11 HAL YANG PERLU DIPERSIAPKAN SEBELUM MENIKAH

Posted: 12 December 2016 in KELUARGA / RUMAH TANGGA

Berikut 11 hal yang perlu disiapkan sebelum menikah, yang semoga bisa menjadi motivasi dan pemicu semangat kita untuk mempersiapkan hal-hal tersebut.

(1) Pemahaman Ilmu Dienul Islam yang Luas

Pada poin pertama ini, kami rasa akan bisa mencakup keseluruhan poin-poin hal yang perlu disiapkan sebelum menikah. Jika seseorang itu pemahaman agamanya luas, maka akan sangat wajar jika ia akan sangat terampil dalam menyiapkan segala kebutuhan sebelum menikah sesuai dengan Syariat Islam.
Mempersiapkan planning untuk acara pra, pasca dan saat pernikahan, keuletan mengatur urusan rumah tangga, menjalin hubungan kekerabatan, membangun keluarga yang Islami, mendidik anak, mempersiapkan kelahiran buah hati, mengetahui hak-hak dan kewajiban suami atau istri, dan berbagai hal lainnya yang menunjang terwujudnya Sakinah, Mawaddah, wa Rohmah dalam rumah tangga secara nyata, bukan cuma sekedar wacana.

(2) Aqidah yang Lurus

Sebagaimana kita ketahui, ada beberapa kesalahan dalam Aqidah (saat menjelang pernikahan) yang sebagian masyarakat masih mengamalkannya, diantaranya:

Tidak memilih tanggal yang dianggapnya sebagai tanggal sial / yang dilarang untuk dilaksanakan Walimatul ‘Ursy, memanggil pawang hujan, meminta diramalkan tanggal yang baik untuk menikah kepada Dukun/Paranormal, memanfaatkan primbon, dan amalan-amalan lainnya.

Hal ini menandakan keroposnya sisi Aqidah masyarakat yang perlu kita pahamkan. Jadi, memahamkan kepada diri dan keluarga, serta memilih pasangan dan keluarga pasangan yang ‘beraqidah lurus’ haruslah menjadi prioritas kita sebelum menikah.

(3) Adab Islami dan Akhlakul Karimah

Memahami adab-adab islam dan berakhlak baik merupakan hal yang perlu diamalkan dan dimiliki oleh setiap muslim, tak hanya mereka yang akan menikah. Kedua hal ini bukanlah amalan / sifat yang bisa dipelajari dan diamalkan dalam waktu yang singkat, tapi butuh pembiasaan dalam waktu yang lama.
Jadi, mulai membenahi diri dari sekarang adalah solusi yang tepat agar ketika sampai pada waktu menikah nanti, kita berada dalam kondisi terbaik dan bisa memberikan contoh yang terbaik pula bagi diri, pasangan dan keluarga kita nantinya.

(4) Visi – Misi

Poin satu ini tidak kalah penting juga dengan poin-poin lainnya. Adanya visi-misi menandakan tingkat keseriusan dan tingkat kematangan dari pihak yang akan menikah. Hal ini bisa jadi pertimbangan bagi pihak yang dilamar untuk memutuskan apakah proses tersebut dilanjut atau tidak, apakah peminang cocok dengan diri kita atau tidak, dan apakah nantinya bisa sejalan dengan kita atau tidak. Well, bagi yang belum mempunyai Visi untuk menikah, mari persiapkan dengan rapi dan baik, agar pernikahan kita nantinya tidak hanya ‘sekedar mengganti status’ dari single / jomblo, tapi memang benar-benar disiapkan untuk jangka panjang ke depan.

(5) Ma’isyah (Penghidupan)

Selain Ilmu Agama yang luas, perihal materi juga tidak kalah penting untuk disiapkan menjelang pernikahan.
Ma’isyah dalam hal ini, bisa diartikan sebagai “tabungan” atau harta simpanan yang sudah disiapkan untuk keperluan pra, pasca dan saat pernikahan, yang meliputi: Mahar, Biaya Resepsi, kesiapan tempat tinggal setelah menikah (apakah sudah mempunyai tanah, rumah, atau akan mengontrak), dan biaya lainnya yang disesuaikan oleh kebutuhan masing-masing.

Mungkin sebagian orang menganggap hal ini adalah sesuatu yang mudah, karena mungkin akan ada bantuan dari berbagai pihak atau mungkin warisan dari orang tua. Namun dari sini, tingkat kemapanan dan kedewasaan seseorang juga bisa dinilai dari seberapa seriusnya dia menyiapkan hal material yang nantinya digunakan untuk membangun Rumah Tangganya.

Satu hal yang juga penting dalam poin ini adalah bagaimana nantinya kedua pasangan agar selalu merasa cukup dengan apa yang dirizkikan oleh Allah, bukan selalu meminta hal yang berlebihan, atau mengeluh jika kekurangan. Namun juga bukan berarti kita bermalas-malasan mencari rizki.

(6) Wawasan Parenting Nabawiy

Parenting Nabawiy adalah sebuah metode mendidik anak yang dicontohkan oleh Nabi, dan bisa kita pelajari dari para Sahabat Nabi dan para ulama’ yang telah mengkaji dan mengamalkannya.

Jika sebagian (atau bahkan setiap) calon Suami-Istri mempunyai tujuan menikah yaitu untuk memperbanyak, memperbaiki atau menyiapkan keturunan, maka satu hal yang perlu diperhatikan: “Siapkanlah generasi penerus (keturunan) yang Kuat Aqidahnya serta Baik Adab dan Akhlaknya”.

Rusaknya moral dan akhlak generasi muda saat ini, selain karena pengaruh lingkungan dan rapuhnya benteng diri, adalah karena minimnya pendidikan dari orang tua sebagai ‘madrasah’ pertama seorang anak.
Jika orang tua tidak mempunyai wawasan pendidikan Islami dan tidak bisa memberikan contoh Adab dan Akhlak yang baik, lalu apa yang akan diajarkan kepada anak nantinya?

(7) Hafalan Al-Qur’an

Berat? Mungkin ini kata pertama yang terlontar setelah membaca poin ini. Setidaknya tingkatan menghafal Qur’an adalah tanda keseriusan seseorang sebelum melanjutkan ke kehidupan berumah tangga. Hal ini juga menunjukkan tingkat keseriusan seseorang dalam ‘berinteraksi’ dengan Kitabullah. Karena menghafal Qur’an memerlukan tahapan-tahapan mulai dari:

● Rutin membacanya
● Mempelajari cara membacanya dengan baik dan benar
● Bertekad Menghafalnya
● Tergerak untuk memahami dan mentadabburinya
● Mengamalkan dan mengajarkannya

Jadi, siapapun yang menghafal Qur’an atau mempunyai hafalan Qur’an, sudah dipastikan bahwa ia mempunyai kedekatan yang bagus dengan Qur’an dan tentunya juga dengan Allah. Karena tidak lain ayat-ayat Al-Qur’an adalah Kalam Allah, dan dengan membacanya berarti kita akan lebih banyak mengingat Allah.

So, apa kita nggak mau punya pasangan yang dekat hubungannya dengan Allah dan Al-Qur’an? Pasti mau dong ^_^ Mau bangeeet… hehee

(8) Nafkah yang Halal

Sudah terbaca secara tersirat, adanya Nafkah berarti seseorang sudah memiliki pekerjaan atau usaha terlebih dahulu, apapun itu.

Yang jadi titik poin adalah ‘Nafkah yang Halal’, hal ini tak bisa dipisahkan. Namun bukan berarti disini seseorang harus ‘mempunyai’ harta yang banyak dulu, atau mapan dulu. Semua juga tergantung dari kedua pihak apakah bisa menerima calon pasangan dalam kondisi apapun.

Menghidupi diri dan keluarga dengan harta yang halal mempunyai banyak manfaat dan pastinya mendatangkan ridho dan rahmat dari Allah ta’ala. Di samping itu, kita juga menerapkan apa yang diajarkan Nabi dalam bidang muamalah.

Sedangkan jika menghidupi dengan harta yang haram atau tidak jelas, maka akan banyak timbul kerusakan dan masalah seperti: Do’a dan Sholat kita tidak diterima selama 40 hari, keresahan yang selalu membebani pikiran, rapuhnya keharmonisan rumah tangga, dan sebagainya.

(9) Soft Skill (Keterampilan atau Keahlian khusus)

Setiap orang dapat dipastikan memiliki (menguasai) soft skill yang berbeda-beda. Mungkin satu poin ini bukan merupakan hal yang begitu penting untuk disiapkan. Namun bahtera kehidupan itu tidak dilalui atau dilangsungkan hanya dalam 1, 2 bulan atau 1, 2 tahun, melainkan sampai akhir hayat.

Memiliki soft skill, saling mengajarkan keahliannya antara suami-istri, mengajarkannya kepada anak-anak dan masyarakat, bisa menjadi poin-poin yang dapat memberikan warna baru dalam kehidupan. Semua hal tersebut merupakan ‘Bumbu-bumbu yang perlu diracik’ mulai dari sekarang dan saat menjalani kehidupan rumah tangga nantinya. Karena tak mungkin kita membiarkan kehidupan rumah tangga itu datar dan garing hanya karena kita tak mempunyai ‘Bumbu untuk diracik’.

(10) Mujahadah dan Tawakkal

Pada poin ketiga InsyaAllah sudah mencakup poin terakhir ini. Karena sama-sama termasuk Akhlakul Karimah. Namun ada beberapa hal yang ditekankan pada akhlak ini, yaitu:

Pertama, Mujahadah berarti bersungguh-sungguh, selalu serius dan tidak bermalas-malasan, dalam artian untuk mempersiapkan diri menggapai pintu pernikahan, sifat Mujahadah perlu dimiliki untuk mengiringi ke-9 poin sebelumnya.

Kedua, Tawakkal yang berarti kita melakukan usaha dan do’a dengan ikhlas semaksimal kita, sembari menyerahkan segala keputusan dan hasilnya kepada Allah.

Kesimpulannya, dari kedua akhlak tersebut akan melahirkan sebuah hubungan timbal balik yaitu: Tawakkal memerlukan Mujahadah, dan Mujahadah membutuhkan Tawakkal.
Dan penting pula mengiringi keduanya dengan selalu bersabar, berhusnudzon kepada Allah, dan yakin bahwa Allah akan memudahkan setiap urusan kita.

(11) House-hold Activities Skill

Mengerjakan pekerjaan rumah jangan dianggap sebagai hal yang remeh. Hal ini sama dengan poin Adab dan Akhlak, adalah amalan yang sifatnya perlu dibiasakan agar bisa menguasainya.

Menumbuhkan rasa peka antar suami-istri terhadap pekerjaan ini merupakan hal yang perlu dimunculkan nantinya. Jika pada umumnya masyarakat memberikan statement bahwa pekerjaan seperti menyapu, mengepel, memasak, mencuci, menyetrika baju, dan sebagainya adalah pekerjaan seorang Istri, maka mari kita ‘sedikit’ mengganti paradigma ini bahwasanya “Seorang Suami juga harus bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tersebut”.
Dengan begitu, InsyaAllah akan lebih memunculkan sikap kepedulian, tidak saling menyalahkan, dan keharmonisan dalam rumah tangga.
(Via: Dakwatuna.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s