ANAK PEREMPUAN

Posted: 6 October 2017 in MENDIDIK ANAK, TENTANG WANITA

Punya Dua Anak Wanita, Bisa Bertetangga Di Surga Dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Untuk bisa bertetangga dengan beliau disurga tidak mudah, bertetangga di surga berarti masuk surga yang tertinggi dan derajat tertinggi dengan beliau di surga. Ini perlu amalan yang agak banyak dan ikhlas, contohnya kisah sahabat yang ingin bertetangga dengan beliau di surga, tetapi beliau berkata agar sahabat memperbanyak amalannya, yaitu memperbanyak sujud (shalat).

Bagi yang sudah dikaruniai dua anak wanita, berbahagialah, karena bisa jadi penghalang api neraka (kandungan hadits) dan bisa menjadi tetangga/dekat dengan Nabi di surga tertinggi.

Beberapa ulama menjelaskan karena:

(1) Mendidik agama anak wanita lebih sulit (bukan mendidik ilmu dunia, penduduk neraka lebih banyak wanita)

Sabda Rasulullah: “Wahai para wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar. Sesungguhnya aku melihat bahwa mayoritas kalian akan menjadi penghuni neraka.” (HR. Ibnu Majah, no. 4003)

(2) Wanita memang lebih mudah tergoda/silau dengan dunia

(3) Wanita tidak stabil secara emosi dan memang/”bengkok”

Ahmad dari Abu Hurairoh rodhiallohu anhu dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, yang artinya:
“Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, jika kamu meluruskannya, maka kamu mematahkannya. Jadi, berlemah lembutlah terhadapnya, maka kamu akan dapat hidup bersamanya.” (HR Hakim, shohih)

(4) Sebagian orang merasa anak laki-laki lebih mudah diandalkan dan lebih banyak keuntungannya. Karenanya, jika mendidik anak wanita dengan baik, agama, akhlak dan ilmunya serta kehormatannya sampai ia menyerahkan tanggungjawab kepada suaminya, maka balasannya sangat besar sekali

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku.” (Anas bin Malik berkata: Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau). (HR. Muslim 2631)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
“Seorang wanita miskin datang kepadaku dengan membawa dua anak perempuannya, lalu aku memberinya tiga buah kurma. Kemudian dia memberi untuk anaknya masing-masing satu buah kurma, dan satu kurma hendak dia masukkan ke mulutnya untuk dimakan sendiri. Namun kedua anaknya meminta kurma tersebut. Maka si ibu pun membagi dua kurma yang semula hendak dia makan untuk diberikan kepada kedua anaknya. Peristiwa itu membuatku takjub sehingga aku ceritakan perbuatan wanita tadi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan baginya surga dan membebaskannya dari neraka.” (H.R Muslim 2630)

Selengkapnya: https://muslimafiyah.com/punya-dua-anak-wanita-bisa-bertetangga-di-surga-dengan-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html

Penyusun: Raehanul Bahraen

(Via: @fiqihwanita_)

Advertisements

Ustaz Arifin menyampaikan sejumlah materi tentang pilar rumah tangga sakinah. Secara bahasa, sakinah sendiri memiliki arti ketenangan, ketentraman dalam hati, kedamaian dalam berkeluarga.

“Pilar rumah tangga sakinah adalah dibangun atas dasar ketakwaan kepada Allah SWT. Semakin kita cinta Allah, semakin kita takut berbuat maksiat, maka rumah tangga itu penuh dengan berkah,” ungkap Ustaz Arifin Ilham.

Beragam materi lain disampaikan Ustaz Arifin termasuk bahwa keluarga sakinah adalah benteng yang luar biasa kuat. Dengan menjaga hubungan dengan Allah, maka Allah akan menjaga rumah tangga seseorang.
“Rumah tangga yang dihuni dengan rahmat Allah, tanda rahmat Allah setiap anggota keluarga suami istri-istri ini semua mendekat kepada Allah,” ungkapnya.

10 Pilar Keluarga Sakinah:

(1) Memagari benteng rumah tangga dengan sungguh-sungguh berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Assunnah

(2) Tujuan utamanya ridho Allah dan kebahagiaan akhirat

(3) Saling cinta benar-benar karena Allah sehingga memandang kekurangan pasangan pun adalah keistimewaannya, semakin lama pernikahan semakin sayang, manja dan mesra

(4) Ide dan aktifitasnya bekerja untuk saling melayani, melindungi dan menyenangkan keluarganya

(5) Makan dari rizki yang halal, dan halal pintu sakinah

(6) Kekuatannya saling mendo’akan di penghujung malam

(7) Minimal sepekan sekali “Tarbiyyah Ahliyah” pembinaan keluarga dengan duduk bersama mengaji dan mengkaji Al-Qur’an dan Assunnah

(8) Segera minta maaf tatkala melakukan kesalahan

(9) Mensyukuri ni’mat Allah dengan senang berbagi sedekah

(10) Tawakkal yang penuh bahwa hanya Allah segala-galanya

(Muhammad Arifin Ilham)

Screenshot_2017-10-03-06-08-16-1

Menikah merupakan suatu momen yang sangat dinanti bagi setiap orang, terlebih bagi penggiat ‘nikah muda’. Karena dengan menikah kita bebas kemana aja dan bebas ngapain aja sama pasangan dengan status halal. Intinya menikah itu ‘enak’.

Namun menikah bisa juga menjadi ‘tidak enak’ karena kita belum siap dengan kejutan-kejutan pasca menikah. Jangan pernah berfikir suatu hubungan bakal selalu berjalan mulus, jangan pernah berfikir nikah itu bakal enak terus. Engga, nikah itu justru banyak struggle yang akan dijalani, masalah-masalah kecil sampai masalah besar pasti akan ada.

Tidak salah memang anjuran menikah itu pada saat usia sudah matang karena masing-masing sudah ‘dewasa’ namun bukan berarti usia juga menentukan kedewasaan. Ada yang usia 30 tahun pola pikir masih labil, ada juga yang usia 20 tahun pola pikir sudah dewasa dan sabar. Jika kamu siap untuk nikah muda why not?

Intinya pernikahan itu tidak ada lagi yang namanya ‘mempertahankan ego’ karena menikah itu butuh ‘kedewasaan’. Nikah itu tidak dianjurkan bagi yang masih ‘labil’ karena, sedikit-sedikit ngambek atau sedikit-sedikit update status galau yang justru akan memperkeruh masalah.

Jangan sampai baru 2 bulan menikah piring pecah sudah dimana-mana, jangan sampai baru 2 bulan nikah udah pisah kamar. Istri tidur di kamar, suami tidur di ruang tamu. Jangan sampai gara-gara masalah sepele udah saling unfollow, sudah hapus foto-foto kebersamaannya. Jangan sampai yang awalnya ‘ingin ‘menikah’ malah jadi ‘ingin pisah’ gara-gara sama-sama labil dan mempertahankan ego masing-masing.

Oleh karena itu, sebelum menikah tanya dulu pada diri sendiri sudah siap mental belum?
Bisa kontrol emosi atau engga?
Pola pikir masih labil, sedikit-sedikit ngambek atau justru pola pikir sudah dewasa?
Jangan sampai menjadi rapuh dan cengeng saat kamu sudah nemuin yang namanya kejutan-kejutan pasca menikah. Saling mengerti, saling pengertian, sabar, kurangi ego untuk meminimalisir pertengkaran sehingga menjadi pasangan yang sakinah mawaddah wa rahmah.

(Via: @ziaulhaq.id)

Sebuah Kisah Nyata Dari Imam Syafi’i

Suatu ketika Imam Syafi’i pernah kedatangan seorang laki-laki. Laki-laki itu mengadu kepada Imam Syafi’i perihal istrinya yang sudah tak cantik lagi dipandang olehnya.

Laki-laki: “Wanita yang saya nikahi itu pertama kali cantik banget, tapi kenapa dalam waktu sekejap kecantikan wanita itu hilang ya?”
Mendengar hal itu kemudian Imam Syafi’i dengan tersenyum lalu berkata: “Kamu ingin istrimu kembali lagi cantik?”
Laki-laki: “Iya!”
Imam Syafi’i: “Gampang, tundukkan pandanganmu selama sebulan!”

Setelah mendengar hal itu laki-laki tersebut segera mematuhi apa yang dikatakan Imam Syafi’i. Si laki-laki tersebut kemudian menundukan pandangannya dari melihat perkara-perkara yang tidak untuk dilihat. Sebulan kemudian laki-laki tersebut bertemu kembali dengan Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i pun bertanya: “Bagaimana sekarang, istrimu sudah kelihatan cantik apa tidak?”
Laki2: “MasyaAllah wahai imam, sungguh tak ada wanita cantik selain istriku.”
Imam syafi’i berkomentar atas kejadian ini: “Sebenarnya istrimu tidak berubah, namun ketika kamu menjadi laki-laki yang sering melabuhkan atau mendaratkan pandanganmu kepada wanita-wanita tidak halal untukmu, ketika semakin sering kamu melihat perempuan-perempuan itu, maka Allah cabut kenikmatan pandanganmu ketika melihat yang halal, makanya ketika Allah cabut dan timpakan kepadamu kenikmatan melihat yang haram, itulah kenapa kamu melihat istrimu menjadi biasa.”
“Akan tetapi ketika kamu meninggalkan pandangan yang haram, lalu akhirnya kamu kemudian hanya menikmati pada pandangan yang halal (istrimu), disitulah kamu akan mendapati kenikmatan istrimu kembali.”

Dari kisah ini kita mendapat sebuah hikmah, “MAKSIAT MENGGEROGOTI NIKMAT DAN INDAHNYA RASA IBADAH.”

(Via: @sahabatsurga – @sumber.ilmu)

AKHLAQ YANG BAIK

Posted: 25 September 2017 in Sifat-sifat Baik

Keutamaan akhlaq yang baik banyak disebutkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam hadits beliau:

أَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya.“ (H.R Ahmad, Abu Dawud, AtTirmidzi, al-Hakim dan dishahihkan oleh adz-Dzahaby)

إِنَّ اْلمُؤْمِنَ لَيُدْركُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ الصَّائِمِ وَاْلقَائِمِ

“Sesungguhnya seorang mukmin dengan kebaikan akhlaqnya bisa mencapai derajat orang-orang yang (banyak) berpuasa dan (banyak) melakukan qiyamullail.“ (H.R Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim, dishohihkan oleh adz-Dzahaby)

أَكْثَر مَا يُدْخِلُ اْلجَنَّةَ تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ اْلخُلُقِ

“(Hal) yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga adalah taqwa kepada Allah dan akhlaq yang baik.“ (H.R Ahmad, AtTirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al-Albany)

أَنَا زَعِيْمُ بَيْتٍ فِي أَعْلَى اْلجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

“Aku menjamin rumah di bagian surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaqnya.”(H.R Abu Dawud dan AtThobrooni dan dihasankan oleh Syaikh al-Albany)

(Sumber: Salafy.or.id)

AMAL YANG PALING UTAMA

Posted: 25 September 2017 in Sifat-sifat Baik

Suatu ketika ada lelaki yang menemui Abdullah bin Mas‘ud -radhiyallahu ‘anhu- Dia berkata:
“Wahai Abu Abdirrahman, amal apakah yang paling utama?”
Beliau menjawab, “Ilmu”.
Kemudian dia bertanya lagi: “Amal apakah yang paling utama?”
Beliau menjawab, “Ilmu”.
Lantas lelaki itu berkata: “Aku bertanya kepadamu tentang amal yang paling utama, lantas kamu menjawab ilmu?!”

Ibnu Mas‘ud pun menimpali perkataannya:
“Aduhai betapa malangnya dirimu, sesungguhnya ilmu tentang Allah merupakan sebab bermanfaatnya amalmu yang sedikit maupun yang banyak. Dan kebodohan tentang Allah akan menyebabkan amalmu yang sedikit atau yang banyak menjadi tidak bermanfaat bagimu”.
(lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal, [1/133])

Gallery  —  Posted: 25 September 2017 in Sifat-sifat Buruk