Langsung tidur setelah shalat subuh ternyata tidak dianjurkan dalam Islam dan beberapa ulama menjelaskan hukumnya adalah makruh (jika tidak ada udzur dan keperluan). Selain itu, kurang baik juga untuk pola hidup yang sehat. Setelah subuh adalah waktu turunnya berkah dan rezeki, jika tidur maka tidak mendapatkan berkah ini.

Jika berbicara tentang “berkah” terkadang tidak masuk logika dan hitungan matematika. Mungkin ada yang bilang: “Saya sering tidur setelah subuh (bahkan kelewatan shalat subuh), tapi rezeki saya lancar”.

Jawabnya: “Walaupun secara hitungan rezekinya banyak,  tetapi belum tentu berkah. Belum tentu ia qonaah dan bahagia dengan banyaknya hartanya. Bisa jadi banyak ia dapat, banyak juga ia keluarkan dalam hal yang tidak bermanfaat, atau hartanya “dibuang-buang” oleh anaknya dan keluarganya dalam hal maksiat dan dosa.
Sebaiknya jangan tidur setelah subuh karena waktu itu juga turunnya rezeki dan berkah.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

وَنَوْمُ الصُّبْحَةِ يَمْنَعُ الرِّزْقَ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ وَقْتٌ تَطْلُبُ فِيهِ الْخَلِيقَةُ أَرْزَاقَهَا، وَهُوَ وَقْتُ قِسْمَةِ الْأَرْزَاقِ، فَنَوْمُهُ حِرْمَانٌ إِلَّا لِعَارِضٍ أَوْ ضَرُورَةٍ،

“Tidur setelah subuh mencegah rezeki, karena waktu subuh adalah waktu makhluk mencari rezeki mereka dan waktu dibagikannya rezeki. Tidur setelah subuh suatu hal yang dilarang [makruh] kecuali ada penyebab atau keperluan.” (Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibaad 4/222, Muassah Risalah, Beirut, cet. Ke-27, 1415 H)

(Via: @teladan.rasul)

Advertisements

EMPAT MANFAAT SEDEKAH

Posted: 23 November 2017 in Sifat-sifat Baik

Sedekah yang kita berikan bukan hanya akan membahagiakan dan membantu orang yang membutuhkan, tapi sedekah juga akan memberi manfaat bagi orang yang memberi.

Ada 4 manfaat yang akan didapatkan oleh orang yang bersedekah diantaranya:

(1) Panjang umur

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya sedekah orang muslim dapat menambah (memperpanjang) umurnya, dapat menunda kematian yang su’ul khatimah, Allah akan menghilangkan sifat sombong, kefakiran dan sifat berbangga kepada diri sendiri.” (HR. At-Tabhrani)

(2) Menyembuhkan penyakit

Rasulullah bersabda: “Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit dengan bersedekah dan siapkan do’a untuk menghadapi datangnya bencana.” (HR. At-Thabrani)

(3) Tolak bala/musibah

Hal ini diungkapkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi: “Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah mendahului sedekah.”

(4) Memperbanyak rezeki

Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 261, Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan 70 tangkai, pada setiap tangkainya terdapat 100 biji. Allah melipatgandakan bagi siapa saja yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”

(Via: Rumah Zakat)

Screenshot_2017-11-23-22-58-53-1

Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong, “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” (HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadits ini maudhu’)

Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” (Madarijus Salikin, 1: 176)

Hadits di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadits berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain) dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi Ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan. Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri.

Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihat berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan dan merasa diri lebih baik dari orang lain.

Jangan sombong, sampai merasa bersih dari dosa atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.

Semoga Allah memberikan hidayah demi hidayah. Aamiin

(Sumber: https://rumaysho.com/)

Setiap manusia akan melalui empat fase alam:

(1) Fase Pertama: Alam Rahim

Yaitu saat anak manusia mulai tumbuh (janin). Tempatnya sangat sempit dan gelap. Usianya tidaklah panjang.

(2) Fase Kedua: Kehidupan Dunia Saat Ini

Di fase ini anak manusia tumbuh dan hidup serta berbuat baik atau buruk untuk kehidupannya.
Demikian pula ia mencari sebab untuk kehidupan yang bahagia atau sengsara kelak.

(3) Fase Ketiga: Alam Barzakh

Kubur adalah bagian dari alam barzakh, karena tidak semua manusia yang meninggal itu dikubur. Ada yang tenggelam di laut, ada yang terbakar, dll. Alam barzakh yang luas dan lebih luas daripada alam dunia. Perbandingannya seperti alam rahim dan alam dunia ini.

(4) Fase Keempat: Alam Akhirat Nan Kekal Abadi

Di alam akhirat hanya ada dua pilihan, antara Surga atau Neraka, antara bahagia atau nestapa.
Setelah alam ini tiada alam lainnya lagi. (ar-Ruh Ibnul Qayyim, hal: 116)

Saat ini kita berada di fase kedua.
Hendaklah tidak terlena.
Masanya tidaklah lama.
Sekadar ketentuan ajal yang telah digariskan. Berbekallah, untuk menjalani dua fase lagi yang pasti dilalui.
Alamnya lebih luas, masanya sangatlah panjang.
Jangan tertipu dunia yang fana, baik sedih atau bahagianya.

(Via: @sahabatmuslimah)

MUDAH MEMAAFKAN

Posted: 1 November 2017 in Sifat-sifat Baik

Sulit dan amat berat bagi hati jika ada yang berbuat salah pada kita, lantas tidak dibalas. Pasti kita punya keinginan untuk membalasnya.

Kalau kita dipermalukan, pasti ingin pula mempermalukannya.

Kalau kita dicela, pasti ingin pula membalas dengan celaan.

Hampir watak setiap orang yang disakiti dan dizalimi seperti itu.

Namun lihatlah betapa mulianya yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika kita dipermalukan dan dihina, maka kita tidak perlu balas dengan menghina dan mencela orang tersebut walau kita tahu kekurangan yang ada pada dirinya dan bisa menjatuhkannya. Biarlah akibat jelek dari mencela dan menjatuhkan itu, akan ditanggung di akhirat.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan tentang hadits di atas:
“Hendaklah setiap orang memiliki sifat mudah memaafkan yang lain. Tidak semua isu yang sampai ke telinganya, ia terima mentah-mentah, lantas ia membenci orang yang menyuarakan isu yang tidak menyenangkan tersebut.

Hendaklah setiap orang memiliki sifat pemaaf. Karena Allah sangat menyukai orang yang memiliki sifat mulia tersebut, yang mudah memaafkan yang lain. Lantaran itu, ia akan diberi ganjaran. Karena jika dibalas dengan saling mempermalukan dan menjatuhkan, pasti konflik yang terjadi tak kunjung usai. Permusuhan akan tetap terus ada. Jika malah dibalas dengan diam, maka rampunglah perselisihan yang sedang berkecamuk.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 4: 297)

Syaikh juga menjelaskan bagaimanakah sifat ibadurrahman:
“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al Furqon: 63)

Syaikh Muhammad membicarakan ayat di atas: “Jika ada orang jahil mengejek, maka balaslah dengan mengucapkan do’a kebaikan untuknya semisal mengucapkan ‘jazakallah khoiron‘ (artinya: semoga Allah membalas kebaikanmu). Lalu berpalinglah darinya. Tidak perlu berbicara dan melakukan hal lainnya.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 297-298)

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

Mujahid berkata bahwa yang dimaksud balaslah dengan yang lebih baik yaitu balaslah dengan berjabat tangan dengannya. (Lihat Hilyatul Auliya’, 3: 299, dinukil dari At Tadzhib li Hilyatil Auliya’, hal. 771)

Sahabat yang mulia, Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- mengatakan:
“Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.”

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan:
“Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yang menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.” (LihatTafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 529-530)

Jika kita mudah memaafkan yang lain,

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

“Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)

(Sumber : https://rumaysho.com/7637-mudah-memaafkan.html)

HARTA YANG BAROKAH

Posted: 31 October 2017 in Knowledge

Secara ilmu bahasa, “Al Barokah” artinya: “Berkembang, bertambah dan kebahagiaan.” (Lisanul Arab oleh Ibnu Manzhur 10/395)

Imam Nawawi berkata: “Asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi.” (Syarah Shohih Muslim oleh Imam Nawawi 1/225)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan gambaran nyata tentang arti keberkahan dalam harta, sebagaimana dijelaskan pada hadits berikut:
“Akan diperintahkan (oleh Allah) kepada bumi: Tumbuhkanlah buah-buahanmu, dan kembalikan keberkahanmu, maka pada masa itu, sekelompok orang akan merasa cukup (menjadi kenyang) dengan memakan satu buah delima, dan mereka dapat berteduh dibawah kulitnya. Dan air susu diberkahi, sampai-sampai sekali peras seekor unta dapat mencukupi banyak orang, dan sekali peras susu seekor sapi dapat mencukupi manusia  satu kabilah, dan sekali peras, susu seekor domba dapat mencukupi satu cabang kabilah.” (HR. Muslim)

Demikianlah ketika rizqi diberkahi Allah, sehingga rizqi yang sedikit jumlahnya, akan tetapi kemanfaatannya sangat banyak, sampai-sampai satu buah delima dapat mengenyangkan segerombol orang, dan susu hasil perasan seekor sapi dapat mencukupi kebutuhan orang satu kabilah.

Ibnu Qayyim berkata: “Tidaklah kelapangan rizqi dan amalan diukur dengan jumlahnya yang banyak, tidaklah panjang umur dilihat dari bulan dan tahunnya yang berjumlah banyak. Akan tetapi kelapangan rizqi dan umur diukur dengan keberkahannya.” (Al Jawabul Kafi karya Ibnu Qayyim 56)

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda:
“Ketika seseorang sedang berada di tanah lapang tiba-tiba ia mendengar suara di awan yang bunyinya, “Siramilah kebun si fulan.” Maka awan itu bergeser dan menurunkan airnya ke tanah berbatu hitam sehingga salah satu selokan di antara selokan yang ada penuh berisi air, maka ia menelusuri ke mana air mengalir, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berdiri di kebunnya yang memindahkan air dengan sekopnya, lalu ia berkata, “Wahai hamba Allah, siapa namamu?” Ia menjawab, “Fulan,” Sesuai nama yang didengarnya di awan.

Lalu orang itu kembali bertanya, “Wahai hamba Allah, mengapa engkau bertanya tentang namaku?” Ia menjawab, “Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang di sinilah airnya (dialirkan) bunyinya, “Siramilah kebun si fulan,” menyebut namamu. Memangnya, apa yang engkau lakukan dengan kebunmu?” Ia menjawab, “Jika kamu bertanya begitu, maka sesungguhnya aku memperhatikan hasil dari kebun ini, sepertiganya aku sedekahkan, sepertiga lagi aku makan bersama keluargaku, dan sepertiga lagi aku kembalikan ke kebun.” (HR. Muslim)

Judul full kajian: kenapa harus tauhid dahulu
Sumber artikel: arifinbadri.com (kiat menjadikan harta berkah)
(Via: @dakwah.vidgram)

Para singlelillah perlu merenung dan memikirkan masak-masak seperti apa kondisi orang setelah menikah.

Coba bayangkan beberapa hal yang terjadi setelah menikah berikut ini, dan tanyakan kepada diri sendiri apakah anda sudah siap untuk menghadapinya, yaitu diantaranya:

(1) Apakah Anda Siap Melepas Kebebasan? Setelah menikah, anda tidak lagi memiliki kebebasan itu.

(2) Apakah Anda Siap Berbagi dalam Semua Hal? Dulu anda naik motor atau mobil sendiri, bisa keluar malam sendiri, kini anda tidak bisa bebas lagi.

(3) Apakah Anda Siap Menaiki “Roller Coaster” Kehidupan? Akan ada banyak sekali suka dan duka yang akan dijumpai dalam kehidupan pernikahan.

(4) Apakah Anda Siap Terkejut Karena Menemukan Hal Baru dari Pasangan? Anda akan terus dikejutkan dengan banyak hal baru dari pasangan yang belum pernah anda ketahui sebelumnya.

(5) Apakah Anda Siap Melihat Sisi Paling Jelek dari Pasangan? Setelah menikah, anda bertemu setiap saat. Tidak ada waktu untuk bersiap diri, karena anda selalu berada bersama pasangan setiap saat.

(6) Apakah Anda Siap Bertemu Setiap Saat? Yakin, anda tidak bosan? Jika siap, berarti anda sudah siap menikah.

(7) Apakah Anda Siap Menyelesaikan Masalah Secara Bersama? Setelah menikah, anda harus menyelesaikan masalah bersama pasangan. Karena anda berdua menjadi bagian yang utuh dan tak terpisahkan.

(8) Apakah Anda Siap Menemukan Tujuan Paling Hakiki dari Pernikahan? Setelah menikah, anda akan menemukan makna dan tujuan pernikahan secara lebih nyata.

(9) Apakah Anda Siap Menghadapi Kerepotan Mengurus Anak?Keintiman anda sebagai suami istri menjadi “terganggu” oleh kerepotan mengurus bayi.

(10) Apakah Anda Siap Terikat oleh Hak dan Kewajiban? Anda terikat dengan hak dan kewajiban bersama pasangan. Setelah muncul anak, bertambah lagi beban dan kewajiban itu.

Bagaimana? Apakah kamu sudah benar-benar siap?

(Via: @cintapositif.id)