This slideshow requires JavaScript.

Ada ilmu yang mesti diperhatikan sebelum melaksanakan puasa Ramadhan. Ada larangan yang berisi perintah untuk tidak berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan. Karena ada yang punya tujuan melaksanakan puasa sebelum itu untuk hati-hati atau hanya sekedar melaksanakan puasa sunnah biasa.

Hadits yang membicarakan hal ini disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom hadits no. 650 sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan kecuali seseorang yang punya kebiasaan puasa, maka bolehlah ia berpuasa.” (HR. Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1082).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

(1) Dalil ini adalah larangan berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan karena ingin hati-hati dalam penentuan awal Ramadhan atau hanya ingin melaksanakan puasa sunnah biasa (puasa sunnah mutlak).

(2) Larangan di sini adalah larangan haram, menurut pendapat lebih kuat karena hukum asal larangan demikian sampai ada dalil yang menyatakan berbeda.

(3) Dikecualikan di sini kalau seseorang yang punya kebiasaan puasa tertentu seperti puasa Senin Kamis, atau puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak puasa), kalau dilakukan satu atau dua hari sebelum Ramadhan, maka tidaklah mengapa.

(4) Begitu pula dikecualikan jika seseorang ingin melaksanakan puasa wajib, seperti puasa nadzar, kafaroh atau qodho’ puasa Ramadhan yang lalu, itu pun masih dibolehkan dan tidak termasuk dalam larangan hadits yang kita kaji.

(5) Hikmah larangan ini adalah supaya bisa membedakan antara amalan wajib (puasa Ramadhan) dan amalan sunnah. Juga supaya kita semakin semangat melaksanakan awal puasa Ramadhan. Di samping itu, hukum puasa berkaitan dengan melihat hilal (datangnya awal bulan). Maka orang yang mendahului Ramadhan dengan sehari atau dua hari puasa sebelumnya berarti menyelisihi ketentuan ini.

(6) Ada hadits yang berbunyi,

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا

“Jika sudah mencapai separuh dari bulan Sya’ban, janganlah kalian berpuasa.“ (HR. Abu Daud no. 2337)

Hadits ini seakan-akan bertentangan dengan hadits yang sedang kita kaji yang menyatakan larangan berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan. Artinya, puasa sebelum itu masih boleh meskipun setelah pertengahan Sya’ban. Dan sebenarnya, hadits ini pun terdapat perselisihan pendapat mengenai keshahihannya. Jika hadits tersebut shahih, maka yang dimaksudkan adalah larangan puasa sunnah mutlak yang dimulai dari pertengahan bulan Sya’ban. Adapun jika seseorang punya kebiasaan puasa seperti puasa Senin-Kamis, puasa Daud, atau ingin menyambung puasa Sya’ban karena separuh pertama melakukannya, begitu pula karena ingin mengqodho’ puasa Ramadhan, maka seperti itu tidaklah masuk dalam larangan berpuasa setelah pertengahan Sya’ban.

(7) Islam memberikan batasan dalam melakukan persiapan sebelum melakukan amalan sholih seperti yang dimaksudkan dalam hadits ini untuk puasa Ramadhan.

Referensi:

Fathu Dzil Jalali wal Ikrom bi Syarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, 7: 18–27.

Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 5: 7–8.

(Artikel Rumaysho.com)

Advertisements

This slideshow requires JavaScript.

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Jika Allah menghendaki, biidznillah sebentar lagi akan masuk bulan Ramadhan yang kita rindu dan harapkan keberkahan.

Berikut ini referensi maksimalisasi Ramadhan kita dengan target harian.

Semoga bermanfaat 👇🏻👇🏻👇🏻

📝✅

Referensi Target Harian Ramadhan

⏰ 02.30-03.50

👉🏻 Tahajjud

👉🏻 Perbanyak Do’a

⏰ 03.50-04.30

👉🏻 Akhirkan Sahur

👉🏻 Perbanyak Istighfar

👉🏻 Bersiap Shalat Subuh

⏰ 04.30-06.30

👉🏻 Sholat Sunnah Fajar

👉🏻 Subuh Berjama’ah di Masjid

👉🏻 Dzikir Pagi

👉🏻 Tilawah

👉🏻 Sholat Isyrak/Dhuha

⏰06.30-11.45

👉🏻 Olahraga ringan

👉🏻 Kerja Nafkah Halal

👉🏻 Hindari dusta (Meski Bercanda), Ghibah, Piktor.

⏰11.45-13.00

👉🏻 Shalat Dhuhur Berjamaah

👉🏻 Tilawah

👉🏻 Qailulah (Tidur sejenak)

⏰13.00-15.00

👉🏻 Kerja nafkah halal

👉🏻 Hindari dusta (Meski Bercanda), Ghibah, Piktor.

⏰15.00-18.00

👉🏻 Shalat Ashar berjama’ah

👉🏻 Hindari dusta (Meski Bercanda), Ghibah, Piktor.

👉🏻 Sedekah/Sedekah Buka Puasa

👉🏻 Silaturahim (Minimal SMS Saudara/Teman)

👉🏻 Mengajak Kawan/Saudara Kebaikan

👉🏻 Dzikir Petang

👉🏻 Do’a Sebelum Buka (Waktu Yang Mustajab)

👉🏻 Segera Berbuka (Sunah Dengan Kurma/Air Putih)

⏰18.00-19.00

👉🏻 Shalat Maghrib Berjamaah

👉🏻 Ngemil makanan ringan berbuka

👉🏻 Tilawah

👉🏻 Persiapan Shalat Isya dan Tarwih

⏰19.00-20.30

👉🏻 Shalat Isya Berjama’ah

👉🏻 Menyimak Taklim/Ceramah

👉🏻 Shalat Tarwih

⏰20.30-22.00

👉🏻Makan malam (makan berat)

👉🏻 Tilawah

👉🏻 Baca Hadist

👉🏻 Baca Al-Qur’an Terjemahan (Tadabbur ayat)

_Aku wasiatkan diriku dari kelalaian untuk bersiap-siap menyambut bulan mulia ini; kalaulah Anda mendapatinya pada tahun ini, maka belum tentu Anda dapatkan pada tahun yang akan datang._

✅ *Cara Menghatam Al-Qur’an di Bulan Ramadhan.*

1⃣ UNTUK SATU KALI KHATAM:

1. Shalat Subuh 4 halaman

2. Shalat Zhuhur 4 halaman

3. Shalat ‘Ashar 4 halaman

4. Shalat Maghrib 4 halaman

5. Shalat ‘Isya 4 halaman

2⃣ UNTUK DUA KALI KHATAM:

1. Shalat Subuh 8 halaman

2. Shalat Zhuhur 8 halaman

3. Shalat ‘Ashar 8 halaman

4. Shalat Maghrib 8 halaman

5. Shalat ‘Isya 8 halaman

3⃣ UNTUK TIGA KALI KHATAM:

1. Shalat Subuh 12 halaman

2. Shalat Zhuhur 12 halaman

3. Shalat ‘Ashar 12 halaman

4. Shalat Maghrib 12 halaman

5. Shalat ‘Isya 12 halaman.

“Barang siapa menunjukkan satu kebaikan, maka baginya pahala semisal orang yang mengikuti KEBAIKAN tersebut.”

(HR. Muslim, no. 1893)

*Marhaban Yaa Syahru Ramadhan*

This slideshow requires JavaScript.

Beberapa keistimewaan bulan Ramadhan:

(1) Ramadhan adalah Bulan Diturunkannya Al-Qur’an.

Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al-Qur’an diturunkan.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)

(2) Setan-setan Dibelenggu, Pintu-pintu Neraka Ditutup dan Pintu-pintu Surga Dibuka Ketika Ramadhan Tiba

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” (HR. Bukhari Muslim)

(3) Terdapat Malam yang Penuh Kemuliaan dan Keberkahan

Pada bulan ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah –yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan- saat diturunkannya Al-Qur’anul Karim.

Allah Ta’ala berfirman: ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 1-3)

(4) Bulan Ramadhan adalah Salah Satu Waktu Dikabulkannya Do’a

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: Orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi”. (HR. At Tirmidzi)

(Via: @ustadzkhalid)

This slideshow requires JavaScript.

Ada beberapa aturan dalam pelaksanaan shalat tarawih yang bisa diperhatikan berikut ini:

(1) Shalat tarawih termasuk qiyamul lail atau shalat malam. Akan tetapi shalat tarawih ini dikhususkan pada bulan Ramadhan. Jadi, shalat tarawih adalah shalat malam yang dilakukan pada bulan Ramadhan.

(2) Shalat ini dinamakan tarawih yang artinya istirahat karena orang yang melakukan shalat tarawih beristirahat setelah melaksanakan shalat empat rakaat.

(3) Para ulama sepakat bahwa hukum shalat tarawih adalah sunnah (dianjurkan), bukan wajib.

(4) Shalat ini dianjurkan bagi laki-laki dan perempuan.

(5) Imam Syafi’i, mayoritas ulama Syafi’iyah, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, dan sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa lebih afdhal (utama) shalat tarawih dilaksanakan secara berjamaah sebagaimana dilakukan oleh ‘Umar bin Al-Khatthab dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Kaum muslimin pun terus-menerus melakukan shalat tarawih secara berjamaah karena itu merupakan syiar Islam yang begitu tampak sehingga serupa dengan shalat ‘ied.

(6) Waktu pelaksanaan shalat tarawih adalah antara shalat Isya dan shalat Shubuh.

(7) Shalat tarawih dilaksanakan sebelum shalat witir.

(8) Lebih utama mengerjakan shalat tarawih bersama imam hingga imam selesai agar mendapatkan pahala shalat semalam penuh.

(9) Jumlah rakaat shalat tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 11 raka’at, beliau tidak pernah lebih daripada itu.

(10) Masih boleh mengerjakan shalat tarawih lebih daripada 11 raka’at dengan alasan: (a) Tidak ada pembatasan jumlah raka’at shalat malam dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, (b) rakaat shalat diperbanyak agar shalat malam bisa lebih lama, (c) kita diperintahkan memperbanyak sujud. Sehingga shalat tarawih dengan 23 raka’at masih dibolehkan, bahkan dianjurkan oleh jumhur (kebanyakan) ulama.

(11) Shalat tarawih dilakukan dua raka’at salam, dua raka’at salam lebih afdhal.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim mengenai hadits,

“Shalat sunnah malam dan siang itu dua raka’at, dua raka’at”, beliau rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud hadits ini bahwa yang lebih afdhal adalah mengerjakan shalat dengan setiap dua raka’at salam baik dalam shalat sunnah di malam atau siang hari. Di sini disunnahkan untuk salam setiap dua raka’at. Namun jika menggabungkan seluruh raka’at yang ada dengan sekali salam atau mengerjakan shalat sunnah dengan satu raka’at saja, maka itu dibolehkan menurut kami.”

(12) Jika memilih jumlah raka’at yang banyak, tetap shalat tersebut dilakukan dengan khusyu’ dan thuma’ninah, tidak boleh dilakukan super cepat (ngebut).

(13) Disunnahkan menutup shalat malam dengan shalat witir (raka’at ganjil).

(14) Masih boleh menambah shalat malam setelah tarawih karena jumlah raka’at shalat malam tidak ada batasannya. Yang penting tidak ada dua witir dalam satu malam.

Dari Thalq bin ‘Ali, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Tirmidzi, no. 470; Abu Daud, no. 1439; An-Nasa’i, no. 1679. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Masih bolehnya lagi menambah raka’at setelah shalat witir, dalilnya berikut ini.

‘Aisyah menceritakan mengenai shalat malam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat 13 raka’at (dalam semalam). Beliau melaksanakan shalat 8 raka’at kemudian beliau berwitir (dengan 1 raka’at). Kemudian setelah berwitir, beliau melaksanakan shalat dua raka’at sambil duduk. Jika ingin melakukan ruku’, beliau berdiri dari ruku’nya dan beliau membungkukkan badan untuk ruku’. Setelah itu di antara waktu adzan shubuh dan iqomahnya, beliau melakukan shalat dua raka’at.” (HR. Muslim, no. 738)

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan: “Dua raka’at setelah witir itu tanda bahwa masih bolehnya dua raka’at setelah witir dan jika seseorang telah mengerjakan shalat witir bukan berarti tidak boleh lagi mengerjakan shalat sunnah sesudahnya. Adapun hadits di atas “Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari adalah shalat witir“, yang dimaksud menjadikan shalat witir sebagai penutup shalat malam hanyalah sunnah (bukan wajib). Artinya, dua raka’at sesudah witir masih boleh dikerjakan.” (Zaad Al-Ma’ad, 1: 322-323)

(15) Membaca qunut witir di raka’at ketiga pada shalat witir setelah ruku’.

Bacaannya: Allahummahdiini fiiman hadait, wa’aafini fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thait, waqinii syarrama qadlait, fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarakta rabbana wata’aalait.

Artinya: “Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak diputuskan kepadaku, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong. Engkau Maha Suci dan Maha Tinggi.” (HR. Abu Daud, no. 1425; An-Nasa’i, no. 1745; Tirmidzi, no. 464. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

(16) Membaca do’a setelah shalat witir.

Ada dua do’a yang bisa diamalkan:

[1] Pertama, dari Ubay bin Ka’ab ia berkata:

فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ :« سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ فِى الآخِرَةِ يَقُولُ :« رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ »

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam, beliau mengucapkan, ‘Subhaanal Malikil Qudduus’ sebanyak tiga kali; ketika bacaan yang ketiga, beliau memanjangkan suaranya, lalu beliau mengucapkan, ‘Rabbil malaa-ikati war ruuh.’” (HR. As-Sunan Al-Kubra Al-Baihaqi, 3:40 dan Sunan Ad-Daruquthni, 4: 371)

Tambahan “Rabbil malaa-ikati war ruuh” adalah tambahan maqbulah yang diterima.

[2] Yang kedua,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Alloohumma innii a’uudzu bi ridhooka min sakhotik wa bi mu’aafaatika min ‘uquubatik, wa a’uudzu bika minka laa uh-shii tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsik.” (Dibaca 1 kali)

Artinya: Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemarahan-Mu, dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan untuk diri-Mu sendiri. (HR. Abu Daud, no. 1427; At-Tirmidzi, no. 3566; An-Nasa’i, no. 1748; dan Ibnu Majah, no. 1179. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

(17) Tidak perlu membaca niat puasa Ramadhan secara berjamaah (dikomandoi) karena letak niat dalam hati. Begitu pula dzikir shalat tarawih dan witir tidak perlu dibaca berjamaah.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

(Sumber : https://rumaysho.com)

 

This slideshow requires JavaScript.

 

(1) Di bulan ramadhan seringkali muncul pertanyaan, “Apa boleh melaksanakan sholat taraweh di masjid secara berjamaah dan sholat witir sendiri dirumah? Mengingat saya ingin sholat tahajud, dan mengakhirkan witir dipenghujung malam?

Jawabannya tentu saja boleh. Hanya saja sebaiknya seorang muslim sholat bersama imam hingga selesai. Karena nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ⠀⠀⠀⠀

“Orang yang melaksanakan sholat malam bersama imam sampai selesai maka dicatat untuknya pahala sholat semalam suntuk.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)⠀

Pahala yang besar bukan?

Dimana pahala tersebut belum tentu diraih oleh orang yang melakukan sholat tahajud di malam hari, itupun kalau terbangun, bila tidak maka sayang sekali, kesempatan meraih pahala besar itu tersia-siakan begitu saja. Karena itu, jangan sampai kita menyia-nyiakan pahala tersebut. Ikutilah hingga imam selesai.

(2) Tapi apakah boleh melakukan sholat witir setelah tahajjud bila telah melakukan sholat witir bersama imam saat teraweh?

Mengingat nabi shallallahu alaihi wasallam menganjurkan untuk menutup sholat malam dengan sholat witir?⠀⠀

Jawabannya tidak boleh, hal ini berdasarkan sabda nabi shallallahu alaihi wasallam,

لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ ⠀⠀

“Tidak ada dua witir dalam satu malam.”⠀⠀

Apakah perlu menggenapkan witir setelah taraweh bersama imam agar bisa sholat witir dipenghujung malam?⠀⠀

Jawabannya tidak perlu. Ibnu Hazm mengatakan,

والوتر آخر الليل أفضل. ومن أوتر أوله فحسن، والصلاة بعد الوتر جائزة، ولا يعيد وترا آخر؛ ولا يشفع بركعة ⠀

“Witir yang dilakukan di akhir malam lebih afdhal, namun barangsiapa yang melakukan witir di awal malam, maka hal itu baik. Dan sholat sunah setelah witir hukumnya boleh, tidak perlu mengulangi sholat witir dan tidak perlu menggenapkannya dengan satu rakaat lagi”. (al-Muhalla, 2/91)⠀⠀

Wallahu a’lam.

(Via: @act_elgharantaly)

Gallery  —  Posted: 16 May 2018 in PUASA RAMADHAN, Sunnah Rasul

screenshot_2018-05-10-07-48-20-1-988552990.png

Untuk menghadapi bulan Ramadhan para ulama terdahulu membiasakan amalan-amalan shalih semenjak datangnya bulan Sya’ban, sehingga mereka sudah terlatih untuk menambahkan amalan-analan mereka ketika bulan Ramadhan tiba.

Abu Bakr Al-Balkhi-rahimahullah-pernah mengatakan: “Perumpamaan bulan Rajab adalah laksana angin, bulan Sya’ban laksana awan yang membawa hujan, dan bulan Ramadhan laksana hujan. Barangsiapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyirami tanamannya di bulan Sya’ban bagaimana mungkin dia memanen hasil tanamannya di bulan Ramadhan.” (Latha’if al-Ma’arif)

Pahala dilipatgandakan di bulan Ramadhan. Kita dapat melihat dari perkataan para salaf berikut.

Guru-guru dari Abu Bakr bin Maryam rahimahumullah pernah mengatakan: “Jika tiba bulan Ramadhan, bersemangatlah untuk bersedekah. Karena bersedekah di bulan tersebut lebih berlipat pahalanya seperti seseorang sedekah di jalan Allah (fii sabilillah). Pahala bacaaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di bulan lainnya.”

An Nakho’i rahimahullah mengatakan: “Puasa sehari di bulan Ramadhan lebih afdhol dari puasa di seribu hari lainnya. Begitu pula satu bacaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) di bulan Ramadhan lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di hari lainnya. Begitu juga pahala satu raka’at shalat di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu raka’at di bulan lainnya.”

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan: “Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat-lipat dibanding amalan lainnya, maka puasa di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya dibanding puasa di bulan lainnya.

Intinya, diantara pahala suatu amalan bisa berlipat-lipat karena amalan tersebut dilaksanakan di waktu yang mulia yaitu seperti pada bulan Ramadhan. Begitu amalan bisa berlipat pahalanya jika dilaksanakan di tempat yang mulia (seperti di Makkah dan Madinah) atau bisa pula berlipat pahalanya karena dilihat dari keikhlasan dan ketakwaan orang yang mengamalkannya.

(Referensi: Rumaysho & Alhujjah)