Advertisements

Gallery  —  Posted: 12 September 2017 in SURGA

Gallery  —  Posted: 12 September 2017 in SURGA

Gallery  —  Posted: 3 September 2017 in Sifat-sifat Buruk

HARI-HARI MAKAN DAN MINUM

Posted: 2 September 2017 in Iedul Adha

Screenshot_2017-09-01-20-40-40-1-1

Saudara-saudaraku, kita sekarang berada pada hari-hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah. red), hari-hari yang kita dilarang berpuasa, dan dianjurkan untuk makan dan minum serta banyak berdzikir dan mengingat Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa Idul Adha dan hari tasyriq adalah hari kaum muslimin untuk menikmati makanan.
Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Hari-hari tasyriq adalah hari menikmati makanan dan minuman.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda:
“Hari Mina (hari tasyriq) adalah hari menikmati makanan dan minuman.” (HR. Muslim)

Yang dimaksud hari Mina adalah ayyam ma’dudaat, Allah Ta’ala berfirman:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَات

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al-Baqarah:203)

Dan hari-hari makan dan minum bukan berarti kita makan dan minum tanpa batas, atau berlebih-lebihan, karena sifat berlebih-lebihan itu tidakah baik dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Namun ikutilah rambu-rambu Al-Qur’an tentang makan dan minum, Allah Ta’ala berfirman:

وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-A`raaf:31)

(Sumber: bbg-alilmu.com – @alhikmahjkt)

Allah Ta’ala berfirman, “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.
Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a: “Robbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” (QS. Al Baqarah: 200-201)

Dari ayat ini kebanyakan ulama salaf menganjurkan membaca do’a “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” di hari-hari tasyriq.

Do’a sapu jagad ini terkumpul di dalamnya seluruh kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam paling sering membaca do’a sapu jagad ini.

Anas bin Malik mengatakan:

كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Allahumma Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Wahai Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” (HR. Bukhari no. 2389 dan Muslim no. 2690)

Di dalam do’a telah terkumpul kebaikan di dunia dan akhirat.
Al Hasan Al Bashri  mengatakan:
“Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Kebaikan di akhirat adalah surga.”

Sufyan Ats Tsauri mengatakan:
“Kebaikan di dunia adalah ilmu dan rizki yang thoyib. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah surga.”

(Via: @rumayshocom)

Gallery  —  Posted: 2 September 2017 in AL-QUR'AN

Al-Hafizh berkomentar: “Pada hadits tersebut terdapat anjuran bagi wanita untuk keluar menyaksikan dua hari raya, baik mereka itu wanita muda atau bukan, wanita yang berpenampilan menarik atau tidak.

Syekh Ibnu Utsaimin ditanya: “Manakah yang lebih utama bagi wanita: keluar mengikuti shalat id atau tetap berdiam diri di rumahnya?”

Syekh Utsaimin menjawab:
“Yang lebih utama baginya adalah keluar rumah menuju lapangan pelaksanaan shalat id, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para wanita untuk mendirikan shalat id, sampai-sampai para wanita yang baru baligh dan gadis pingitan. Artinya, para wanita yang tidak biasanya keluar rumah pun, beliau perintahkan untuk keluar, kecuali wanita haid. Beliau perintahkan wanita haid keluar rumah, namun memisahkan diri dari tempat pelaksanaan shalat id.

Dengan demikian, wanita haid boleh berangkat bersama para wanita lainnya untuk menghadiri pelaksanaan shalat id, namun mereka tidak masuk ke tempat pelaksanaan shalat id.

Berdasarkan keterangan ini, kami katakan bahwa para wanita yang tidak haid juga diperintahkan untuk keluar menuju shalat id. Mereka mengerjakan shalat sebagaimana para lelaki. Mereka juga mendapatkan kebaikan, seperti ceramah, dzikir dan do’a.” (Majmu’ Fatawa, 16:210)

Beliau juga menjelaskan: “Akan tetapi, wajib bagi mereka (para wanita) untuk keluar dalam keadaan biasa saja, tidak berdandan dan tidak memakai wewangian, sehingga mereka bisa mengerjakan amalan sunnah sekaligus menjauhi fitnah (tidak menimbulkan godaan bagi kaum lelaki, pent.).
Adapun yang dilakukan sebagian wanita, seperti berdandan dan memakai wewangian, maka itu merupakan bentuk ketidak-tahuan mereka dan keteledoran para pemimpin mereka. Meskipun demikian, hal ini tidaklah menghalangi hukum syariat yang umum, yaitu perintah agar wanita keluar rumah menghadiri pelaksanaan shalat id.”

(Sumber: https://muslimah.or.id/2298-wanita-suci-maupun-haid-mendatangi-tempat-shalat-id.html – @celotehmuslim)