Hidayah itu Dekat Kita

Posted: 25 June 2017 in Suara Hatiku

Betapa sering ia menyaksikan orang-orang yang mendekatkan diri kepada-Nya, namun ia sendiri malah semakin jauh dari-Nya.

Betapa sering berlalu dihadapannya sekumpulan orang-orang yang menuju kepada-Nya, sedangkan ia hanya duduk-duduk saja malas dan enggan beribadah.

Sebenarnya hidayah/petunjuk itu selalu ada menghampiri kita, disengaja maupun bukan disengaja, kebetulan maupun bukan kebetulan kita menyaksikannya oleh mata kita sendiri.
Hanya saja saat itu ada yang langsung tersentuh dan ada pula yang belum tersentuh untuk mengikutinya. Ada juga yang malah tidak menghiraukannya sama sekali.

Maka beruntunglah ia yang bersegera dalam kembali kepada-Nya dan mengikuti petunjuk-Nya.

#Impostingnow #Late #23Juni2017 #28Ramadhan1438H #Muse #Riniiswriter

Gallery  —  Posted: 24 June 2017 in PUASA RAMADHAN

Kaum muslimin yang berangkat menuju tempat shalat idul fitri disunahkan melakukan adab-adab berikut ini:

(1) Mandi sebelum berangkat
Dari Nafi’ berkata:
“Adalah Ibnu Umar RA mandi pada hari raya idul fitri sebelum keluar menuju tempat shalat.” (HR. Malik, Syafi’I, dan Abdur Razzaq dengan sanad shahih).
Apa yang dilakukan oleh Ibnu Umar RA adalah mencontoh Rasulullah SAW, sebagaimana dilakukan juga oleh Ali bin Abi Thalib dan para sahabat yang lain.

(2) Makan ringan sebelum berangkat shalat idul fitri
Dari Anas, “Rasulullah SAW tidak berangkat menuju shalat Idul fitri sebelum beliau makan beberapa biji kurma.” (HR. Bukhari no. 953)

Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fitri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.” (HR. Ahmad 5/352)

(3) Berhias dan memakai pakaian yang baik dan bersih
Dari Jabir bin Abdullah RA berkata:
“Rasulullah SAW memiliki satu jubah khusus yang beliau kenakan untuk shalat dua hari raya dan shalat Jum’at.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1669)

Dari Ibnu Umar RA berkata:
“Umar membeli sebuah jubah dari sutra yang dijual di pasar. Ia membawanya kepada Rasulullah SAW dan berkata:
“Wahai Rasulullah, belilah baju ini, agar bisa Anda kenakan saat hari ied dan menerima utusan…” (HR. Bukhari no. 886 dan Muslim no. 2068)

(4) Barangkat dan pulang melalui jalan yang berbeda jika memungkinkan dan tidak memberatkan
Dari Jabir RA, “Rasulullah SAW jika shalat pada hari ied selalu melewati jalan yang berlainan (saat berangkat dan pulang).” (HR. Bukhari no. 986)

(Via: @hijabalila)

ADAB DI HARI RAYA

Posted: 24 June 2017 in PUASA RAMADHAN

FB_IMG_1498307392421-1

(1) MANDI HARI RAYA
“Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat ke lapangan.” (HR. Malik & asy-Syafi’i, sanadnya shahih)

(2) BERHIAS, BERSIWAK, DAN MEMAKAI WEWANGIAN (BAGI LAKI-LAKI)
“Sesungguhnya hari ini adalah hari raya yang Allah jadikan untuk kaum muslimin. Barangsiapa yang hadir jum’atan, hendaknya dia mandi. Jika dia punya wewangian, hendaknya dia gunakan, dan kalian harus gosok gigi.” (HR. Ibn Majah, dihasankan Al-Albani)

(3) MENGENAKAN PAKAIAN TERBAIK
“Nabi Shallallahu’alahi Wassallam memiliki jubah yang beliau gunakan ketika hari raya dan hari Jum’at.” (HR. Ibn Khuzaimah)

(4) IDUL FITRI: MAKAN SEBELUM SHALAT ID
IDUL ADHA: TIDAK MAKAN SEBELUM SHALAT ID
“Nabi Shallallahu’alahi Wassallam biasanya tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga makan terlebih dahulu, dan tidak makan pada hari Idul Adha hingga beliau kembali dari shalat, lalu makan dengan daging sembelihannya.” (HR. Muslim)

(5) BERJALAN KAKI MENUJU TEMPAT SHOLAT ID
Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu anhu berkata: “Termasuk perbuatan sunnah, kamu keluar mendatangi sholat Id dengan berjalan kaki.” (HR.  At-Tirmidzi)

(6) BERBEDA JALAN MENUJU DAN PULANG SHALAT ID
“Nabi Shallallahu’alahi Wasallam biasanya ketika hari Id mengambil jalan yang berbeda antara pulang dan pergi.” (HR. Bukhari)

(7) BERTAKBIR DARI KELUAR RUMAH HINGGA MULAI SHALAT
“Rasulullah Shallallahu’alahi Wassallam biasa ketika keluar pada hari Idul Fitri, beliau bertakbir sampai di (lapangan) tempat sholat, sampai didirikan sholat, apabila sholat telah ditegakkan maka terputuslah takbir.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, shahih)

(8) SHALAT ID DI TEMPAT TERBUKA KECUALI ADA UDZUR
“Rasulullah Shallallahu’alahi Wassallam biasa keluar pada hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha menuju tanah lapang.”  (HR. Bukhari & Muslim)

(9) TIDAK ADA SHALAT SEBELUM DAN SESUDAH SHALAT ID
“Nabi Shallallahu’alahi Wassallam menuju lapangan ketika Idul Fitri, kemudian shalat dua rakaat. Tidak shalat sunah sebelum maupun sesudahnya. Dan beliau bersama Bilal.” (HR. Bukhari & al-Baihaqi)

(10) TIDAK ADA ADZAN DAN IQAMAH UNTUK SHALAT ID
Dari Jabir bin samurah radliallahu ‘anhu:
“Saya shalat hari raya bersama Nabi Shallallahu’alahi Wassallam beberapa kali, tidak ada adzan dan qamat.” (HR. Muslim)

(11) DIBOLEHKAN SALING MENGUCAP SELAMAT
Sunnah para ulama mengucapkan selamat dan do’a: “Taqaballahu minna wa minkum” -Semoga Allah menerima ibadah saya dan anda.-
Fatma para ulama besar bahwa ucapan do’a dan selamat bebas selama tidak menyalahi syariat, misalnya “Minal aidzin wa faidzin”.

(12) BATAS BERZAKAT FITRAH SEBELUM SHOLAT IDUL FITRI
“Barang siapa yang menunaikan zakat fitri sebelum shalat maka itu adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka statusnya hanya sedekah.” (HR. Abu Daud & Ibnu Majah, dihasankan Al-Albani)

(13) MENYEMBELIH KURBAN SETELAH SHOLAT IDUL ADHA
“Barangsiapa yang menyembelih sebelum sholat, berarti ia menyembelih hanya untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang menyembelih sesudah sholat, maka telah sempurnalah qurbannya dan sesuai dengan sunnahnya kaum muslimin.” (HR. Bukhari)

(Sumber: almanhaj.or.id, belajarhadits.com, rumaysho.com, konsultasisyariah.com)

PANDUAN ZAKAT FITRAH

Posted: 24 June 2017 in PUASA RAMADHAN

“WAKTU MEMBAYAR ZAKAT FITRAH”

Dilihat dari waktunya, pembayaran zakat fitrah ada 4 tingkatan:

(1) Dibolehkan membayar zakat fitrah sehari atau dua hari sebelum hari raya.
“Ibn Umar radliallahu ‘anhu, bahwa beliau membayar zakat fitrah kepada panitia penerima zakat fitrah. Mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fitrah sehari atau dua hari sebelum hari raya.” (HR. Bukhari secara muallaq, keterangan hadis no. 1511)

(2) Dianjurkan mengeluarkan zakat fitrah pada pagi hari raya sebelum shalat id.
“Bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan zakat fitrah untuk dibayarkan sebelum masyarakat berangkat shalat id.” (HR. Bukhari 1509)

(3) Tidak boleh menunda pembayaran zakat fitrah sampai setelah shalat. Barangsiapa yang mengakhirkan pembayaran zakat fitrah setelah shalat tanpa udzur maka dia harus bertaubat dan segera mengeluarkannya.
“Siapa yang menunaikan zakat fitrah sebelum shalat id, maka zakatnya diterima. Dan siapa yang memberikannya setelah shalat id, maka nilainya hanya sedekah biasa.” (HR. Abu Daud 1609, Ibn Majah 1827, dan dihasankan Al-Albani)

“ZAKAT FITRAH HANYA DENGAN BAHAN MAKANAN POKOK”

Zakat fitrah hanya boleh dibayarkan dalam bentuk bahan makanan yang umumnya digunakan masyarakat setempat, seperti beras, kurma, atau gandum.
“Kami mengeluarkan zakat fitrah pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan satu sha’ bahan makanan.” (HR. Bukhari 1510)

“Yang menjadi makanan pokok kami adalah gandum, anggur kering, keju, dan kurma.” (HR. Bukhari 1510)

Bolehkah membayar zakat fitrah dalam bentuk uang?
Tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang. Karena hal ini bertolak belakang dengan ajaran nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini adalah pendapat hampir seluruh ulama.

Imam Malik mengatakan:
“Tidak sah jika seseorang membayar zakat fitri dengan mata uang apa pun. Tidak demikian yang diperintahkan Nabi.” (Al-Mudawwanah Syahnun)

Imam Asy-Syafi’i mengatakan:
“Penunaian zakat fitri wajib dalam bentuk satu sha’ dari umumnya bahan makanan di negeri tersebut pada tahun tersebut.” (Ad-Din Al-Khash)

Imam Ibn Qudamah mengatakan:
“Jika ada orang yang mengeluarkan zakat dengan selain bahan makanan, berarti dia telah menyimpang dari dalil nas, sehingga tidak sah, seperti mengeluarkan zakat dalam bentuk uang. (Al mughni, 5/482)”

An Nawawi mengatakan:
“Tidak sah membayar zakat fitrah dengan uang menurut madzhab kami. Ini adalah pendapat Malik, Ahmad dan Ibnul Mundzir.” (Al Majmu’, 6/144)

“UKURAN ZAKAT FITRAH”

Ukurannya satu sha’ untuk semua jenis abahan makanan.
Ukuran satu sha’ itu sama dengan empat mud. Sedangkan satu mud adalah ukuran takaran yang sama dengan satu cakupan dua tangan. Ukuran satu sha’ kurang lebih setara dengan 3 kg. (Majmu’ fatawa komite fatwa Arab saudi, no. Fatwa: 12572)

“ZAKAT FITRAH HANYA UNTUK ORANG MISKIN”

Golongan yang berhak menerima zakat fitrah adalah fakir miskin saja, dan tidak boleh diberikan kepada selain fakir miskin.

Ibnul Qoyim mengatakan:
Diantara petunjuk nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengkhususkan fakir miskin untuk zakat ini (zakat fitrah). Beliau tidak membagikannya kepada semua golongan penerima zakat yang jumlahnya delapan. Beliau juga tidak memerintahkannya, dan tidak ada seorangpun sahabat yang melakukannya, tidak pula ulama setelahnya. (Zadul Ma’ad, 2/21)

“ZAKAT FITRAH DIBAYAR DI TEMPAT”

Hukum asalnya, zakat fitrah didistribusikan kepada fakir miskin yang berada di daerah orang yang membayar zakat. Namun, dibolehkan mengirim zakat fitrah ke daerah lain karena adanya kebutuhan atau maslahat lainnya.

Syaikh Abdul Aziz bin baz rahimahullah ditanya  tentang hukum memindahkan zakat fitrah.
Beliau menjawab: “Boleh memindahkannya, dan sah zakatnya, menurut pendapat ulama yang paling kuat.” Namun membayar zakat fitrah di daerah tempat tinggalmu itu lebih baik dan lebih menjaga kehati-hatian dalam beramal. (Majmu’ fatawa syaikh Ibn Baz, 14/215)

Allahu a’lam

(Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits – @konsultasisyariah.com)

Penjelasan Zakat dengan uang:
https://konsultasisyariah.com/7001-zakat-fitrah-dengan-uang.html

GOLONGAN PENERIMA ZAKAT

Posted: 24 June 2017 in PUASA RAMADHAN

Screenshot_2017-06-24-11-35-51-1.png

Ada 8 golongan yang menerima Zakat berdasarkan Q.S At-Taubah: 60, yaitu diantaranya:

(1) ORANG FAKIR
ialah orang yang tidak memiliki harta benda dan pekerjaan yang mampu mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

(2) ORANG MISKIN
ialah orang yang memiliki pekerjaan, tetapi penghasilanya tidak dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

(3) AMIL
ialah orang yang bertugas melaksanakan pengumpulan dan pembagian zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Panitia ini disyaratkan harus memiliki sifat jujur dan menguasai hukum zakat.

(4) MUALLAF
ialah orang yang baru beberapa saat masuk agama Islam atau orang yang sedang diharapkan masuk Islam. Golongan ini dilihat dari imannya belum kokoh benar, dan justru karena itu masih memerlukan berbagai penyantunan yang menggembirakan.

(5) BUDAK atau HAMBA SAHAYA
Yang dimaksud disini adalah para budak muslim yang telah membuat perjanjian dengan tuannya untuk dimerdekakan dan tidak memiliki uang untuk membayar tebusan atas dirinya, meskipun mereka telah bekerja keras dan membanting tulang mati-matian.

(6) ORANG YANG BERHUTANG
ialah orang yang berhutang demi mencukupi kebutuhan hidup yang primer atau maksud lainnya yang sifatnya halal. Lilitan hutang akhirnya menyebabkan orang tersebut tidak mampu lagi mengembalikannya.

(7) FI SABILILLAH
ialah berbagai bentuk usaha dan perjuangan untuk menyebarluaskan agama Islam serta mempertahankannya. Dalam pengertian ini dapat dimasukkan segala amalan yang memang dimaksudkan untuk da’wah Islam, semacam pendirian sekolah atau madrasah Islam, rumah sakit Islam, mushalla, pembiayaan organisasi perjuangan zakat dan lain sebagainya.

(8) IBNU SABIL
ialah orang yang bepergian (musafir) untuk melaksanakan suatu hal yang baik (tidak termasuk maksiat). Dia diperkirakan tidak akan mencapai maksud dan tujuannya jika tidak dibantu. Sesuatu yang termasuk perbuatan baik ini antara lain, ibadah haji, berperang dijalan Allah, dan ziarah yang dianjurkan.

(Sumber: @rumahzakat)

AT-THOHURU – AL-BARAKATU

Posted: 24 June 2017 in PUASA RAMADHAN

FB_IMG_1498260848578.jpg

” AT-THOHURU ”

At-Thohuru adalah salah satu makna zakat yang artinya membersihkan atau mensucikan. Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu menunaikan zakat karena Allah dan bukan karena ingin dipuji manusia, Allah akan membersihkan dan mensucikan baik hartanya maupun jiwanya.

Allah SWT berfirman dalam surat At-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Selain itu dari harta yang dimiliki terdapat hak orang lain yang harus dikeluarkan. Dengan mengeluarkan zakat, harta menjadi bersih dan pemanfaatannya akan memberikan berkah yang lebih baik. Mengeluarkan yang sedikit untuk mensucikan seluruh harta dan jiwa.

” AL-BARAKATU ”

Salah satu makna Zakat adalah Al-Barakatu, yang artinya berkah.

Imam Al-Ghazali mengatakan, berkah (barokah) berarti ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan). Sementara, Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa berkah memiliki dua arti:
1. Tumbuh, yaitu berkembang atau bertambah.
2. Kebaikan yang berkesinambungan.

Maka dengan menunaikan zakat, ingsyaAllah akan membuat harta kita menjadi berkah. Bukan saja akan bertambah dan berkembang, tapi harta kita juga akan memberikan kebaikan yang terus menerus dalam kehidupan kita.

Link zakat: http://sharinghappiness.org/sedekah/showall/14

(Via: @rumahzakat)

=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=

(1) Pengertian Zakat Fitrah
Zakat Fitrah adalah zakat yang harus dikeluarkan oleh setiap orang Islam pada saat menjelang hari raya Idul Fitri.

(2) Hukum Zakat Fitrah
Zakat Fitrah adalah hukumnya wajib. Berdasarkan Sabda Rasulullah s.a.w. sebagai berikut:

فَرَضَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ الفِطْرِ -مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ

Artinya: Rasulullah telah mewajibkan mengeluarkan Zakat Fitrah (pada bulan Ramadhan kepada setiap manusia). (HR. Bukhari-Muslim)

(3) Orang-orang Yang Wajib Zakat Fitrah
Zakat Fitrah adalah wajib bagi setiap orang Islam, untuk dirinya sendiri dan untuk orang-orang yang berada dalam tanggungannya, yaitu dari:
1. Laki-laki
2. Perempuan
3. Anak-anak
4. Janin
5. Orang dewasa
6. Budak
7. Orangtua
8. Dan setiap orang yang merdeka (bukan budak)

(4) Macam-macam Zakat Fitrah
Zakat Fitrah pada intinya adalah menggunakan makanan atau kebutuhan pokok dari suatu wilayah terkait. Berikut ini adalah hal-hal yang diperbolehkan digunakan untuk Zakat Fitrah:
1. Gandum
2. Kurma
3. Susu
4. Anggur kering
5. Beras
6. Dll.

(5) Ukuran Zakat Fitrah
Menurut pendapat mayoritas ulama, bahwa Zakat Fitrah di keluarkan dengan kadar ukuran 1 sha’, yaitu sekitar 2,5 sampai 3,0 kilogram.

(6) Membagikan Zakat Fitrah
Zakat Fitrah itu harus dibagikan kepada kelompok berikut ini:
1. Fakir
2. Miskin
3. Petugas zakat
4. Muallaf
5. Budak
6. Orang yang terlilit hutang
7. Orang yang sedang dalam jalan Allah
8. Dan orang yang sedang dalam perjalanan jauh yang bukan maksiat.

(7) Waktu menunaikan Zakat Fitrah
Zakat Fitrah ditunaikan pada:
1. Sebelun ditunaikannya shalat Ied
2. Dan boleh dikeluarkan pada awal bulan Ramadhan

Jika Zakat Fitrah dikeluarkan setelah shalat Ied, maka dihitung sebagai shadaqah biasa, dan belum menggugurkan kewajiban zakat fitrah.