicara dan orangtua segera memenuhi panggilan anaknya.

Bercerita kisah-kisah tangguh dimana tokoh mampu mengatasi perasaan negatif,  memberi gambaran untuk anak begitulah sikap yang harus dimiliki.

Menjadikan anak optimis, sejak dalam kandungan kenalkan anak kata-kata positif, ibu pun bersikap optimis.

Membangun anak optimis adalah tanggungjawab orangtua, agar kelak anak menjadi tangguh menjalankan hidupnya.

Jika anak-anak percaya pada orangtua, tidak hanya perkataan orangtua didengarnya, tapi orangtua juga akan menjadi tempat curhatnya.

Anak-anak tak menaruh percaya pada orangtua, mungkin saja orangtua sering permisif dengan aturan yang telah dibuatnya.

Anak-anak tak menaruh percaya pada orangtua, mungkin saja perilaku orangtua tak mencerminkan nasehatnya.

Anak-anak tak menaruh percaya pada orangtuanya, mestinya introspeksi perlu dilakukan orangtua.

Anak-anak tak menaruh percaya pada orangtuanya, perkataan atau nasehat orangtua tak didengarnya, sakitnya tuh disini disana dan disitu.

Orangtua sangat mudah menitipkan anak ke para pengasuh anak, padahal di usia emas anak, masa penting membentuk pondasi anak.

Masa kanak-kanak adalah usia emas anak, tak akan pernah terulang saat terlewat. Orangtua hebat berusaha gunakan kesempatan ini dengan tepat.

Jika pondasi anak-anak kuat, merekalah yang membuat orangtua menjadi mulia kelak.

Hanya sekali saja, kesempatan orangtua ikut andil di usia emas anak. Kuat lemahnya pondasi anak, orangtua akan diminta pertanggungjawaban kelak.

Emotional ibu akan tertular pada anak saat mengandung dan melakukan pengasuhan.

Pendidikan ibu pada anak telah berlangsung sejak anak dalam kandungan bahkan sumber lain mengatakan sejak suami istri berhubungan.

Dibalik anak berakhlak, ada ibu berakhlak dibelakangnya.

Dibalik anak sukses, ada ibu hebat yang mensupport dan mendo’akannya.

Anakmu, saat investasi itu dipupuk untuk tujuan dunia dan akhirat, kelak kau akan mulia dan berbahagia selamanya.

Anakmu, saat investasi itu hanya dipupuk untuk tujuan dunia saja, bisa jadi ia membuatmu bahagia, tapi hanya sementara.

Anakmu, saat investasi itu tak dipupuk, ia akan membuatmu rugi serugi-ruginya, bahkan kerugian yang tak pernah ditemui di dunia.

Anakmu salah satu investasi terbaikmu.
Anakmu bukan hanya investasi untuk duniamu tapi juga untuk akhiratmu.

Semoga anak-anak kita dengan akhlaknya memberi gambaran betapa bagus keluarganya dan betapa indah agamanya.

Semoga anak-anak kita menjadi jalan kebahagiaan manusia, sehingga selalu dinanti-nantikan kehadirannya.

Dari hal terkecil agar anak mandiri, percayai anak mengambil minum sendiri, orangtua tetap mengawasi. Jika cara anak belum betul, orangtua yang meluruskan.

Anak yang beradab, tentunya ia tahu aturan, tak perlu dengan omelan, anak beradab tentu tahu waktunya pulang.

Anak yang beradab, tentunya ia punya rasa hormat, tak perlu dituntut dengan orangtua harus hormat. Anak beradab tentulah hormat.

Anak masih kecil itulah waktu yang tepat untuk anak mengenal adab, tapi ironis banyak orangtua sibuk agar anak kecil prestasi di sekolah mantap.

Anak yang beradab, tentunya ia punya tanggungjawab, tak perlu dipaksa belajar. Anak beradab tentu tahu tanggungjawab.

Dengan anak siapa saja, berikan senyuman dan dukungan untuk mereka. Semoga anak-anak kita pun diperlakukan sama.

Melihat anak orang banyak bergerak, terburu-buru kita melabelnya nakal, menarik anak kita untuk menjauhinya. Bagaimana kalau posisi itu terbalik yah…??

Mendidik anak bukan seperti makan sambal, dimakan langsung terasa pedas. Mendidik butuh proses.

Mendidik anak sesuai harapan bukan seperti membuat mie instan, dibuat beberapa saat lalu bisa merasakan kenikmatan. Mendidik butuh kesabaran.

Mendidik anak menemukan kesulitan, tak ada jawaban yang lebih baik kecuali ‘sabar’. Terus mendidik dengan ilmu dan iman lalu sabar.

Mendidik anak pun butuh latihan. Latihannya berkecimpung dengan kesabaran, harus sering-sering buang kemarahan. Jika marah, lebih baik diam atau do’akan.

Mendisiplinkan anak, latihannya adalah mendisiplinkan diri. Orangtua bangun pagi, anak mengikuti. Di awal agak sulit, tapi harus terus dilatih.

Sosok ayah bagi anak perempuan, menjadi tolak ukur untuk kelak memilih pasangan hidupnya.

Anak perempuan yang tidak mendapat perhatian dari ayah, ia akan mencari perhatian dan kasih sayang laki-laki di luaran sana.

Dari seorang ayah anak belajar bagaimana semestinya bergaul dengan laki-laki.

Saat anak perempuan merasa ia tercantik di mata ayahnya, meski ia pendek atau berkulit gelap, saat itu terbangun rasa percaya dirinya.

Sikap ayah pada anak perempuan dan ibunya akan membangun persepsi seorang anak perempuan tentang laki-laki.

Anak yang sering mendapat pelukan ayah cenderung menjadi anak mandiri, tidak penakut, dan lebih kuat dalam berinteraksi dalam kehidupan sosialnya.

Anak yang sering mendapat pelukan ibu akan menjadi pribadi yang mudah memberikan kasih sayang atau rasa simpati kepada orang lain.

Pelukan seorang ibu akan mentransfer sifat penuh kasih atau empati pada anak.

Pelukan untuk anak berkhasiat luar biasa, tentunya untuk anak bayi dan balita. Ini dicontohkan pula oleh Rasulullah.

Memeluk pasangan sah dengan penuh kasih sayang, maka bertambahlah angka harapan hidupnya. Wajar kalau penampilan pasangan jadi lebih awet muda.

Pelukan diyakini dapat menambah angka harapan hidup pasangan. Nggak main-main, satu pelukan bisa meningkatkan angka harapan hidup satu hari.

Saat berpelukan, tubuh melepaskan hormon oxytocin yang terkait dengan rasa damai dan melekat. Tak heran kalau ini kemudian menyuburkan sikap setia.

Pendidikan di rumah dan sekolah harus mencakup akal, fisik, jiwa dan agama agar terasa manfaatnya dikehidupan nyata.

Pastikan pendidikan anak-anak mencakup pendidikan akal, fisik, jiwa dan agama, baik di rumah ataupun di sekolah.

Mewariskan harta pada anak-anak bisa jadi menghancurkan, mewariskan ilmu dan akhlak membawa keselamatan.

Sebaik-baik warisan yang diberikan orangtua kepada anaknya adalah pendidikan dan akhlak yang baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s