MENCETAK GENERASI RABBANI (Anak yang sholih dan sholihah)

Posted: 16 December 2016 in MENDIDIK ANAK

Setiap orangtua punya keinginan sama dan harapan serupa. Ingin anak kita shalih. Berharap anak kita berbakti pada orangtua.

Tapi sadarkah kita?
Keshalihan dan ketakwaan kita sendiri selaku orangtua adalah modal utama untuk meraihnya. Jadi lucu sekali, kita berharap anak menjadi shalih dan bertakwa, sementara kita berkubang dalam maksiat dan kelalaian.

Keshalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil besar dalam membentuk keshalihan anak. Bahkan akan membawa kebaikan bagi anak di dunia dan akhirat.
Kebaikan itu bisa menjadi berkah dan balasan atas amal-amal shalih kita. Misalnya berupa keshalihan, perlindungan, keluasan rezeki dan kesehatan yang dikaruniakan kepada sang anak.

Tentu kita ingat kisah yang disebutkan dalam surat Al-Kahfi. Alkisah, Nabi Musa bersama Khidr alaihissalam melewati sebuah perkampungan. Keduanya meminta penduduknya agar menyambut dan menjamu mereka berdua. Namun penduduk menolak.
Selanjutnya Nabi Musa dan Khidr melihat bangunan yang hampir roboh. Tiba-tiba Nabi Khidr memperbaiki dinding tersebut hingga tegak kembali. Maka Nabi Musa berkata, “Jika engkau berkehendak, tentu engkau bisa mengambil upah atasnya.” (QS. Al-Kahfi: 77)

Maka jawaban Nabi Khidr atas pertanyaan itu adalah:
“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (QS. Al-Kahfi: 82)

Demikianlah, keshalihan seorang hamba akan mendatangkan rahmat Allah bagi anak keturunannya.

Maka, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan segenap orangtua yang mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya, agar bertakwa, beramal shalih, beramar ma’ruf nahi mungkar dan mengerjakan berbagai amal ketaatan agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjaga anak cucunya dengan amalan tersebut.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa’: 9)

Itulah sebabnya, para salaf dahulu sungguh-sungguh beribadah demi kebaikan anak cucu mereka.
Sa’id Ibnul Musayyib ra. berkata, “Sesungguhnya ketika shalat aku ingat anakku, maka aku menambah shalatku.”

Keshalihan dan ketakwaan orangtua adalah modal utama.
Orangtua yang senantiasa mentaati Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka.
Orangtua yang shalih, selain menyuguhkan makanan yang thayyib dan halal, juga menyuguhkan pengajaran-pengajaran yang baik pula.

Ayah dan bunda adalah guru, pendidik, dan sosok teladan pertama bagi anak-anak mereka.
Inilah salah satu hikmah, mengapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya sangat menekankan masalah agama dalam memilih jodoh, karena mereka adalah calon-calon pendidik bagi anak-anak yang terlahir dari pernikahan mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
Janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang-orang musyrik walaupun dia menarik hatimu.” (QS. Al-Baqarah: 221)
Seorang anak akan tumbuh menurut tarbiyah dan pendidikan yang diberikan kepadanya.
Sifat-sifat orangtua akan menurun kepada anak-anak mereka.
Ibarat kata pepatah “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.”
Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka.

Maka dalam hal ini, sangat dibutuhkan kerjasama yang apik antara ayah bunda.
Ayah berkedudukan sebagai pemimpin dalam rumah tangga.
Dialah panglima yang harus bisa menjadi suri tauladan bagi istri dan anak-anaknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s