Screenshot_2017-08-23-16-46-30-1

Sa’id bin Al Musayyib, Robi’ah, Imam Ahmad, Ishaq, Daud dan sebagian murid-murid Imam Asy Syafi’i mengatakan bahwa larangan memotong rambut dan kuku (bagi shohibul qurban) dihukumi haram sampai diadakan penyembelihan qurban pada waktu penyembelihan qurban.

Secara zhohir (tekstual), pendapat ini melarang memotong rambut dan kuku bagi shohibul qurban berlaku sampai hewan qurbannya disembelih. Misal, hewan qurbannya akan disembelih pada hari tasyriq pertama (11 Dzulhijah), maka larangan tersebut berlaku sampai tanggal tersebut.

Yang dimaksud dengan larangan mencabut kuku dan rambut disini menurut ulama Syafi’iyah adalah dengan cara memotong, memecahkan atau cara lainnya.
Larangan disini termasuk mencukur habis, memendekkannya, mencabutnya, membakarnya, atau memotongnya dengan bara api. Rambut yang dilrang dipotong tersebut termasuk bulu ketiak, kumis, bulu kemaluan, rambut kepala dan juga rambut yang ada di badan.

Lalu apakah hikmah dibalik larangan ini?
Menurut ulama Syafi’iyah, hikmah larangan disini adalah agar rambut dan kuku tadi tetap ada hingga qurban disembelih, supaya makin banyak dari anggota tubuh ini terbebas dari api neraka.

(Via: @rumayshocom)

Screenshot_2017-08-23-16-45-57-1

Ada tuntunan puasa1 Dzulhijah atau puasa di awal dzulhijjah. Berarti mulai Rabu bisa puasa. Apalagi tanggal 9 Dzulhijjah lebih besar lagi keutamaannya yaitu puasa Arafah.

Sebagaimana diceritakan dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, awal bulan di hari Senin dan Kamis.” (HR. Abu Daud no. 2437 dan An-Nasa’i no. 2374. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Di antara sahabat yang mempraktikkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut untuk berpuasa. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. (Latho’if Al-Ma’arif, hlm. 459)

CARA MELAKUKAN PUASANYA BAGAIMANA?
(1) Boleh lakukan dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah, lebih utama lagi puasa Arafah (9 Dzulhijjah)

(2) Boleh lakukan dengan memilih hari yang diinginkan, yang penting jangan tinggalkan puasa Arafah.

(3) Niat puasanya bagaimana?
Niat cukup dalam hati, karena maksud niat adalah keinginan untuk melakukan amalan.

Semoga dimudahkan beramal shalih di awal Dzulhijjah. Karena amalan shalih di awal Dzulhijjah dapat mengalahkan jihad.
(Sumber: https://rumaysho.com/11910-cara-melakukan-puasa-awal-dzulhijjah.html)

(Muhammad Abduh Tuasikal)

Puasa Awal Dzulhijjah

Posted: 23 August 2017 in Iedul Adha, Sunnah Rasul

 

Diantara keutamaan yang Allah berikan pada kita adalah Allah menjadikan awal Dzulhijjah sebagai waktu utama untuk beramal sholih terutama melakukan amalan puasa. Lebih-lebih lagi puasa yang utama adalah puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.

Pada awal Dzulhijjah disunnahkan untuk berpuasa selain pada hari Nahr (Idul Adha). Karena hari tersebut adalah hari raya, maka kita diharamkan untuk berpuasa. Sedangkan tanggal 9 Dzulhijjah dan hari-hari sebelumnya (1-9 Dzulhijjah) disyari’atkan untuk berpuasa.
Para salaf biasa melakukan puasa tersebut bahkan lebih semangat dari melakukan puasa enam hari di bulan Syawal.

Hal ini dikuatkan pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan penekanan ibadah pada 10 hari awal Dzulhijjah tersebut daripada hari-hari lainnya. Hal ini sebagai dalil umum yang menunjukkan keutamaanya. Jika sepuluh hari pertama Dzulhijjah dikatakan hari yang utama, maka itu menunjukkan keutamaan beramal pada hari-hari tersebut.

Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).”
Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”
(HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Jika puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah dikatakan utama, maka itu menunjukkan bahwa puasa pada hari-hari tersebut lebih utama dari puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulannya, bahkan lebih afdhol dari puasa yang diperbanyak oleh seseorang di bulan Muharram atau di bulan Sya’ban.

Puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah bisa dikatakan utama karena makna tekstual yang dipahami dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(Via: @rumayshocom)

Gallery  —  Posted: 20 August 2017 in WUDHU

Screenshot_2017-08-18-15-35-18-1

Menikah merupakan salah satu ibadah yang menjadi kewajiban bagi umat Islam. Menikah bukan hanya mempersatukan fisik dua insan yang berbeda, tetapi mempersatukan tujuan, pemikiran, keluarga dan hal-hal lainnya. Untuk itu diperlukan proses ta’aruf atau perkenalan.

Terkadang dua insan yang sedang ta’aruf tidak saling mengenal sebelumnya, hanya berbekal informasi profil calon pasangan melalui CV atau mediator. Saat tatap muka atau berkomunikasi langsung ada beberapa hal yang harus diperhatikan dipertanyakan kepada masing-masing calon pasangan.

(1) Bagaimana Ibadahnya?

Pertanyaan mengenai ibadah adalah poin penting yang harus diperhatikan saat proses taaruf. Kamu bisa menanyakan seputar shalat wajibnya, bagi calon wanita kamu bisa tanyakan kepada calon pria apakah dia shalat 5 waktu di masjid? Kemudian shalat sunnah yang rutin dilakukan, membaca Al-Qur’an dan pemahamannya dan ibadah lainnya.

Peranyaan ini menjadi sangat penting karena kekuatan ibadah akan membentuk iman yang baik dan menjadi pondasi yang kokoh saat kita menjalani roda kehidupan dimasa depan.

(2) Pemahaman Tentang Keluarga dan Tujuan Menikah

Setiap orang yang akan menikah pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai, penting bagi kita untuk menyamakan tujuan menikah dengan calon pasangan. Karena jika tujuannya sama jika dalam perjalanan ditemukan hambatan, mereka akan berpikir lagi ke tujuan awal dan terus melangkah bersama kedepan.

Hal yang perlu kamu tanyakan juga seputar pemahaman dia tentang arti keluarga, dalam pandangan Islam dan secara umum. Seberapa besar keluarga bermakna bagi dirinya akan mencerminkan bagaimana dia memperlakukan keluarga kecilnya.

(3) Latar Belakang Keluarga Serta Hubungan Yang Terjalin

Orangtua sering bilang, jika mencari jodoh jangan lupa perhatikan bibit bobot dan bebetnya. Artinya ketika kita mencari calon pasangan hidup, latar belakang keluarga menjadi hal yang harus diperhatikan. Karena ketika kita tahu pekerjaan ayah dan ibunya, berasal darimana, pola komunikasi dan hal lainnya, kita akan lebih bisa memahami apa yang tercermin dari calon pasangan.

Bagaimana hubungannya dengan ayah dan ibunya, adik atau kakaknya serta hubungan dia dengan keluarga besar. Kemudian peran keluarganya dalam pengambilan keputusan, ini juga menjadi poin penting, apakah keluarga sepenuhnya berperan atau hanya sebagai pendamping.

(4) Bagaimana Cara Menyelesaikan Masalah dan Regulasi Emosi

Dalam perjalanan rumah tangga nantinya pasti tak luput dari masalah. Penting bagi kamu untuk menanyakan cara dia menyelesaikan suatu permasalahan dan emosi yang berperan didalamnya. Kamu bisa menanyakan apa yang akan dilakukan jika dia menemukan sebuah masalah, bagaimana cara dia menangani stress dan apa yang memicu amarahnya.

(5) Pemahaman Hak dan Kewajiban Suami Istri

Ketika akan menikah seharusnya kita sudah tahu apa yang menjadi kewajiban suami istri dan hak-hak yang bisa didapatkan dari suami atau istri. Komunikasi akan menjadi awal yang baik bagi pasangan untuk mendiskusikan tentang perannya. Hendaknya kewajiban dan hak dijalankan dengan baik dan semestinya, agar tercipta hubungan yang baik dan nyaman.

Proses terakhir yang perlu dijalankan adalah Shalat Istikharah, jika semua usaha sebagai manusia sudah kita tempuh, maka jalan terakhir adalah berpasrah kepad Allah SWT. Meminta untuk diberikan petunjuk terbaik dan dihindarkan dari segala macam kesulitan dari proses Taaruf yang sedang kita jalani.
Semoga Allah SWT selalu meridhoi apapun yang kita lakukan. Aamiin Aamiin

(Sumber: http://www.muslimahdaily.com)

Gallery  —  Posted: 19 August 2017 in Do'a-do'a

Gallery  —  Posted: 19 August 2017 in Sifat-sifat Buruk